March 27, 2012

Trip Tidung: Jogja-Kutoarjo.

Tiba-tiba udah rabu dan pakaianku belum mulai aku packing juga. Waktu berjalan dengan tidak terasa, dan ini udah kali entah ke berapa aku keluar masuk kamar Zahra. Anak itu masih rusuh dengan bab1 proposal skripsinya sedangkan aku malah rusuh dengan baju-baju.
Sweater tebal merah mililk seorang teman yang pagi tadi kujemur masih jauh dari kering. Aku mengangkut pakaian-pakaian yang sebelumnya sudah kulist di buku orens pemberian Kak Nadia, melipat lalu menumpuknya dalam koper yang ada di kamar Zahra. Agenda packing selesai dalam sekejap. Semua itu cuma perlu dikerjakan. Air galon yang baru juga sudah di antar.

Hal lain lagi yang harus dilakukan setelah mandi tentu saja memesan taksi.

Aku dan Zahra sampai di pintu masuk selatan stasiun Tugu tepat pukul setengah empat. Kak Yusan sudah lebih dahulu stand by. Kasihan Kak Yusan, jam 7 pagi ia melawan dingin dari gerimis dini hari untuk memesan tiket prameks yang loketnya ternyata baru buka pukul 8. Dan sumpah demi apaa, tiket keberangkatan prameks kutoarjo terakhir hari itu baru bisa dipesan setelah pukul satu. Iya, kami memutuskan berangkat memakai rute Jogja-Kutoarjo-Jakarta dan bukannya rute langsung Jogja-Jakarta dalam perjalanan kali ini. si Zahra katanya ingin coba prameks, dan aku sendiri sama sekali tidak merasa rugi. Itung2 nambah koleksi tiket.

Prameks Jogja-Kutoarjo yang kami tunggu ternyata baru akan datang pukul 16.20. Sebelum memutuskan masuk ke dalam stasiun, aku menyempatkan diri membeli minuman di indomaret yang berada di dekat loket. Mengambil  3es krim, 3 lolipop, 1bengbeng, 1bungkus permen happydent white dan air mineral ukuran paling besar untuk bekal perjalanan. Kami duduk di sebuah bangku panjang menghadap peron 5, petugas di tempat periksa tiket bilang kalau kereta kami akan masuk lewat peron 5 dan itu baru akan datang 1 jam lagi.

"Kenapa cepet banget sih ke stasiunnya?" Kak Yusan bertanya setengah heran setengah sebal. Aku cuma menunjuk Zahra ringan: Si Ratu Paranoid itu. Lalu membuka bungkusan es krim dengan wajah yang sudah pasti berseri-seri. Sambil menunggu seperti ini, paling enak makan es krim. Kuberikan es krim, bengbeng dan lolipop untuk Kak Yusan sebagai hadiah. Sebagai permintaan maaf karena ia sudah bolak-balik stasiun sendirian di pagi buta, dalam dingin yang menggigit pula.

Dan akhirnya, setelah keributan melarang Zahra makan es krim banyak-banyak (karena masih penyembuhan tulang, Zahra sebenarnya cuma boleh makan gula dari buah apel dan pir), merebut lolipopnya, serta menganiayanya dengan berbagai macam cara. Prameks idaman yang kami nanti-nantikan akhirnya datang juga. Jalur kedatangan kereta pindah ke peron empat, orang-orang menyerbu masuk berebut tempat.
Awalnya Zahra berhasil dapat tempat duduk di antara kerumunan bapak-bapak paruh baya yang memasang tampang terlalu ramah. Yusan siap sedia berdiri di dekatnya. Mata jeliku menangkap cukup ruang yang berada 3meter di depan, aku berlari ke sana lalu memanggil Zahra. Ternyata itu ruang cuma cukup untuk 2 orang. Kak Yusan berdiri di depan kami dengan kebingungan. Tepat di hadapanku ada ruang yang sebenarnya bisa cukup untuk Kak Yusan. Tas plastik di samping ibu itu harusnya diletakkan di bawah, atau kalau mau ya dipangku, dan mas-mas necis bertungkai panjang itu cuma perlu menggeser duduk sedikit. Aku menunjuk-nunjuk barisan tempat duduk di depanku. Berharap orang yang duduk di sana mau sedikit sadar diri lantas menunjukkan empati. Tapi nyatanya percuma. Setelah lari dari bapak-bapak paruh baya yang memasang tampang terlalu ramah ternyata kami harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak sadar lingkungan. Atau ini cuma efek hari pertama datang bulan?

Akhirnya karena sebal, yang bisa kulakukan cuma duduk diam sambil menatap barisan kursi di depanku dengan tajam. Segitu susahnya kah untuk empati sedikit dan kasih ruang untuk oranglain?

Maka akhirnya kami berbagi ruang tak seberapa itu, dengan Yusan yang duduk di tengah, di bahunya, ada Zahra yang meletakkan kepala. Sementara aku masih mengutuk, mengawasi tajam mas-mas bertungkai panjang yang sebenarnya bisa betul-betul tampan kalau saja mau sedikit bertindak pahlawan.


taken at prameks kutoarjo.
Sudah mulai gelap dan lihat! betapa langit itu luas.


Tapi yaudahlah, dengan begini toh kami bisa tetap stick together :)

No comments:

Post a Comment