February 7, 2012

tentang Kapal Phinisi yang Maha Keren Itu

Tadi baru aja ada liputan jalan-jalan di kalimantan selatan, dan seperti biasa selalu ada rindu setiap kali kota-kota yang pernah jadi tempat dinas papa muncul di layar kaca. Rindu yang sama setiap kali aku mendapati tentang aceh pada masa-masa SMA.

Kali ini beritanya tentang pasar apung.  Selalu ada perasaan agak menyesal setiap kali frasa pasar apung sampai ke telinga. 3 tahun tinggal di banjar, agenda ke pasar apung bukan sekali dua kali. Satu kali pernah akhirnya kami jadi juga ke sana, ke pasar apung yang melegenda itu. Iya, ke sana tepat disaat para penjual-penjual berjukung itu udah pada bubaran. Hebat!

Jadi begitulah, akhirnya pagi itu kami cuma pergi sarapan di sebuah tempat makan soto banjar yang ada di atas sungai. Dan rasa soto itu masih melekat sampai sekarang, dengan telur bebek yang besar, namun rasanya hambar. Kenapa rasa soto itu masih melekat sampai sekarang ialah karena satu kali itu, akhirnya sampai saat ini aku nggak suka soto. Yap! Semacam trauma!

Satu hari ini aku nonton 2 film yang di sana ada kapal phinisinya. Pirates of carribean entah seri keberapa (pokoknya yang ada ikan duyungnya) sama Conan the barbarian. 2 film ini lumayan meracuni sampai akhirnya aku bertekad bakal naik kapal phinisi suatu hari nanti. Entah gimana caranya.

Tapi tekad baru satu ini melahirkan penyesalan lain di satu sisi, nyaris tanpa sadar, mirip penyesalan pasar apung ini.

Jadi, sewaktu masih dinas di makassar dulu, kami pernah trip 2 hari satu malam di sebuah tempat wisata yang disebut bira. Letaknya di kabupaten bulukumba. Menuju ke sana kami menempuh 6 jam perjalanan melelahkan yang bikin mual: jalanan rusak berat. Tapi akhirnya itu setimpal dengan pantai bira yang mmg luar biasa indah. Nah, di sana, ada banyak spot dimana kita bisa lihat sendiri berbalok-balok kayu yang besar-besar itu membentuk rangka-rangka phinisi. Persis kapal yang dipakai para bajak laut itu: kayu! Semuanya kayu!

Pada buku Meraba Indonesia yang menjadi kitab keramat waktu Trip Sumatera dulu akhirnya aku tahu bahwa bira dikenal sebagai pusat pembuatan kapal-kapal phinisi kualitas atas bahkan sampai mancanegara. Dan ternyata, rata-rata pembuatan kapal-kapal phinisi di Bira memang pemesannya dari luar negeri, di Indonesia malah hampir tidak ada. Mungkin karena harganya mahal dan bukan komoditas pemenuh kebutuhan.

Kapal phinisi memang bukan kapal yang cocok untuk dipakai menangkap ikan, ukurannya yang besar menyebabkan kapal ini cukup sulit untuk ditarik hingga ke pantai. Sementara untuk pariwisata sendiri sudah ada kapal-kapal pesiar modern bertingkat-tingkat nan mewah yang di dalamnya bisa ada kolam berenangnya. Yah, paling-paling baru bisa dipakai nanti kalau tiba-tiba ada paket wisata pesiar dengan kapal phinisi (serius nih, kalo ada yang begini aku rela nabung buat ngerasain).

Aku sendiri enggak tahu kapal ini bisa dipakai untuk apalagi selain untuk kapal bajak laut. Dan film! Jadi mungkin peluangku untuk bisa naik kapal phinisi ya kalau bukan ikut main film berarti diculik bajak laut somalia. Dan hey! Siapa tahu kapal-kapal yang dipakai di film Pirates of Carribean itu ternyata dipesannya dari bira.



tulisan tiga hari yang lalu
diposting dari atas beranda kayu

No comments:

Post a Comment