February 15, 2012

4siblings#2 full -revisi ketiga


Aku menghitung deretan anak tangga yang menurun curam ini satu-satu. Sudah sampai di hitungan seratus tiga puluh, sudah hampir menyentuh dasar. Kak adhi masih di puncak, menatap ragu-ragu pada anak tangga - anak tangga curam berkemiringan 60 derajat. Berdiri tegak menghalangi terang matahari tepat di depan lubang pintu masuk lobang Jepang. Aku sudah di dasar.
“Kak Adhi, nggak masuk?!” seruku padanya dengan berteriak, berharap suaraku sampai ke atas. Kak Nadia dan Bang Hilmy kontan langsung mendongak. Suara kalengku yang eksotis sukses mengganggu kekhusyukan mereka menghitung anak-anak tangga.
“%$#)(@#!(*)^&” entah apa yang dikatakan Kak Adhi, jarak yang panjang membuat sahutannya sampai telingaku tinggal potongan-potongan kata yang tidak punya arti. Tapi kemudian, kulihat Bang Hilmy kembali naik ke atas, menuju Kak Adhi. Mereka bercakap-cakap, dari bawah sini, mereka kelihatan seperti dua siswa SMA yang sedang melakukan transaksi narkoba. Wajah berumur mereka tidak kelihatan, tubuh kurus dibalut kaos dan jins mereka terlihat seperti siluet seragam sekolah di dalam gelap.
Aku dan Kak Nadia saling tatap, kepalaku bergerak mengirim pertanyaan, aku tahu Kak Nadia paham, bahunya terangkat sebagai jawaban. Tak lama, Kak Nadia yang saat itu sudah sampai di tengah akhirnya memutuskan naik ke atas lagi. Menyusul Bang Hilmy.
Jadi, di sinilah aku sendiri, 40 meter di bawah tanah dan berjarak 64 meter dari mereka. Gamang, antara ikut menyusul juga atau diam menunggu di bawah. Aku penasaran juga seperti Kak Nadia, tapi 132 anak tangga?
“&^&%(*(($%#?” suara Kak Nadia samar-samar kedengaran, tapi intonasi dan kalimatnya sudah dihapal oleh kepalaku. “Ada apa, mas?” itu pasti pertanyaannya di atas. Lalu Bang Hil yang menjawab, dari bawah sini memang cuma kelihatan siluet, cahaya matahari di belakang mereka bikin silau, tapi badan dan kepala Bang Hilmy bergerak ke arah Kak Nadia, itu dia tandanya. 19 tahun tinggal bersama, membuatku tanpa sengaja mempelajari tabiat mereka.
Lama mereka bercakap-cakap, kelihatan seperti setengah berdebat. Sampai kemudian intonasi Kak Nadia tiba pada warna yang kutandai “waspada”. Aku tahu sesuatu sedang bergerak panas di atas. Sejak kecil kami termasuk jarang bertengkar, maksutku bertengkar yang serius, kalau saling meledek siapa paling malas mandi dan siapa paling tukang tidur, itu sih bercanda. Tapi kadang-kadang kami bertengkar serius juga, intensitasnya sedikit di atas rata-rata untuk Bang Hilmy dan Kak Nadia. Aku dan Kak Adhi menyebutnya bawaan lahir. Sejauh yang bisa kuingat, aku belum pernah melihat yang lain bertengkar. Kak Adhi termasuk tipe yang menghindari pertengkaran, jenis apa pun, termasuk juga meledek, mungkin menurutnya meledek itu memicu pertengkaran. Sementara aku, kadang-kadang bertengkar juga dengan Bang Hil, cuma 1 kali, dan itu lebih cocok disebut perang dingin dibanding bertengkar.
“Tapi si Melyn udah di bawah, Mas. Mas ndak kasihan?” aku tiba di atas tepat ketika namaku disebut-sebut. Hawa panas perdebatan mereka begitu mengganggu ketika bercampur dengan hawa dingin di dasar lubang, pada akhirnya membuatku lupa pada  anak tangga-anak tangga yang berjumlah 132.
Bang Hilmy tersenyum senang, “Itu si Melyn udah di atas Nad.” Matanya tepat terarah pada belakang punggung Kak Nadia: kepadaku!
Kak Nadia membalik badan, bersamaan dengan firasat tidak enak yang dengan refleks membuatku mundur ke belakang, tanganku mencengkram pegangan besi dingin yang membelah jalur masuk ini menjadi 2. “Kamu ngapain naik ke atas, mel?”
Oke, ini namanya peluru nyasar. Aku diam saja, merespon pertanyaan Kak Nadia yang dilontarkan sedikit melebihi kadar intonasi bertanya. Kalau kubilang “ini gara-gara kalian berantem!” sama saja cari mati.
“Perasaan Adhi ndak enak, Nad.” Intonasi Bang Hilmy melembut, entah karena lelah berdebat atau karena kasihan melihat aku yang tak berdosa terikut masuk ke dalam pertengkaran mereka.
“Iya, tapi menurutku itu ndak rasional, Mas. Lagipula, kita kan udah bayar untuk tiket.”
“Ya ndak papa, kita kan memang kolektor tiket. Anggap aja udah untung nambah 1 tiket di buku album.”
Ini yang kusebut bawaan lahir. Setahuku, yang awalnya menolak masuk tadi Kak Adhi, kenapa sekarang yang jadi bertengkar malah Kak Nadia dan Bang Hilmy? Kalian heran? Ibu-Bapak kami saja tidak paham. Aku melirik Kak Adhi dengan pertanyaan “kenapa jadi mereka yang berantem, kak?” tertato di wajah, Kak Adhi menjawab dengan gelengan kepala.  Tiba-tiba Kak Adhi tersenyum jahil, menulariku dengan rasa lucu yang cuma kami berdua yang tahu “namanya juga bawaan lahir! Iya, ini pasti bawaan lahir.” Dalam diam kami sepakat untuk membiarkan, ini masih panas-panasnya, turun tangan menyelesaikan pertengkaran mereka bahayanya sama dengan berusaha menghentikan tawuran di jalan raya.
“Kamu inget kan Nad waktu kita di solo kemarin, aku larang kamu sama Melyn keluar malam itu. Aku udah firasat, Nad. Tapi faktanya? Soal dampaknya juga kalian sendiri sudah tahu seperti apa. Ingat, kita ke sini bukan ingin cari masalah.”
“Oh jadi maksud Mas Hilmy, kejadian di solo kemarin, aku yang sengaja cari-cari masalah?”
“Bukan gitu, Nad. Tapi..”
“Wis, wis, yo mbok sesama saudara itu akur toh Nad, Hil. Kelamaan nih mereka berantemnya, Mel. Udah, kita tinggal aja!” kata Kak Adhi tiba-tiba memotong pertengkaran mereka.
Aku yang saat itu sudah berdiri di sebelah Kak Adhi terperanjat. Khawatir akan terkena peluru nyasar lagi membuatku memilih menyingkir diam-diam lewat jalur yang sebenarnya untuk naik,  “bukannya tadi katanya perasaan Kak Adhi nggak enak?”
“Tadinya. Tapi nonton mereka berantem gini, kayaknya yang terburuk udah lewat,” Kak Adhi menyahut ringan, melangkah menuruni anak tangga-anak tangga curam, meninggalkan Kak Nadia, bang Hilmy dan aku yang bengong serempak di belakang.
Kalau kubilang dalam hal bertengkar kami termasuk jarang, Kak Nadia dan Bang Hilmy sudah tentu pengecualian, bertengkar bagi mereka nyaris seintens bernafas. Mau bagaimana lagi? Tipe keras kepala macam Kak Nadia dipertemukan dengan Bang Hilmy yang agak suka mengatur, hasilnya apalagi kalau bukan adu mulut. Tapi seperti antasida yang dapat menetralkan asam, untungnya kami berempat punya Kak Adhi yang selalu mengademkan. Yap! Dengan caranya!
 “Sial, Mas! Memangnya kita topeng monyet, berantem malah ditontonin,” Kak Nadia berbisik pada laki-laki yang senang mengaku tampan yang juga sedang berjalan di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan orang yang baru saja menjadi lawan adu mulutnya. “Iya, Nad. Padahal juga kan kita berantem gara-gara siapa. Pokoknya awas aja dia!” balas Bang Hilmy penuh dendam.
Aku mengikuti mereka sambil mengikik, apa tadi kubilang? Kak Adhi itu antasida, bahkan lebih sakti, kalau antasida cuma bisa mengobati, Kak Adhi punya cara sendiri yang bisa membuat keadaan 180 derajat berubah. Lihat saja, Bang Hilmy dan Kak Nadia yang tadinya berseteru, sekarang bersekutu.
“Makanya Bang, jadi orang harus cinta damai,” teriakku sambil berlari mendahului mereka. Ini salah satu tindakan cari mati, tapi ini adalah tindakan cari mati yang tetap akan kulakukan, kesenangannya setimpal.
“Hoi, tukang adu domba, tungguuuuuu!” Bang Hilmy berteriak, kubayangkan ia bersiap-siap mengejar di belakang. Tapi terlambat, aku di depannya sudah meraih pegangan besi dingin yang membagi dua tangga, meluncur turun di atasnya. Hemat tenaga.
“Hoi, jangan rusuh! Bayar juga cuma 5 ribu!” tegur Kak Nadia dari belakang. Aku tersedak mendengar kata-katanya. Metode dan substansi saling berkhianat. Siapa pun pasti setuju bahwa volume yang dipakai Kak Nadia lebih dari cukup untuk dikategorikan sebagai “kerusuhan”. Tapi terlepas dari itu yang dikatakan Kak Nadia memang ada benarnya. Kami di sini, di sebuah tempat wisata bersejarah milik pemerintah, bertengkar, berteriak, berseluncur di pegangan tangga serta saling mengejar seperti di tempat milik sendiri, dan kami tidak membayar lebih. Teriakan dan tawa kami bergema dimana-mana, untungnya selain kami berempat, belum ada pengunjung lain di Lubang Jepang.
Udara di sini dingin, tapi berbaikan setelah bertengkar ternyata menghangatkan.

***
                                                                                                                                      
Aku meraba dinding-dinding dingin yang sudah di semen kasar sembari mendengarkan cerita Kak Nadia tentang sejarah Lobang Jepang. Di antara kami berempat, memang Kak Nadia yang paling suka sejarah, Bang Hilmy saja kalah. Spesifikasi Kak Nadia lebih pada bangunan-bangunan tua, sementara Bang Hilmy, mungkin pada tokoh pergerakan dan peristiwa sejarah. Itu lah kenapa dalam setiap perjalanan kami, kunjungan ke museum selalu masuk ittinerary. Ini nilai plus bagiku dan Kak Adhi, dengan begitu kami tidak perlu terlalu sering menyewa guide hanya untuk menceritakan tentang sejarah tempat tertentu.
