February 7, 2012

Too Much Love Will Kill You

Akhirnya saya memutuskan menulisi tentang kamu juga, untuk tidak lagi-lagi menahan dan sekedar membiarkannya. Di sini, di blog ini. Bukan cuma di jendela ms. word seperti yang saya rencanakan kalau saja gelisah ini tidak tertahan. Ya, saya memang gelisah. Gelisah ini yang membuat saya banyak menelan buku-buku berbau tentang kita selama liburan. Kamu tidak pernah tahu, saya selalu terpesona dengan hal-hal semacam itu. Di tumblr pun, saya menggandrungi gambar dengan obyek yang sekarang setiap kali saya melihatnya selalu mampu membuat saya rindu. Alasannya ialah saya perlu paham, saya perlu meneliti bahwa barangkali ada yang terlewat sehingga saya belum dapat mengerti.

Tapi faktanya saya memang bukan kamu, sebanyak apapun orang yang mengatakan kita seperti benda dan bayangan. Efek suatu hal bisa saja berbeda pada individu yang lain, dan  hal yang sudah bisa saya terima sekarang ialah bahwa setiap orang punya 'free will'. Dan bahwa waktu dan jarak adalah dua hal yang sama-sama berbisa, tapi tetap saja, waktu ternyata lebih kuat. Waktu bisa mengalahkan jarak. Saya tidak bisa mengalahkan waktu dan 'free will' itu. Waktu merubah kita.

Yang ingin saya katakan sekarang ialah saya memutuskan berhenti. Saya memutuskan berhenti membenci kamu. Saya baru menyadari bahwa saya selama ini sedang berusaha membenci kamu. Is it works? Of course NOT!
Saya juga selama ini berusaha menyangkali bahwa saya menyayangi kamu. Bahwa saya mencintai kamu tidak sebanyak itu, maka luka yang ada pada saya sekarang tidaklah separaha sakit yang saya rasakan. Bahwa saya baik-baik saja.

Tapi nyatanya saya tidak baik-baik saja. Pisau yang kamu pegang itu jelas-jelas melukai saya. Pembicaraan tentang saya yang jelas-jelas kamu lakukan dibelakang itu pengkhianatan yang membuat luka saya semakin parah, baik-baiknya kamu di depan sementara beromong-kosong di belakang itu menyakitkan. Dan konspirasi itu, saya tidak habis pikir kenapa kamu tetap tutup mulut  sementara saya bisa saja sangat hancur. Atau kamu memang memilih melihat saya hancur dibanding disebut ember bocor? Yak, terserah! Nyatanya saya memang betulan hancur mengingat janji kita  untuk membagi rahasia apapun, apa yang kamu bilang di tempat makan bapak waktu itu? biar tepat mengambil sikap? ya itu, kamu yang mengusulkannya dan saya yang menjaganya. Hancurnya saya itu karena kamu lupa, kalau kamu mau tahu.

Sampai saat ini saya juga belum tahu apa alasan kamu. Tidak membagi-nya kamu. Kenapa kamu melakukan itu? Mungkin saja kamu tidak ingin mengkhianati kepercayaan kakak kita itu. Atau mungkin kamu merasa senasib dan sepenanggungan dengannya karena berada dalam romansa yang satu warna. Saya berusaha paham, diam-diam saya juga mencari alasan untuk memaafkan. Saya mengabaikan fakta bahwa ada kepercayaan tiga lelaki yang saya biarkan mati agar kamu bisa mengambil "sikap yang tepat". Saya mengunggulkan janji dari ide yang kamu usulkan sendiri. Tapi semua itu tidak mendekatkan saya pada memaafkan, yang saya lakukan cuma mencari alasan untuk sementara membiarkan. Membuangnya jauh-jauh dari pikiran.

Ada banyak alasan yang saya duga menjadi sebab kamu melakukannya, atau mungkin ternyata alasannya jauh lebih sederhana dari yang saya kira: bahwa saya sama sekali tidak berhak untuk mengambil langkah yang tepat?

Haha, saya menertawakan diri saya sendiri di titik ini. Kamu tidak tahu betapa memikirkan ini seringkali membuat saya gila sendiri. Saya lupa memberitahu kamu di awal bahwa saya ini luar biasa bodoh. Terlalu naif, mempercayai bahwa apa yang dikatakan seseorang adalah benar apa yang ia inginkan. Dan berdaya ingat kuat. Dulu saya tidak percaya bahwa campuran 3 hal ini dapat mematikan sampai saya akhirnya mati.

Yang kamu perlu tahu ialah bahwa apa yang pernah kamu bicarakan dengan seseorang dalam yahoo messeger itu omong kosong betulan. Apa kamu percaya bahwa saya tutup mulut karena saya ingin menahannya? Menyimpannya untuk diri saya? Kamu salah, dia bukan barang yang dapat saya tahan maupun simpan. Perasaan saya tidak mungkin mampu menahan dan menyimpan dia dari kamu. Barangkali kamu lupa, tapi kamu sendiri yang meminta saya untuk tidak membuka kotak pandora.


Dan karena itu saya salah.

Haha, saya jadi gila lagi. Tidak ada yang membuat saya lebih gila daripada menjadi orang yang salah karena teguh memegang janji. Dan saya jadi lebih gila lagi karena keras kepala menyimpan ini sendiri. Saya tidak bercerita pada siapa-siapa, tidak pada blog, apalagi sesuatu yang bernafas dan bernyawa.

Benar, jadi ternyata nasib 1 rasa kita luluh diam-diam, hilang, retak pelan-pelan karena pengkhianatan dan dendam. Mirip kisah-kisah sinetron? Memang, tapi itu di tv, di kehidupan nyata endingnya lebih bervariasi. Kita yang memilih.

Lalu saya memilih apa?

Sekarang dengarkan, saya memilih ini:

Saya memilih berhenti berusaha membenci kamu karena saya sadar bahwa itu tidak ada gunanya. Baru saja saya berusaha membayangkan berdiri di depan kamu dan mengatakan saya benci kamu berulang-ulang. Saya tidak bisa. Tidak mungkin bisa. Apa yang kamu lakukan ternyata belum cukup parah untuk membuat saya sampai membenci kamu. Menyayangi kamu itu mudah, tapi membenci adalah satu hal yang betul-betul bertolak belakang. Saya tidak akan memaksa diri saya terlalu keras lagi: untuk membenci kamu.

Saya juga memilih untuk tidak lagi mengingkari fakta bahwa saya menyayangi kamu terlalu banyak, saya berhenti menyesali kenapa saya menyayangi kamu sebanyak itu sementara kamu tidak. Kenapa saya sebelah tangan. Saya berhenti mengutuki ironi ini. Karena seperti apa yang dikatakan Theo, semua orang punya free will-nya masing-masing. Dalam hidup kadang kita mempunyai hal-hal semacam ini. Mencintai terlalu banyak dan tidak dicintai balik. Tetapi kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar ada di hati setiap orang bukan?
Nyatanya saya memang mencintai kamu terlalu banyak, memang sebelah tangan, tapi setidaknya dari sini saya belajar.

Saya memilih kembali menjadi diri saya yang lama.Menghidupkan kembali apa yang sudah mati sebelumnya. Yang bodoh, yang memercayai orang-orang, yang mengingat banyak hal. Bahkan meskipun ketiga campuran itu mematikan. Setidaknya saa itu saya bahagia. Bukannya seperti sekarang, cynical, meragukan setiap kata orang-orang, dan terus menerus berusaha melupakan membuat saya tidak bahagia. Katanya, yang mematikan itu justru yang bisa membuat seseorang tidak terkalahkan. Saya cuma tidak boleh kapok.

dan bukankah kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar ada di hari setiap orang?
maka ini isi hati saya, saya tidak tahu punya kamu seperti apa. Tapi saya tidak mau menduga-duga. Iya, terima kasih kembali.

saya memang sudah terlanjur sakit, atas apa yang kamu lakukan. tapi berusaha membenci itu ternyata memang tidak baik.
dan lebih sakit.
maaf.


bersama angin, awan,laut, langit, gunung dan atap rumah
dari atas beranda kayu.

1 comment: