March 28, 2012

semacam random posting

Saya punya kalimat andalan setiap kali papa memasang muka galak dan siap menyeret saya ke dokter. Ini bukan saja cerita kala kecil karena bahkan ketika saya sudah SMA pun, masih selalu ada adegan peluk dinding karena papa menarik-narik tangan saya untuk ke dokter atau minum obat. Ibu saya bahkan sering berkomentar bahwa saya seperti dikasih racun kalau disuruh minum obat. Tidak saya tangkis karena bagi saya obat itu memang racun. Itulah kenapa saya kerap berpura-pura sehat ketika sakit, manahan-nahan batuk dan berkeras masuk sekolah meski sedang demam. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya?

Hari ini tiba-tiba saya menghidupkan kalimat itu lagi. Sama persis, hanya huruf r yang diganti p dan sasaran yang berbeda, kali ini pada Zahra.
enggak kok, ra. udah sembuh.

Saya ingat, beberapa kali sewaktu saya dipaksa guru dan teman-teman sekolah untuk menelpon papa agar menjemput saya karena kondisi badan yang sudah drop dan tidak dapat lagi dipaksa. Saya menangis di mobil dan membuat papa kebingungan. Saya juga tidak tahu kenapa saya menangis waktu itu. Saya cuma menangis ketika ditanya kenapa. Mungkin saya takut dibawa ke dokter, penyamaran "pura-pura sehat" saya sudah terbongkar. Atau mungkin saya juga sudah capek pura-pura.

Ternyata bisa seperti itu ya rasanya tidak berdaya.

Entah kapan kemarin saya dikunci Zahra dan Yusan di dalam kamar. Mereka berdua berkeras menyiram luka tersayat karang di kaki saya dengan revanol. Oke, menyiram mungkin bukan padanan yang tepat. Mereka cuma mau memberi penanganan lebih lanjut karena kaki saya ternyata membengkak akibat luka. Adegan penyekapan itu terjadi hanya karena mereka benar-benar baik dan perhatian sedangkan saya terlalu penakut dan keras kepala. Saya dikunci di kamar Zahra lalu kunci itu dilempar entah kemana.
Dan tiba-tiba saya sudah menangis. Saya merasa sendirian lagi melawan obat-obat itu. Sendirian melawan Yusan dan Zahra, melawan orang-orang yang memaksa saya menerima apa yang tidak saya suka.

Lagi-lagi seperti itu rasanya tidak berdaya.

Tapi kemudian saya dipeluk. Benar, seharusnya saya dipeluk saja karena dipeluk itu juga merupakan obat.
Itu saat saya tahu bahwa saya tidak sendirian dan orang-orang ini bukan orang jahat. Dan yang terjadi berikutnya ialah mereka ribut mencari-cari kunci, pintu dibuka lalu saya cepat-cepat kabur ke kamar sendiri. Mengadu pada Angga sementara Yusan dan Zahra pasti sedang bingung kenapa saya bisa menangis gara-gara revanol. Saya jadi merasa cengeng dan bodoh. Memang bego!

Tapi lalu tiba-tiba Angga datang bawa es krim. Saya pergi ke kamar Zahra dan berbagi es krim itu bertiga, lalu saya bilang saya mau dikasih revanol. Maka begitulah, saya menelungkup di lantai menjilati eskrim sementara Zahra mengobati luka saya dengan revanol.

Sekarang, saya seperti bisa melihat seperti apa saya waktu sakit dulu. Menyedihkan dan sendirian. Saya cuma punya dinding untuk dipeluk ketika akan diseret ke dokter, jadi pembohong dengan membuang obat ke tempat sampah lalu berkata sudah ketika mama bertanya "udah diminum obatnya?", tetap masuk sekolah padahal maunya saya tiduran di kamar dan disuapi bubur ayam.

Suatu kali, kepada Yusan, Zahra pernah bilang bahwa sakit itu nggak enak apalagi sendirian, tapi saya dulu sendirian di dalam sakit.

Lantas inti dari tulisan ini apa?
Saya juga enggak tau tapi tiba-tiba saya ingin berterima kasih pada seseorang yang entah kenapa saya melihatnya seperti dinding: tempat saya bergantung dan berlindung sementara orang-orang berusaha keras menyeret saya ke dokter itu, tempat saya diam-diam mengadu betapa bencinya saya dipaksa pakai obat.
Tetangga yang entah bagaimana bisa datang-datang membawakan es krim sementara orang-orang memaksa mengoles luka saya dengan alkohol dan betadin.

Ah, dan dia juga kebetulan menjadi 21 hari ini. Jadi terima kasih dan selamat ulang tahun, ya Angga. Semoga kamu selalu bahagia.

Selamat bertambah dewasa. :)


No comments:

Post a Comment