“Kamu tau ndak, Mel, dulunya lobang Jepang ini cuma selebar 20 sentimeter. Seenggaknya itu yang kelihatan pada gambar-gambar di buku-buku sejarah. Beda banget kan sama diameter lobang jepang sekarang yang lebarnya hampir sekitar 4 meter. Itu memang sengaja disesuaikan sama postur tubuh tentara Jepang yang ramping-ramping.”
“Wah, berarti dulu kamu ndak bisa masuk sini, Mel.” Tiba-tiba suara Bang Hilmy menyambar dari belakang, menjeda penjelasan Kak Nadia dengan sempurna. Aku tahu betul, pasti kata ramping itu pemicunya. Kak Nadia dan Kak Adhi di belakangku tertawa.
“Eh, tapi kalau 20 sentimeter, kita berempat juga nggak bisa masuk, Hil. Iya kan, Nad?” suara Kak Adhi tertangkap telingaku yang berjalan paling depan. Betul kan apa yang kubilang, Kak Adhi memang antasida.
“Celah ini buat apa Kak?” tanyaku heran sambil menunjuk salah satu celah di dinding.
“Itu echo, mel.”
“Oh, ini echo? Tak kira tadi cuma ornamen buat variasi aja, biar enggak terlalu polos,” Kak Adhi menyahut, suaranya kedengaran takjub.
Aku membalik badan dengan dahi berkerut, “celah ini namanya Eko?” menunjuk celah yang entah bagaimana ceritanya menjadi bahan gosip kami berempat. “Lucu ya, kayak nama orang Jawa, padahal di Sumatera.”
Tawa Kak Nadia, Bang Hilmy dan Kak Adhi pecah serentak. “Echo itu peredam suara, adikkuuu.... bukan nama," jelas Kak Adhi dengan gemas. "Kalau eko yang kamu sebut itu sih, tetangga kita yang tentara waktu di Aceh dulu. Coba deh lihat, celah itu ada setiap satu meternya, untuk meredam suara.” 
“Iya, Mel. Echo itu peredam suara, bukannya nama. Tapi memang iya sih, para pekerja untuk pembuatan bunker ini dulunya memang sengaja dikirim dari luar Sumatera, salah satunya Jawa.”
“Supaya kalau ada Romusha yang berhasil melarikan diri, dia ndak bisa membocorkan rahasia keberadaan bunker ke penduduk setempat karena kesulitan berkomunikasi, kan Nad? Jadi Mel, kalau kamu mau ngasih nama celah itu Eko juga ndak papa. Siapa tahu orang yang buat celah itu dulu orang jawa dan namanya Eko,” sambar Bang Hilmy sambil mesem-mesem cengengesan.
“Iya, Mas. Tumben, Mas Hil pinter. Bunker ini kan dulu dibuat dari tahun 1942 sampai 1945 sebagai pusat segala kegiatan pertahanan selama perang Dunia ke II dan perang Asia Timur Raya. Jadi, lorong-lorong ini dulunya merupakan ruangan-ruangan yang dipakai untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk tempat simpan amunisi, tempat penyiksaan, tempat pengintaian, tempat penyergapan, dapur, penjara, juga bilik serdadu militer tentara Jepang. Dan celah-celah di setiap satu meter ini gunanya untuk meredam suara romusha atau tahanan yang disiksa supaya ndak menganggu pekerjaan Romusha lain maupun para tentara Jepang yang ada di sini. Ndak heran, tahun 1946 waktu Lobang Jepang ini akhirnya ditemukan oleh warga sekitar, ada banyak tulang belulang manusia yang berserakan di sepanjang lorong. Serem ya?” Kak Nadia semangat sekali bercerita tentang Lobang Jepang kepada Kak Adhi dan Bang Hilmy yang juga begitu seru mendengarkan sampai-sampai tidak ada yang sadar pada aku yang tertinggal di belakang.
Aku masih di tempatku berdiri tadi, meraba celah kecil yang kata Bang Hilmy boleh-boleh saja kunamai Eko, setengah membayangkan jari-jariku dapat menangkap jerit-jerit penyiksaan yang harus diserap Eko berulang-ulang agar dapat teredam. Lalu bertahun kemudian, ketika bunker ini akhirnya ditemukan, ada tulang belulang Eko pembuatnya di atas tanah yang kupijak, berserak di bawah celah yang ia buat.
****
Kak Adhi dan yang lainnya sudah tidak ada ketika akhirnya lamunanku terhenti akibat bulu kuduk yang bergidik ngeri. Dengan agak panik, mataku segera mencari-cari keberadaan mereka. Lubang Jepang ini sebenarnya sudah cukup terang dengan lampu-lampu neon yang dipasang di sepanjang sisi kiri dan kanan, namun tetap saja tidak mengurangi efek mencekam. Aku menyusuri lorong dingin ini dengan langkah-langkah lebar dan tergesa, setidaknya selebar mungkin yang kubisa.
“Mereka tadi belok kiri,” sebuah suara membuat langkah-langkah lebarku terhenti. Suaranya seperti tersenyum, aku menoleh, seorang anak laki-laki kurus dengan kaus warna cokelat dan celana beberapa senti melewati lutut berdiri 3 meter di belakangku.
“Oh,” aku menemukan mulutku mendesah begitu saja, entah karena informasi yang diberikannya atau keterkejutan akibat keberadaannya. Ternyata yang ada di sini bukan cuma aku dan saudara-saudaraku saja.
“Tadinya itu bilik militer,” katanya tiba-tiba, seperti sengaja mencegahku terperangah lebih lama. Aku menatapnya dengan bingung. Apanya yang bilik militer? Seperti paham, kepalanya bergerak menunjuk sebuah lubang yang berada tepat di sebelah kiriku. Badanku pasti punya sistem refleks yang sangat baik karena tiba-tiba saja seluruh tubuhku sudah menoleh ke kiri demi melihat lubang yang disebutnya bilik militer, kemudian tersentak membaca tulisan di atasnya yang bercahaya, “mini teater?”
“Konyol ya,” katanya sambil tersenyum aneh, aku mereka-reka, ada sedikit nada bertanya dalam suaranya, tapi caranya menyatakan itu jelas-jelas bukan pertanyaan, aku memutuskan lebih cocok disebut meminta persetujuan. “Di tempat macam ini ada mini teater,” lanjutnya dengan geli.
“Mini teater buat nonton film apa dulu?” sahutku sambil melangkah masuk, “kalau buat nonton film-film yang ada di bioskop mah memang aneh, tapi kalau film-film dokumenter tentang sejarah penjajahan Jepang di tanah Minang, ya kan nggak papa. Bagus malah. Aku pernah tuh, waktu ke dieng nonton film dokumenter yang diputar di semacam mini teater kayak yang mau dibuat ini, ” aku mengedarkan pandangan dalam ruang bekas bilik militer yang lumayan luas ini: gelap, kosong, dingin. Lampu neon yang disediakan memang cuma dipasang di lorong utama, dan meskipun jumlahnya banyak namun tetap tidak bisa sampai menerangi ruang-ruang yang ada di sisi kanan dan kiri lorong utama, anak laki-laki itu ada di situ, tepat di bawah cahaya lampu neon yang menerangi sepanjang lorong.
“Filmnya tentang sejarah terbentuknya dataran tinggi dieng, kawah-kawah beracun di sana, kebudayaan, kesenian, mitos,” sebutku dengan lambat satu per satu “dan menurut aku itu bermanfaat banget,” lanjutku kemudian dengan sungguh-sungguh sambil menatap ke arahnya, menunggunya bereaksi.
Dia melangkah masuk, kepalanya berputar dan mengarah ke atas, memperhatikan langit-langit ruang yang karena gelap jadi kelihatan tanpa batas. “Mungkin, kalau kamu punya kenangan berharga di tempat ini, kamu nggak akan serela itu dan dengan gampangnya setuju tempat ini dirubah jadi sesuatu yang berlainan jauh,” kepalanya beralih ke arahku, “membiarkan fungsinya berubah, sama aja dengan membiarkan perasaan kamu mengenang enggak lagi sama,” saat ia mengatakan itu, bisa kurasakan tatapannya yang tajam sedang merajangku.
Aku baru saja akan membuka mulut ketika suara yang sudah bertahun-tahun kukenal memecah keheningan.
“Melyn?”
****
Ternyata namanya Eko, bisa kulihat 6 biji bola mata milik ketiga kakakku hampir copot ketika anak laki-laki itu memperkenalkan diri. Dia mengatakan ‘cih!’ ketika kutanyakan apa ia guide Lobang Jepang atau bukan dan memasang wajah aneh sewaktu Kak Nadia menyimpulkan bahwa berarti ia pengunjung juga sama seperti kami. Faktanya adalah, Eko sama sekali bukan pengunjung. Ia tidak punya karcis!
Aku menatap wajah Kak Adhi yang kelihatan aneh. Mulut mengatup dan kening berkerut itu. Kutebak, dalam diam ia pasti mempertanyakan cara Eko masuk ke Lubang Jepang. Kak Adhi memang suka mempertanyakan hal-hal yang aneh, kalau tidak bisa dibilang tidak penting.
Awalnya kita memang tidak akan menyangka sampai ia mencetuskan sendiri kebingungannya, baru kemudian terpingkal-pingkal mendengar dugaan-dugaannya yang didengungkan dengan cara berfilosofi yang lucu sekali. Jawaban-jawaban atas kebingungannya itu, memang tidak perlu serius-serius ditanggapi, itu memang untuk Kak Adhi sendiri.
“Ini sekarang kita kemana?” tanyaku ketika akhirnya tiba di ujung lorong yang merupakan pertigaan. Aku melongokkan kepala ke kiri dan ke kanan, mengira-ngira. Lorong sebelah kiri tampaknya tidak begitu panjang. Dari tempat kami berdiri sekarang, aku bisa melihat cahaya di ujungnya. Cahaya itu masuk dari sebuah lubang yang dipasangi jeruji.
“Tadi kami udah ke sana, Mel. Tapi kalau kamu kepingin ke sana, ya ndak papa. Gimana, mas?” Kak Nadia meminta persetujuan Kak Adhi dan Bang Hilmy.
