March 18, 2012

just move


Aku memberitahukan pada dua orang temanku bahwa airmata itu ternyata hangat. Salah satu dari mereka bilang bahwa yang jelas air mata itu asin. Yang satu lagi malah tidak percaya.

Sejujurnya, aku juga baru tahu kalau ternyata airmata hangat. Hari ketika terasa ada yang retak dan yang bisa kulakukan cuma menggeletak. Memutar lagu Better That We Break-Maroon5 keras-keras, lalu lumpuh dengan kepala kosong.




Tapi itu hari yang lalu.
Titik ketika apa yang pernah melintas di pikiranku dulu ditagih. Pada diriku sendiri, aku pernah bilang bahwa aku mungkin akan berhenti ketika waktunya tiba, dan sekarang waktunya. Sejujurnya ini yang paling membuat patah. Aku merencanakan menyukai orang itu paling tidak untuk dua belas bulan kedepan. Hanya suka saja, diam-diam, tersimpan, lalu sudah. Kenyataan bahwa semuanya harus dicut tiba-tiba dan bahkan dengan paksa pula ternyata melumpuhkan, atau ternyata perasaan itu tumbuh  diam-diam melebihi apa yang selama ini kuperkirakan.

Kak Nadia menghiburku, bilang bahwa aku tidak harus berhenti sekarang kalau memang masih ingin melanjutkan. Mungkin menurutnya ini patah hati yang tidak perlu, jenis patah hati yang dapat dengan gampang dikomentar "kamu sendiri yang mau". Tapi bagiku, masih lebih baik memilih patah hati sekarang daripada luka yang muncul nanti-nanti. Retak besar yang sekarang bisa langsung diobati dan kubalut dengan baik, lalu sembuh. Sedangkan tetap melanjutkan dengan situasi yang sekarang, sama saja dengan mengundang retak-retak kecil di kemudian hari yang tidak bisa diprediksi. Dan ketika retak kecil itu hampir sembuh, retak yang lain akan muncul satu-satu.

Tapi ini sama sekali bukan soal menyukai dan minta disuka balik seperti yang Kak Nadia pikirkan. Aku jelas-jelas tahu betapa apa yang kupendam jelas-jelas tidak punya masa depan. Tidak ada arahnya, tidak tau mau dibawa kemana. Aku memutuskan berhenti karena aku harus berhenti.  Karena ada luka masa depan yang harus disingkirkan. Persis konsep memilih yang pernah kami diskusikan pada suatu malam. Bukankah orang-orang memilih apa yang mereka paling tahan? Ada orang-orang yang merasa sakit ketika bertahan, tapi tetap memilih itu karena melepaskan ternyata lebih sakit.
Ada orang-orang yang merasa sakit ketika memilih bercerai, tapi bisa jadi, bersama bagi mereka jauh lebih sakit dan sulit.

Di tempatku tinggal, aku belajar arti kata move on dari seseorang yang menurutku telah mencintai dengan hebat, jelas-jelas tidak punya harapan, berusaha keras untuk lepas, sedikit demi sedikit, tapi tetap tidak bisa melepas sepenuhnya karena memang dia tidak bisa. Dia cuma tidak mampu memilih itu. Untuk kasusku semuanya tinggal dibalik saja. Aku mengakhiri karena memang harus aku yang mengakhiri, karena dia tidak pernah memulai. Dari awal ini adalah apa yang disebut orang-orang sebagai sebelah tangan. Aku tidak memilih bertahan atau melanjutkan karena memang aku tidak mampu memilih itu. Cut! tanpa Ctrl+V! Aku punya diriku sendiri yang harus aku bela, karena kalau bukan aku, memangnya akan siapa?

Kemarin, aku tersadar lagi lewat kata-kata Alifa yang ia lontarkan dengan rasa heran sewaktu aku menceritakan tentang orang itu setelah beberapa hari berada dalam fase plis-nama-itu-jangan-dulu-disebut!
"Kok lo seneng banget, mel? Memangnya lo nggak sedih?"

Aku kembali ingat pada airmataku yang hangat itu.

Aku memercayai bahwa airmata adalah rasa sedih yang meleleh dari hati. Pertanyaan Alifa membuatku berpikir bahwa jangan-jangan kesedihan-kesedihan itu sudah leleh sepenuhnya, meleleh jadi airmata. Hangat mengalir dari mata. Lalu aku move on.


maka sekarang, apa yang aku janjikan dalam kertas dan pena itu bisa nyata, kan?

No comments:

Post a Comment