December 6, 2011

KKN

After deep talking sepanjang malam dengan salah satu tetangga sebelah kamar bikin aku mikir ulang tentang rencana KKN semester depan. Dia yang mendadak ragu dengan rencana KKN di sabang padahal baru saja pagi tadi kelihatan membabi buta untuk KKN ke sana. Dia yang aku rasa diciptakan denganku dalam 1 kepala yang sama sebab baru saja aku juga ragu dengan rencana KKN ke Sedanau itu.

Well, harapan KKN Sedanau sungguh-sungguh mimpi sejak SMA. Lantas kenapa ragu sekarang? Ada beberapa alasan. Mostly, karena baru cuma Hanip yang berhasil kurayu untuk ikut sesat KKN denganku. Sisanya karena aku merasa berjuang sendirian. Tapi ini mimpiku sendiri, bertahun-tahun semenjak SMA itu. Maka, memang amat sangat wajar jika akhirnya aku merasa berjuang sendirian. Memangnya mengharapkan siapa?

Tapi yang jadi momentum semua keraguan itu ialah kesadaran bahwa itu memang mimpi sejak SMA. 3 tahun dan kurasa Sedanau sudah banyak berubah. Betulkan sudah banyak berubah? Atau jangan-jangan dari awal memang bayanganku tentang Sedanau yang salah? Apapun itu, kurasa Sedanau bukan lagi tempat yang sama, bukan lagi Sedanau yang kubayangkan dulu sewaktu SMA.

Jadi sepanjang malam ini aku mengobrol panjang lebar dengan tetangga sebelahku itu. Tentang Nasionalisme di Tarakan. Tentang KKN daerah Timur. Tentang hasrat untuk KKN di Papua yang harus dipendam dalam-dalam dengan dalih kuat tak terbantahkan; di sana sedang rusuh, melyn sayang. Atau juga harapan KKN bersama seseorang yang diinginkan namun tidak mungkin jadi pilihan. Oh, dan KKN entah kemana dengan salah seorang anak teknik itu sembari berdoa semoga mitos cinlok KKN itu benar adanya xP. Kesemuanya berputar hingga obrolan ini melantur kemana-mana.

Kenapa engga KKN di tempat yang dekat saja?

Pertanyaan ini cukup menggiurkan untuk dijawab dengan anggukan sewaktu menemani Neng Ana kembali ke tempat KKN-nya di Gunung Kidul sana. Ketika serombongan bocah-bocah desa bersepeda menyambut kita dan bersorak gembira memanggil nama kita. Ini kesempatan yang nyaris mustahil terjadi kalau KKN di tempat yang jauh. Apa yang diharapkan dari KKN selama 2 bulan lalu selesai? Kemana follow up-nya? Akan berlanjut apa jerih payahnya?
Keraguan yang sama waktu mendengar cerita Kak Fahmi tentang realitas di desa-desa sekitaran Jogja. Kulon Progo? Gunung Kidul? Bantul?

Bahwa di dekat saja masih banyak yang butuh.

Di Sleman saja bahkan masih ada daerah yang dililit masalah-masalah sosial yang rumit.

Kata Mama, KKN di sekitar Manado sa, biar bisa dijenguk.
Dijenguk? Sedikit-sedikit aku penasaran juga apa rasanya dijenguk. Seumur hidup belum pernah seingatku aku dijenguk. Tapi mahasiswa mana yang sewaktu KKN malah dijenguk orangtuanya? Memangnya ada?

Dan aku baru saja kembali dari grup angkatan 2009, mulai mencari-cari lagi lowongan. Mahasiswa FIB memang langka dicari orang. Jarang-jarang. Tapi ada satu kelompok KKN ke pulau Muna Selatan yang mencari mahasiswa FIB 2 orang. Pulau Muna pertama kali kudengar lewat Meraba Indonesia, buku Kak Adhi yang sewaktu trip Sumatera senantiasa digandeng kemana-mana. Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, dekat Kendari. Hwehe, mungkin aku bisa ke Kendari sekali-sekali. Berkunjung saja, cuma ingin melihat di tempat seperti apa seseorang dari masa lalu itu dulu tumbuh dan menyaksikan sendiri air terjun bidadari tingkat tujuh. Aku tahu motivasiku terlalu nista untuk misi mulia KKN disana, berkunjung saja sudah cukup, (keluar tanduk taring).

Tapi entah, aku masih ingin tempat yang jauh. Kalau bisa malah yang terjauh. Tapi jauh dari apa? Dimana patokannya juga entah.

Untuk menemukan rumah kah?

Kenapa harus mencari yang terjauh dari rumah untuk menemukan rumah sementara aku sendiri engga pernah betul-betul tahu rumah itu dimana.

Jadi jawabannya untuk memperbanyak rumah?

Katakanlah ini namanya egoisme. Aku memang menyebutnya begitu, egoisme. Tapi di tempat yang dekat pun Neng Ana bisa menemukan rumahnya. Sambutan hangat itu, aku engga akan lupa, itu dia yang kusebut rumah, tempat kita menemukan keluarga.

Kemudian terngiang kata-kata itu lagi, yang dekat saja masih banyak yang butuh.

Tapi yang jauh pasti lebih butuh. Iya kan? Yang jauh pasti lebih butuh.

Lagipula,
bagaimana dengan mimpi melihat bintang seperti di langit tibulampit?
Mengulang keterpesonaan seperti di Bira waktu itu. Yang saking banyaknya berkemampuan membuatku menganga-nganga dan nyaris memaksa tidur di beton dermaga. Bagaimana dengan Bima? Nama yang tiba-tiba menempel di kepala dan kedengaran romantis luar biasa. Yang entah dengan bagaimana caranya bisa membuatku berkesimpulan disana pasti bintangnya indah.

Jadi KKN mau lihat bintang, mel? *jedutjedutin kepala ke tembok.


sudah setengah 3.
besok komposisi pagi buta.
su bolos 5 kali, mel! *gaya bicara mama guru

9 comments:

  1. KKN-nya tahun 2013 saja. bareng saya.

    ReplyDelete
  2. mungkin daerah Maluku atau Papua bagian utara, sekitar Biak agak ke timur begitu. mau?

    ReplyDelete
  3. KKN kesana, kamu mau bikin apa? 2013 mungkin papua nggak rusuh lagi apa ya?

    ReplyDelete
  4. proyeknya semacam pembangunan kesadaran maritim di masyarakat gitu. jadi supaya orang-orang timur yang notabene memang rakyat maritim itu diberi kesempatan melihat ketampanan saya (dan mungkin juga kegemukan kamu/kalo mau ikut) agar kesadaran maritimnya meningkat.

    ReplyDelete
  5. terus menurut bayanganmu, peningkatan kesadaran itu akan seperti apa nanti caranya?
    iya, mereka akan melihat kamu semakin tampan, apalagi kalau malam, disana belum ada listrik kan? ;P

    ReplyDelete
  6. kesadarannya tentu dengan bermacam sosialisasi. Seperti misalnya program kkn dengan tema pariwisata; mensosialisasikan kepariwisataan dan membantu menyediakan pra-sarana pariwisata gitu kan? ya pariwisatanya diganti maritim aja. gitu deh gampangnya.
    belum paham? kamu belum follow aku sih.

    ReplyDelete