December 16, 2011

sebenarnya ia gila

Hari ini aku menemukan bahwa ternyata kata gila dapat menjadi alasan rasional untuk banyak peristiwa. Ketika menemukan orang gila yang makan kotoran, bukankah hal itu menjadi masuk akal? Mana ada orang waras yang makan kotoran. Ketika ada orang gila yang mengaku presiden, bukankah hal itu juga dapat dimahfumkan? Semua itu karena gila.

Begitu juga kejadian 2 hari lalu. Karena ia gila, dan itu sudah cukup.

Sering, aku berpikir bahwa selain menjadi anak kecil, menjadi orang gila mungkin ada enaknya juga. Bisa bebas melakukan apa saja. Yang pertama tidak akan dituduh gila. Yang kedua, tentu saja akan sering disebut gila tapi peduli apa? Orang gila betulan tidak akan peduli tentang itu, segila apapun ia disebut. Tapi yang perlu dipikirkan itu memang orang-orang terdekat kita. Seperti apa perasaan mereka setiap kali kita yang gila mengganggu ketertiban umum? Merusak ketenangan masyarakat? Bagaimana perasaan mereka setiap kali orang-orang menyebut kita gila karena perilaku kita yang gila? Dan bagaimana mereka bersabar menanggapi kegilaan-kegilaan kita?

Maka beruntunglah kita yang masih memiliki nikmat sehat, nikmat waras.

p.s: Saya bersedih untuk kamu, Mbak. Untuk suami kamu, dan untuk janin yang sekarang ada di perut kamu. Sungguh!

Semoga tetap bersabar. Semoga dapat kembali sehat.

1 comment:

  1. saya gila.
    baca selengkapnya dengan mengikuti blog saya.

    ReplyDelete