December 29, 2011

Sang Puteri yang Jelita (setelah revisi)

Ratu duduk di atas kursi besar bersebelahan dengan jendela. Di tangannya ada jarum emas yang dipakai untuk menyulam pakaian dari sutera yang indah. Ia mempercantik pakaian sutera itu dengan benang warni-warni yang dibentuk menyerupai bermacam-macam bunga dan tetumbuhan. Waktu itu musim dingin, salju jatuh seperti kapas yang berguguran, menutupi tanah sehingga taman berlapiskan pakaian bersih nan putih.

Tiba-tiba jarum menusuk jari-jari Ratu, lalu 3 tetes darah jatuh ke atas sekumpulan salju di ambang jendela. Ketika sang Ratu melihat darah yang merah di atas salju yang putih, ia lupa pada sakit akibat tertusuknya, ia berharap ia dianugerahkan seorang anak laki-laki yang putih bagaikan salju, merah serupa darah dan rambut hitam layaknya kayu.

Sampai di suatu hari, Sang Ratu melahirkan seorang bayi perempuan yang rupawan, yang putih bagaikan salju, yang merah serupa darah serta warna hitam rambut yang mirip kayu. Maka dinamakanlah ia "Snow White" yang mana berarti "Yang Putih seperti Salju".

Begitu Sang Ratu meletakkan bayi perempuan ini, ia sakit parah dan sebelum para dokter dapat mengobati serta berhasil menyembuhkannya, ia meninggal. Sang Raja sangat sedih atas kematian istrinya yang setia. Ia melewati hari sendirian sementara bayi perempuannya "Snow White" hidup tanpa ibu yang menyayangi, mencintai, serta merawatnya. Maka sang Raja pun terpaksa menikah sekali lagi tanpa mempertimbangkan apapun kecuali kecantikan. Lalu dipilihkanlah seorang pasangan yang cantik untuknya, padahal orang tersebut sombong, penuh tipu daya, mencintai dirinya sendiri serta membenci siapa pun di dunia ini yang lebih cantik dari dirinya.

Ratu yang baru ini memiliki sebuah cermin ajaib. Ia mendatangi cermin itu lantas bertanya padanya: "Wahai cerminku, adakah di negeri ini seseorang yang lebih cantik dariku?"
Si cermin pun menjawab: "Ratuku, engkaulah yang tercantik di seluruh negeri ini."

Sang Ratu pun puas dengan jawaban tersebut, maka kesombongan meliputi dirinya sebab ia tahu bahwa cermin yang sakti itu tidak berkata-kata kecuali hal yang benar.

Kemudian, Snow White tumbuh besar dengan bekal kecantikan yang ada padanya dan ketika usianya sampai 7 tahun, ia telah lebih cantik dari Ratu yang sombong itu yakni istri ayahnya sendiri.
Sampai suatu hari, Sang Ratu bertanya pada cerminnya yang ajaib: "Cerminku, adakah di seantero negeri ini seseorang yang dia lebih cantik dariku?"
Lalu cermin pun menjawab: "Ratuku, Engkau sungguhlah cantik, namun Snow White ribuan kali lebih cantik dibanding Engkau."

Ketika mendengar jawaban ini, wajah Ratu berubah, ia marah sekali. Hatinya dipenuhi dengan rasa cemburu, kedengkian serta kemarahan. Ia menjadi sangat membenci Snow White dan berkata pada dirinya sendiri: "Snow White harus mati.. Ia harus dibunuh"
Dan sejak hari itu, Sang Ratu tidak dapat beristirahat baik siang maupun malam hari disebabkan oleh kecemburuan, kesombongan, kedengkian serta pikirannya yang terus menerus ingin membebaskan dirinya dari Puteri yang cantik.

Beberapa hari kemudian, Sang Ratu memanggil pemburu yang jahat dan berkata: "Pergilah dengan Puteri ke hutan lalu bunuhlah ia di sana. Aku tidak sanggup melihat ia dibunuh jadi berikan padaku jantung dan hatinya".

Sang Pemburu mematuhi titah Sang Ratu, ia pun pergi dengan Puteri ke hutan. Kemudian ia mengeluarkan pisau belati miliknya dari sarungnya lalu menahan tangan Sang Puteri dan berkata: "Wahai Puteri kecil, aku diperintahkan oleh Ratu untuk membunuhmu dan membawakannya jantung dan hatimu".

Sang Puteri pun terkejut, ia berteriak memohon dan menangis, kemudian berkata pada pemburu: "Jangan membunuhku, wahai pemburu yang baik. Tinggalkanlah aku di hutan ini, aku akan hidup di sini dan tidak akan pernah lagi kembali ke rumah selamanya."

Sang Puteri pada saat itu kelihatan cantik bagaikan musim semi yang bersinar dan memikat. Hati pemburu pun berubah dan menjadi kasihan padanya. Ia berkata: "Baiklah, aku tidak akan membunuhmu, Gadis Kecil". Kemudian pemburu berkata pada dirinya sendiri, "aku akan meninggalkanmu di hutan, tetapi binatang-binatang buas tidak akan membiarkanmu hidup".

Pada saat itu, seekor kambing hutan muda meloncat di dekat mereka berdua. Sang pemburu pun langsung menyergapnya, membunuhnya, mengeluarkan jantung serta hati si kambing, lalu menyelubunginya dengan sapu tangan. Ia pun kembali ke istana dan menyerahkan jantung serta hati tersebut kepada Ratu sebagai jantung dan hati Puteri.

Sang Ratu sangat senang lalu menyimpulkan bahwa Puteri telah dibunuh dan sejak saat itu ia tidak akan tersaingi dalam hal kecantikan. Maka ia berterima kasih kepada pemburu atas kesediaan serta kepatuhannya dan membalasnya dengan pemberian.

Sementara itu, Puteri kecil yang jelita mulai berlari di hutan tanpa arah. Binatang-binatang buas berlalu-lalang di dekatnya tanpa menyakiti maupun menyentuhnya dengan maksud buruk, dan burung-burung yang ada di atasnya berterbangan di depannya, mengajaknya dengan nyanyian mereka yang merdu. Suara burung-burung yang merdu itu menuntunnya ke sebuah jalan yang berkata: "Jika Engkau adalah Snow White, berlari lah ke sini.. datang lah ke jalan ini dan pergilah ke rumah 7 kurcaci.. Engkau akan mendapatkan penjagaan dan kasih sayang dari mereka. Tinggal lah di rumah mereka sampai kembali kepadamu rasa aman dan kegembiraan".

Snow White berlari sembari melihat burung-burung itu hingga ia sampai di rumah 7 kurcaci sebelum matahari terbenam. Ia pun mengetuk pintu tanpa seorang pun menjawabnya. Maka, ia mengetuk lebih keras tanpa mendengar balasan. Lalu ia memanggil dan berteriak dengan keras namun tetap tidak mendengar apa pun kecuali suara-suara yang membuatnya takut.

Jadi ia mendorong pintu dan masuk, lalu menemukan 7 buah gelas, 7 piring, 7 sendok, 7 garpu dan makanan-makanan serta minuman di atas meja makan.

Sang Puteri pada saat itu merasa sangat lapar, ia bermaksud memakan sedikit makanan-makanan yang ada di sana serta meminum sedikit minuman dari gelas-gelas  yang tersedia . Jadi tanpa dilarang oleh satu pun dari penghuni rumah itu ia memakan dan meminumnya. Sesudah itu, Sang Puteri pun kenyang, lalu ia mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah dan melihat 7 buah tempat tidur kecil...

*Tugas Akhir Matakuliah Terjemah. Bersiap menyambut Terjemah II
Bismillah :)

1 comment: