December 30, 2011


Sebenarnya saya sedang agak malas berhubungan sangat dekat dengan seseorang, walaupun sebenarnya juga agak rindu. Hubungan terakhir saya dengan seseorang berakhir tidak seperti yang seharusnya, tepat ketika saya yang awalnya mandiri dan baik-baik saja mulai ketergantungan. Suatu kali pernah saya terseret pada hubungan dekat dengan seseorang yang baru, tapi sebelum itu bergerak semakin jauh, entah kenapa keadaan jadi berbalik ke awal. Tapi saya mensyukurinya, saya pikir ini kejatuhan kecil untuk menghindari kejatuhan yang lebih besar, yang jauh lebih fatal.

Jadi saya mulai baik-baik saja dengan sendirian. Saya mulai biasa, walaupun ada suatu masa ketika ini menyembul lagi dan rasanya nyeri. Tapi itu cuma soal ingatan, saya cuma tidak perlu mengingat-ingatnya lagi. Dan seperti ini memang jauh lebih baik. Saya kan tidak bisa memaksa seseorang untuk bergerak lambat sesuai kecepatan saya sementara ia ingin melesat. Saya tidak punya hak menahan seseorang dari apa yang ia inginkan . Dan saya juga tidak bisa memaksa seseorang memilih bersama saya padahal sebenarnya ia begitu ingin bersama yang lain. Jadi karena terus menerus menjadi yang tidak dipilih itu sakit, saya memutuskan keluar dari pilihan.

Ada hal tentang kesetiaan yang pernah diajarkan seorang sahabat saya di SMP dulu yang membuat saya rindu. Saya kangen masa SMP itu, kedekatan-kedekatan di masa lalu yang selalu bisa jadi penyembuh. Di SMP dulu juga tetap ada rasa sakit, tapi di kuliah ini, rasa sakitnya complicated.

4 comments:

  1. kamu berharap aku selalu ada untuk mengomentari blog-mu tanpa kamu mem-follow-ku begitu? egois.

    ReplyDelete
  2. bang hil: ini bukan galau!

    timur: jadi begini ya timur yang baik, aku enggak pernah berharap kamu selalu komen di blog ku, aku enggak pernah maksa kamu baca blogku, dan kenapa aku enggak juga follow blog kamu, ya itu suka-suka aku. ini blog juga blog aku.

    ReplyDelete
  3. wah. panas nih. bukain jendela dong... wkwkwkw

    ReplyDelete