March 20, 2012

kalau mau tahu cara menikmati hidup, belajarlah dari anak kecil

Tepat seperti dialog dalam film knocked up.
Bahkan gelembung sabun pun bisa membuat anak kecil bahagia.

Semester ini aku memutuskan kembali ke TPA. Setelah setahun cuti dan menahan beban mental dari alasan tidak punya waktu yang selalu kulontarkan setiap kali tidak sengaja bertemu dengan salah satu santriwati Az-Zahra di jalan. Jawaban sesungguhnya ialah, tidak menyempatkan. Sebab kita tidak akan pernah bisa punya waktu luang kalau tidak pernah meluangkannya kan?

Jadi, yang kudapati setelah 1 tahun memisahkan diri ialah berbagai hal yang berubah. Kak Isnan tahu-tahu sudah hilang dan rupa-rupanya sistem kelas sudah dihapuskan. Az-Zahra sekarang punya direktur baru, ketua yang baru, dan wajah2 baru. Tidak ada lagi kelas Fathimah, Aisyah, Khadijah, Umar, Usman dan Ali. Juga tidak ada lagi kurikulum materi perhari. Tidak ada lagi mengaji dan aqidah-akhlak di hari Kamis,  gerakan shalat di hari Sabtu, dan games hari Selasa.

Dan aku kehilangan banyak anak-anak Fathimah. Yang tersisa cuma Lathifa si badung itu, masih suka berlarian dan memanjat. Menemukan kesenangannya dengan mengejar bola, melompati pagar tembok mushola, dan membuatku cemas dengan duduk-duduk di tempat tinggi.
Oh.. aku kangen betul sama anak tidak tahu takut tapi senang menggelayut itu. Mendengar rengekannya minta dipeluk, merapihkan kerudungnya yang berantakan  akibat lari-larian.Lantas menyadari bahwa dia pun bahkan banyak berubah. Bukan lagi ratu ngambek yang cengeng macam 1 tahun lalu. Sekarang Lathifa sudah jadi anak yang patuh, setidak-tidaknya tidak lagi sebadung dulu.

Daaannn.. hari minggu kemarin akhirnya aku jadi juga diculik Hanip sampai ke KulonProgo sana. Mengajar Saman (yang sebenarnya adalah tari rampo :P)!
Dan kalau kalian mau tahu, ke Kulon Progo dari tempatku tinggal kurang lebih 60km jauhnya. Jadi, seminggu sekali aku menempuh jarak 120km pulang pergi demi mengajari pecahan botol pecahan botol di sebuah desa kecil lagi terpencil tempat mbah-nya hanip tinggal (yang bahkan di sana itu sering susah sinyal) . What a fun!

Tapi memang yang seperti itu menyenangkan, dan diam-diam aku menganggapnya sebagai pelarian.

Desa kecil terpencil tempat mbah-nya hanip tinggal (yang bahkan di sana itu sering susah sinyal) itu sebenarnya merupakan desa yang dulunya tempat KKN mbak Andri, hari terakhir mereka di sana, sub-unit KKN mbak Andri mengadakan semacam acara pelepasan dengan pementasan tari saman (yang sebenarnya itu tarian likok pulo) ke 6 oraing anak laki-laki di desa itu. Selesai KKN desa itu dipakai lagi sebagai desa PKM oleh Mbak Andri, Hanip dan Sabila. Dan karena sebenarnya yang bisa tarian aceh di antara mereka bertiga cuma Hanip, akhirnya diajaklah aku untuk menghandle pelatihan anak-anak perempuan (Mbak Andri dan Sabila juga kuajari kadang2 :D).

Maka begitulah, satu tempat lagi dimana aku bisa menceburkan diri untuk belajar menikmati hidup.

Lalu hari ini, aku merengek minta ikut pada Alifa yang mau ngeles-in Ivan. Murid privatnya yang masih kelas 3sd ini luarbiasa menggemaskan. Aku menonton Alifa membuat soal-soal berpola superlative untuk diterjemahkan Ivan ke dalam bahasa inggris, membantunya menghafal kata-kata sulit sambil mati-matian menahan diri untuk tidak lancang mencubit pipinya karena tingkah polahnya yang superbikingemas.
Sukses membuat Adit membanting telepon marah karena aku lebih memilih menggoda Ivan padahal dia sedang berteriak-teriak mencari perhatianku dari jarak 1751 kilometer jauhnya.
Yasudahlah, aditku itu memang pencemburu tingkat parah.

Pukul 09.00 tepat aku dan Alifa pulang menembus suhu udara yang sudah jatuh. Kehujanan dan tanpa jaket. Aku kedinginan, mengantuk dan pegal-pegal, tapi tetap merasa beruntung meski menolak ajakan Ardi nonton Jazz malam ini.

Oh, dan besok Ivan ujian.
Selamat Malam. Semoga sukses ujian, Ivan :D


No comments:

Post a Comment