“Ya terserah, kita juga ndak buru-buru toh Nad?”
“Kamu maunya gimana, Mel?”
Aku terdiam memikirkan pertanyaan Kak Adhi, menimbang-nimbang, “memang di sana ada apa?” tanyaku.
“Ruang sidang.” Suara yang asing tiba-tiba terdengar. Pelan, seperti mengandung ketakutan, dan jauh. Suara Eko! Anak itu berada di sebelahku, pucat dan membeku. Tadinya kupikir itu jawaban dari pertanyaan, tapi tubuhnya yang menegang lebih mirip seseorang yang sedang dipaksa mengenang sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku dan kakak-kakakku saling tatap, dalam kepala kami berempat, pertanyaan yang sama terlontar tanpa dapat dicegah,  kenapa dia?
***
“Dulu dia melarikan diri lewat sini.”
Untuk yang kedua kali, bocah yang belum sampai 2 jam kukenal ini bertingkah lagi, padahal belum sampai 10 meter kami berpindah dari tempat sebelumnya. Tubuhnya lagi-lagi seperti membeku di tempat. Matanya menatap lekat pada sebuah lubang berdiameter kecil diatas kepala kami. 10 meter masuk ke lubang itu ada lubang bercahaya yang sama, juga dengan pagar. Tiba-tiba tanganku disenggol Bang Hilmy, matanya hampir mau keluar sewaktu memintaku memeriksa tas lewat gerakan dagunya. Aku cepat-cepat menarik risleting tas samping kecil dari bahan rajutan yang baru tadi kubeli di kios toko oleh-oleh yang ada di taman panorama. Meraih hape, ada 3 buah pesan yang menunggu dibuka. Aku mengerutkan kening, 40 meter di bawah tanah begini seharusnya mustahil mendapatkan sinyal. Kubuka ketiga pesan itu dengan perasaan aneh. Dari Kak Adhi, Kak Nadia dan Bang Hilmy.
“Ni bocah kenapa nggak jauh-jauh aja sih? Nyeremin.” Sms Kak Adhi.
“Anak ini aneh banget, Mel. Kamu nemuin dia tadi dimana?” Yang ini sms Kak Nadia
“Mel, kamu tanggung jawab! Kamu yang bawa-bawa dia!” Ini sms dari Bang Hilmy.

Hebat! Ketiga kakakku ini diam-diam sepakat meminta pertanggungjawaban selagi aku terpana dengan bocah misterius ini. Pada faktanya mereka bertiga memang benar, anak laki-laki ini memang aneh. Aku memasukkan hape tanpa membalas, menatap mereka dengan bingung dan merasa bersalah. Eko masih mengarahkan matanya pada lubang yang hanya bisa dilalui dengan merangkak itu, panjangnya memang cuma sekitar 10 meter, tapi pandangannya seperti melesat, jauh melewati terang cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jeruji. Entah kenapa aku jadi teringat pada kata-kata terakhirnya tadi, apa katanya? Dia? Dulu dia melarikan diri lewat sini. Dia siapa?
Tiba-tiba anak itu tersadar. Tangannya yang mengepal sedikit terangkat, pertengahan telunjuknya menyentuh mulut, dibersihkannya tenggorokan dengan suara berat, seperti mengeram. Aku melihatnya seperti sedang berpikir, lalu mulutnya kelihatan membuka.
Bisa kurasakan aku, Bang Hilmy, Kak Adhi dan Kak Nadia berdebar-debar menunggu apa yang akan dilakukannya.
***
“Serius deh, kamu nemu anak itu dimana sih, dek?” Kak Adhi langsung memberondongku dengan pertanyaan yang bisa kupastikan sudah menggumpal di kepalanya sejak berjam-jam tadi  begitu kaki kami menjejak puncak tangga teratas jalur keluar Lobang Jepang.
Aku memutar mata dalam nafas yang tersengal, “Nemu-nemu! Orang waktu kalian ilang dia udah tiba-tiba ada di belakang Melyn,” kataku sambil mengayunkan langkah, destinasiku jelas, sebuah kursi panjang yang berada dekat pintu keluar.
“Bukan kami yang ilang, Mel, kamu.” Suara Kak Nadia tiba-tiba menyambar, senyumnya melebar, geli dengan kata-kataku tadi yang menurutnya sangat perlu dikoreksi. Di belakangnya, Bang Hilmy tertawa, “bener, Nad. Kalo soal hilang atau nyasar, serahin ke Melyn aja, dia kan ahlinya. Minta minum dong, Dhi,” katanya pura-pura memuji padahal jelas-jelas menghina, lalu mengalihkan kepala ke Kak Adhi di sebelahku. Kak Adhi melempar botol air minum dengan senyum yang ditahan, botol itu melewatiku yang sedang mengerucutkan bibir dengan sebal. Disebut ahli sih memang bisa membanggakan, tapi nggak perlu pake embel-embel nyasar.
“Sebel boleh, tapi ndak lupa haus kan, Mel? Nih,” Kak Nadia menyodorkan botol air minum yang dibawanya dari homestay, hasil pagi-pagi sudah merayap ke dapur menjerang air. Aku meneguknya tanpa sisa.
“Tapi anak itu beneran aneh, Mel,” kata Kak Nadia saat mengambil kembali botol air minumnya yang sudah kosong.
“Bener, Nad. Coba deh, kalian pikir, gimana caranya dia bisa masuk tanpa tiket,” Kak Adhi menambahi, membenarkan dugaanku atas muka aneh yang dibuatnya sewaktu di Lobang Jepang tadi. Aku tersenyum menang sambil melirik Kak Nadia yang sedang geleng-geleng kepala, kalau sedang tidak sebegini lelah, aku tebak tangan Kak Nadia sudah akan melayang untuk menjitak, dan aku yang berada di sisinya akan berteriak sambil terbahak, “aneh sih aneh, kak.. tapi bukan soal tiket jugaaa..”

***
“Kakekku.”
Kata yang diucapkan oleh Eko kemudian adalah Kakekku. Dan apa yang mengalir setelah itu adalah ironi di dalam lagu.
Umurnya 14 tahun sewaktu ia dan kedua puluh lima temannya sampai di Pelabuhan Teluk Bayur. 3 hari mereka terkatung-katung di tengah laut untuk mencapai pulau terbesar keenam di dunia ini: Sumatera. Orang yang menawarinya menjadi tentara Heiho itu mengatakan bahwa di sini,  ia dan kedua puluh lima temannya akan disekolahkan, diberi pelatihan untuk menjadi tentara.
10 hari setelah ia dipaksa bekerja melubangi bukit, ia sadar bahwa dirinya telah ditipu. Tidak ada aktifitas pelatihan di tempatnya saat itu, yang ada cuma pekerja-pekerja kurus kering yang menyedihkan. Datang dan hilang setiap harinya, sebagian mati disiksa, sisanya mati begitu saja. Penyiksaan yang dilakukan oleh para tentara Jepang itu betul-betul tidak tertahan. Mereka dipaksa menembus bebatuan ngarai untuk membuat bunker dengan lorong sepanjang 1470 meter dan 21 ruangan ini hanya berbekal cangkul dan benda tajam. Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Bala Tentara Jepang saat itu, Letnan Jenderal Moritake Tanabe yang memimpin pembangunan bunker ini  memang luar biasa bengisnya. Kebengisannya itulah yang membuat bunker ini bisa rampung dengan cepat.
“Tidak ada jatah makanan dan harus bekerja siang-malam, setiap hari selalu ada orang yang mati karena kelelahan bekerja, yang kelihatan beristirahat akan langsung disiksa, beberapa cukup beruntung disiksa pada saat itu juga, yang dibawa ke ruangan khusus, bernasip sama dengan para tahanan Jepang yang dipenjara, berakhir di lubang itu,” Eko menunjuk sebuah lubang yang ada dalam ruangan yang dulunya merupakan dapur, di atasnya ada lubang kecil untuk mengintai, di bawahnya adalah lubang tempat mayat-mayat disimpan.
Kami berlima duduk melingkar di bawah cahaya lampu, memandang bocah belasan tahun itu dengan wajah ingin tahu. Terpukau dengan sebuah kisah yang barangkali sudah ribuan kali diceritakan kakeknya. Sudah ia hapal di luar kepala.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Kak Nadia, rasa penasarannya terlalu besar untuk diabaikan, tetap saja gagal meski sudah berusaha ia tahan.
Eko di hadapan kami menyeringai, “ada seorang perempuan”.
***
Namanya Uni Raihanuun, setidaknya itulah yang sering ia tangkap ketika anak-anak kecil yang membersamainya memanggilnya setiap kali mereka mengambil air di hilir sungai sianok. Bunker ini letaknya tidak diketahui, Raihanuun yang senantiasa mempesona meskipun dari kejauhan itu, sudah tentu tidak mengetahui bahwa dirinya menjejak kaki terlalu jauh dari rumah, menjangkau tempat berbahaya. Bahwa dibalik bongkahan raksasa ngarai yang membelah dua pulau Sumatera dengan patahan semangka ini, terdapat manusia-manusia yang mampu menyiksa manusia lainnya tanpa belas kasih.
Di bunker ini ada salah satu lubang pintu yang berada tepat di dekat sungai Sianok, melalui lubang pintu itulah biasanya ia memperhatikan Raihanuun dalam hela nafas yang ditahan. Bagi dirinya, Uni Raihaanun bukan hanya pusat tata surya, tapi lebih seperti inti dari semesta. Memperhatikan gadis itu, meski hanya diam-diam, adalah angin segar dari kehidupannya yang menyakitkan, sekaligus alasan dia masih bisa bertahan dan tidak menghabisi nyawanya sendiri. Bahkan meskipun setelah itu dirinya harus merasakan kebengisan para tentara Jepang apabila ketahuan tidak bekerja dan menyelinap diam-diam.
Pada malam setelah Ibrahim mati dibelah, cuma Raihanuun yang ada di kepalanya saat itu. Ia merangkak melewati lubang, sendirian. Ia tahu, gilirannya akan tiba sewaktu-waktu. Titik ketika para tentara itu kalap dan apa yang terjadi pada sahabatnya menimpanya juga. Caranya bisa macam-macam, tapi yang jelas kesemuanya mengerikan. Mati memang akan membuat penderitaannya berakhir, tapi pikiran tidak akan bertemu Raihanuun lagi adalah yang tidak mau dipilihnya. Selain itu, kalau pun tetap tinggal, lama-lama ia tetap akan mati juga, baik karena disiksa atau karena kehabisan tenaga. Ia ingat kata-kata terakhir Ibrahim yang mengantarkannya ke ajal. Mereka tidak punya Tuhan. Tidak paham dosa. Orang-orang yang tidak punya Tuhan akan mampu melakukan apapun, bahkan yang paling hitam sekalipun.
Salah seorang tentara yang tidak sengaja mendengar itu menerkam Ibrahim, menghabisi nyawanya dengan cara yang tidak layak dilihat manusia. Tentara itu bertubuh lebih pendek dari Ibrahim, tapi tentu saja Ibrahim yang belum makan berhari-hari saat itu bukan tandingan. Tenaga sahabatnya itu sudah habis dihisap oleh dinding-dinding dingin di sekeliling mereka. Dinding-dinding itu, sekarang, sedang rakus menghisab darah yang menyiprat dari tubuh temannya. Detik itu dirinya sadar, apa yang dikatakan Ibrahim memang benar.
Berhari-hari ia melarikan diri. Memakai pakaian dari kain goni dan tinggal seorang diri. Selama itu ia hanya memakan daun-daun, dan selama itu pula ia tidak bertemu Raihanuun. Ia tidak berani masuk ke desa, ia tahu tentara Jepang pasti mencarinya. Selain itu, beberapa temannya yang kabur seringkali berhasil tertangkap lagi karena ada penduduk desa yang melaporkan. Eko tidak mau mengambil resiko. Ia tidak mau kembali ke lorong gelap itu, menjalani hari dengan mengayunkan cangkulnya, melubangi bukit dengan perut lapar, lalu mati terkapar.
Tapi kemudian, berhari-hari setelah itu, rindu yang berhari-hari diredamnya memberikan hadiah. Wajah yang selama ini melayang-layang di kepalanya mewujud di depan mata. Dia bertemu Raihanuun. Raihanuun-nya. Tetap anggun meskipun dengan tangan yang penuh dengan ranting-ranting kayu. Saat itu ia seperti ditarik ke masa lalu, atau mungkin memang waktu yang melipatkan diri ke masa itu, ketika ia sering memandangi Raihanuun-nya dari jauh. Rimbun dedaunan yang mulai ia hapal rasanya itu menyentuh kulitnya seperti dinding tanah dingin di Lobang Jepang. Dirinya mengira-ngira apa reaksi gadis itu kalau ia memutuskan muncul di hadapannya. Kemungkinan besar, kayu-kayu di tangannya akan berhamburan. Bisa juga reaksinya lain. Mencari air di sungai, mengumpulkan ranting-ranting kayu di hutan. Laki-laki itu meyakini bahwa Raihanuun-nya pemberani. Maka pada detik berikutnya, ia sudah menampakkan diri.
Raihanuun menatap anak laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia tetap tenang, matanya memandang tajam seperti ingin mengatakan ‘Kau mau apa? Aku tidak takut.’ Tapi bahasa mereka berbeda, dia menjelaskan kepada Raihanuun sebisanya bahwa dirinya adalah romusha yang melarikan diri dan meminta gadis itu untuk tidak mengatakan pada siapa-siapa. Bahwa ia sudah berhari-hari tinggal di hutan dan butuh pertolongan. Eko tidak tahu apa gadis itu paham, tetapi ketika akhirnya Raihanuun-nya itu menganggukkan kepala padanya, untuk pertama kalinya, sesuatu di dalam dadanya membuncah.
Yang tidak Raihanuun tahu, anak laki-laki yang kelihatan sumringah di hadapannya itu tidak peduli dirinya paham atau tidak. Ia juga tidak sedang merayakan pertemuan lidahnya dengan nasi berlauk garam seadanya yang ia hidangkan dan dilahap habis dalam sekejap mata. Nasi dan garam itu memang mengembalikan cita rasanya sebagai manusia setelah berhari-hari bertahan hanya dengan memakan daun-daun hutan, tapi bukan itu yang membuat dadanya buncah. Yang sebenarnya ia rayakan ialah anggukan kepala Raihanuun tadi. Ke padanya. Untuk dirinya. Bahwa akhirnya setelah begitu lama hanya melihat, Raihanuun akhirnya melihat dirinya juga, menganggukkan kepala padanya, untuknya, dan tidak hanya itu, ia juga makan dengan nasi yang perempuan itu tanak, lalu mencuci piring kaleng yang ia pakai dengan air dari sungai sianok yang rutin ia ambil. Rutinitas yang mengantarkan Raihanuun pada dirinya. Malam itu, ia menginap di sana, di tempat Raihanuun tinggal dengan ketiga adik-adiknya. Biasanya, ia selalu khawatir setiap kali akan pergi tidur. Ia takut pada ular di sekitar pohon atau binatang buas di semak-semak. Ia tidak pernah bisa tidur terlalu lelap karena di kepalanya, suara-suara sepatu tentar-tentara Jepang yang memburunya terus menerus berderap. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan, dirinya sudah tidak lagi di hutan, dan Raihanuun-nya pun sudah ditemukan. Maka malam itu, untuk pertama kalinya, setelah lama yang sepertinya sudah bertahun-tahun, ia memberanikan diri tidur dengan tenang. Ia tidur dengan aman.
