January 15, 2012

untuk tetangga sebelah kamar

Aku rasa sedikit-sedikit aku mulai paham rasanya menjadi kamu.
Lewat cerpen yang kamu buat itu, lewat Alaya
Tadinya aku anggap kamu salah satu perempuan bodoh di dunia. Ingat kan kata-kata yang pernah kubilang, yang pernah kutitipkan lewat sebuah postingan, itu kata-kata seorang teman yang juga aku iyakan, bahwa perempuan tidak boleh menjadi bodoh.

...karena perempuan sudah terlanjur bodoh tanpa harus menjadi bodoh.

Tapi sekarang aku sadar bahwa kamu bukannya bodoh. Kamu cuma... tenggelam. Sudah terlanjur jatuh dan sulit kembali ke permukaan. Barangkali tidak tahu caranya. Barangkali memang karena di dasar lebih menyenangakan.
Kamu terpikat, terikat, tidak bisa pulang.

Ini semua juga bukan hal yang gampang buat kamu, kan?
Maaf ya aku baru bisa paham sekarang. tapi kamu harus tahu bahwa aku cuma tidak tahan melihat kamu bertahan di posisi itu. Di titik menunggu.

Tapi aku bisa apa kalau ternyata bagi kamu bertahan itu sakit tapi melepaskan ternyata lebih sakit? Bahwa kesakitan dalam bertahan itu malah lebih dapat ditanggungkan daripada melepaskan?
Bahwa ternyata kamu sudah sedemikian jatuh untuk dia yang  tadinya memberi harapan tapi kemudian mencampakkan.

Bahwa kamu ternyata sudah terlanjur punya terlalu banyak kenangan yang terlampau manis untuk diperlakukan sama seperti dia mencampakan kamu.
Dan apa yang sudah dilakukannya itu membuatmu lemah dan sakit di waktu yang sama. Mencintai sekaligus membencinya. Membuatmu pecah.

Bahwa kamu sesungguhnya kehilangan tenaga,
Tidak berdaya.


bahkan sekarang aku melihat kamu seperti melihat ini.
Bukan menggantung, tapi bertahan.

Sincerely,
tetangga.

1 comment: