December 12, 2011

semacam ucapan terima kasih

Hari ini rasanya aku dikelilingi tembok. Ada batu besar menempel di kepala, efek samping dari baru tidur jam 3 pagi buta dan mual semalaman mengerjakan tugas terjemah.
Jadi beginilah, 1 hari ini rasanya kepingin marah-marah. Tapi sama siapa?
Jadi akhirnya aku cuma bisa menyandarkan kepala yang terasa berat itu pada apapun; dinding, sandaran kursi, meja tulis, apa pun.

Satu hari tadi rasanya memang berat sekali. Sudah kepingin pulang tapi masih harus latihan. H-2 hari tapi gerakan dan formasi masih ganti-ganti. Terserah saja, kepalaku udah mau pecah. Jadi akhirnya baru 1 kali coba gerakan aku sudah merengek minta selesai. Daripada tetap disitu dan membuat orang lain kesal dengan mukaku. Hari ini aku memang menyebalkan.

Tapi obat itu ada pada malam. Ketika akhirnya aku mengiyakan ajakan sesat Noura untuk makan ayam brekeley di kantin gelanggang, yang kemudian karena keburu kehabisan akhirnya malah memilih mendamparkan diri di tempat makan sebelahnya.Yang penuh dengan meja dan bangku-bangku cokelat itu. Tadinya ini mengecewakan, tapi penghiburan itu ada dalam bocah-bocah tiga tahunan yang berkeliaran. Mereka yang menyebutkan nama saja masih terbata jika ditanya. Aku sudah pernah cerita kan soal tabiat rata-rata anak kecil di kota ramah ini. Mereka tidak pernah takut orang asing.

Dan obat juga ada dalam cerita-cerita Noura.

Tiba-tiba aku jadi kangen transjogja. Sudah berbulan sejak terakhir kali aku naik bus hijau besar itu.

Noura punya alasan sama kenapa ia suka naik transjogja. Dia yang setiap hari menggunakan transjogja untuk pulang pergi kampus rumah. Sebab rata-rata penyandang cacat biasanya menggunakan transjogja. Para orang buta.

Pernah ada seorang Ayah buta dengan anaknya yang terbelakang mental, saling berpelukan. Tergambar di kepalaku nyaris seperti sketsa 2 kepiting melawan dunia. Mereka yang bertahan dan saling berpegangan tangan, adakah si Ayah itu tahu bahwa mental anaknya terbelakang? Lantas ketika si anak minta dikupaskan jeruk dan si Ayah mengupaskannya dengan perlahan, bisakah si anak tahu bahwa Ayah yang selalu diandalkannya itu harus meraba sebelum berjalan?

Atau kisah sepasang suami-istri buta yang merayu-dirayu diatas transjogja. Kalau saja suami itu tahu betapa wajah istrinya sumringah dan memerah akibat kata-kata manis yang keluar dari mulutnya, pasti wajahnya akan berusaha setidak-tidaknya mengimbangi manis pada kata-katanya, menambahkan sedikit ekspresi disana. Atau barangkali, jika saja si Istri tahu betapa datar ekspresi suaminya mengucapkan kata-kata rayu itu, wajahnya mungkin tidak perlu menjadi semerah itu.

Maka selanjutnya mari hanturkan terima kasih pada malam. Untuk kesempatan berhujan-hujanan dalam gerimis agak lumayan di sepanjang jalan kaliurang. Lampu-lampu jalan kuning yang membuat kejatuhan air langit jadi bisa diamati. Juga sorot lampu yang melesat-lesat itu, yang membuat hembusan angin jadi ketahuan kemana arahnya. Yang menjadikan tetes air hujan bisa kelihatan sejelas laron-laron yang terbang di sekitar cahaya.

Terima kasih untuk menutup hari yang tadinya berat ini dengan indah.
Kepada malam, Pemilik Malam.

No comments:

Post a Comment