Tapi ternyata itu jenis ketenangan yang ada sebelum badai. Esok paginya, Eko dibangunkan oleh suara rusuh dari luar, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, 3 orang pasukan Jepang sudah menyerbu masuk. Menangkapnya, memukulnya membabi buta.
Kami berempat menatap tukang cerita kami dengan terpana. “Mereka tahu,” suara Bang Hilmy seperti keluar begitu saja. Berbaur dengan udara dingin dari langit-langit. Eko junior mengangguk.
“Raihanuun. Raihanuun melaporkannya.”
***
Aku menghela nafas sepelan yang kubisa. Mengusir potongan cerita Eko yang kembali mengisi kepala. Masih tidak rela. Ini sungguh-sungguh ironi. Tepat seperti yang seringkali dikatakan Kak Adhi; hidup itu ironi.
Taman panorama ini sepi. Kami berempat memilih tetap tinggal setelah beranjak sebentar untuk menunaikan sholat ashar. Kemudian duduk di sebuah kursi panjang yang berada di pinggir pagar, tepat menghadap ngarai. Masih lelah, kami putuskan menikmati senja. Kata orang, pemandangan matahari terbenam di taman panorama termasuk salah satu yang luar biasa.
“Kamu kenapa, tho? Diem aja,” suara Bang Hilmy membuat Kak Adhi dan Kak Nadia melongokkan kepala. Mungkin Bang Hil pikir aku diam karena masih sebal. Kugelengkan kepala sebagai jawaban.
“Masih kepikiran yang tadi?” ia masih memberondongku. Aku mengangguk, “nggak bisa dipercaya, Bang. Raihanuun!” kataku hampir mau menangis.
“Kenapa Raihanuun?” tanyaku setelah menarik napas.
“Mungkin dia butuh uang, Mel!” Kak Nadia menyampaikan analisanya, “kamu dengar sendiri dia cuma tinggal sama adek-adeknya. Orangtuanya mungkin udah meninggal. Otomatis dia yang harus menghidupi semuanya. Nyari kayu bakar, ngambil air, belum lagi soal makan. Hidup untuk dia juga berat.”
“Tapi Kak, Eko itu... ” aku terdiam, tidak menemukan kata yang tepat untuk menyebutkan perasaan Eko pada gadis itu. Cinta? Yang aku percaya cinta bukan sesuatu yang bisa muncul pada pandangan pertama. Tertarik? Suka? Mungkin itu dia, rasa suka dalam kadar yang tidak biasa sampai-sampai bisa mendorong Eko yang masih berumur belasan, melarikan diri dari tentara Jepang. “Eko itu suka mati sama Raihanuun,” lanjutku dengan volume suara yang hanya bisa didengar jelas oleh semut. Tidak pede sendiri dengan diksi yang kupilih, suka mati? Biasanya orang menyebut cinta mati, bukan suka mati.
Kak Adhi tertawa, entah menertawakan apa. “Hidup itu ironi, Mel,” kata-katanya mengambang. “Susah payah Eko melarikan diri dari tentara Jepang untuk Raihanuun, tapi malah gadis pujaannya itu yang mendatangkan tentara Jepang ke depan mukanya. Ironis!” Aku berjengit mengutip kata yang Kak Adhi pakai: gadis pujaan. Kak Adhi benar. Eko memuja Raihanuun, setengah mati.
“Tapi Raihanuun nggak tahu Eko melarikan diri untuk dia, Dhi. Dan dia juga nggak minta itu,” Bang Hilmy yang sedari tadi diam kali ini berkomentar.
“Terus karena Raihanuun nggak tahu, semuanya jadi adil. Gitu?” suara itu keluar dengan nada yang lebih keras dari yang kurencanakan. Aku meneguk ludah ketika melihat ekspresi Bang Hilmy berubah.
“Enggak sayang, nggak ada yang bilang itu semua adil. Dunia memang kadang-kadang ndak adil. Dari dulu memang udah begitu, sekarang juga masih,” Kak Nadia menenangkan.
“Tapi meskipun dunia ini nggak adil, kita tetap nggak boleh balas, kan Nad? Karena itu berarti kita sama jahatnya dengan dunia,” timpal Kak Adhi seperti mengutip kata-kata yang entah kenapa terasa tidak asing di telinga. Itu kata-kata Kak Nadia untuk seseorang dengan panggilan Man yang sewaktu di Solo pernah menyekapnya.
Kak Nadia memamerkan cengiran, “Betul, mas. Yang boleh membalas itu cuma Tuhan. Kalau pun nggak di dunia yang sekarang, berarti di dunia yang akan datang.”
Kami semua mencerna kata-kata Kak Nadia dalam diam. Matahari di depan kami turun perlahan. Apa yang dikatakan Kak Nadia benar, sebenar perkataan orang-orang tentang matahari terbenam di Taman Panorama. Ngarai Sianok ini sekitar 100 meter tingginya, dengan panjang 1.5 kilometer dan patahan yang kelihatan maha. Cahaya matahari terbenam membias di langit yang menjadi jingga. Bola raksasa itu tenggelam disedot bukit-bukit hijau dan tanah cokelat yang menopangnya. Sementara itu, 40 meter di bawah kami, tertinggal kisah Eko dan Raihanuun-nya, dalam sebuah bunker yang sudah banyak berubah.
_______

* dipublish di blog atas permintaan kak nadia. semoga kita tetap keren ya kak, hahah..

2 comments: