April 14, 2012

boys and girls

Barusan saya baca blog post terbaru salah seorang adik angkatan yang juga dulu merupakan staf saya di sebuah organisasi. Adik angkatan saya itu kayak-kayaknya abis baru ditembak atau gimana sama seseorang yang dekat dengan dia dan asumsi saya dia udah nyaman bersahabat dengan orang itu. Tapi yang disayangkan adalah mungkin karena ditolak orang yang nembak memutuskan untuk sementara lost contact.

Yah, saya cuma mau bilang, kadang-kadang di dalam hidup kita memang akan menghadapi hal-hal seperti itu.

Saya jadi ingat satu kutipan dari film 500 days of summer yang juga pernah saya kutip di blog ini. Bahwa, a guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other.. maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late or maybe forever. Awalnya saya juga tidak percaya. Saya pikir, perempuan dan laki-laki bisa kok saling berteman dekat tanpa harus terpengaruhi dengan campur rasa asmara. Seharusnya bisa, tidak peduli meskipun orang2 akan sering salah paham dengan hubungan mereka tapi yang jelas, di dalam, mereka tahu bahwa hubungan mereka murni berteman.

Tapi agak-agaknya saya salah. Apa yang saya dapatkan di kehidupan nyata malahan membuktikan bahwa kutipan ini bukan cuma sekedar kutipan, tapi semacam hukum. Seperti hukum-hukum fisika yang dirumuskan dengan huruf dan angka itu.
Seperti E = mc2. Seperti W= m.g



Sewaktu SMP di aceh setelah tsunami dulu, saya berteman baik dengan salah seorang teman sekelas. Dia itu semacam playboy kalau soal perempuan. Pernah menyebabkan insiden dimana 2 sahabat berantem cuma gara-gara dia (dan itu bikin saya tahu bahwa pertengkaran dua perempuan bisa lebih mengerikan dibanding 2 laki2 adu otot). Tapi dia teman saya, satu-satunya orang yang mau-maunya mengajarkan saya yang bebal ini main basket setiap pelajaran olahraga di sekolah sementara teman-teman lain sudah menyerah, yang mau-maunya mengangkut saya setelah main di pantai padahal saya sedang dalam keadaan basah. Mau-maunya menurut kalau saya bilang tuker motor setiap kali harus membonceng saya karena saya tidak suka motor kesayangannya yang sudah ia modif dan membuat siapapun yang dibonceng merosot turun sampai ke punggungnya.
Yang membuat kami dekat ialah karena dia sering curhat setiap kali pusing dengan pacar-pacarnya, setiap kali dia galau sama cinta pertamanya yang juga merupakan teman sekelas sekaligus tetangganya, setiap kali dia berantem dengan sahabat perempuannya yang lain, dan saya ternyata sejak dulu memang orang seperti itu, selalu senang kalo dicurhatin (walaupun pada kenyataannya dia yang selalu saya salah-salahin *karena memang dia salah*).

Lama setelah itu, pada awal-awal masa facebook baru muncul, kami bertemu lagi setelah lost contact begitu lama. Saya baru tau bahwa ternyata dia melanjutkan sekolah di Langsa selagi saya melanjutkan sekolah di Banjarmasin. Saya pernah bilang bahwa menemukan teman lama yang hilang itu rasanya sama seperti menemukan harta karun. Senang! dan itu benar. Satu hal yang saya temukan ialah dia sudah banyak berubah. Bukan lagi bocah SMP yang senangnya main-main seperti yang saya kenal dulu. Saya juga ikut berubah selama masa itu, selama masa berat SMA dimana saya harus jauh dari tempat tumbuh saya sebelumnya setelah 4 tahun lamanya.

Selanjutnya kami jadi akrab lagi karena dia sering curhat tentang keinginannya pindah kuliah sambil juga masih tentang cinta pertamanya yang kembali lagi jadi tetangganya. Sebagai sahabatnya saya mendukung, saya mendukung dia bertahan dan mendukung dia pindah kuliah kalau memang dia benar tidak tahan. Sampai akhirnya dia bilang suka dan sayang sama saya. Lalu saya marah. Saya tidak bisa percaya dan saya anggap dia tega. Seharusnya dia tidak boleh suka apalagi sama saya. Tapi dia bilang saya orang paling baik yang dia kenal yang tetap baik sama dia. Saya heran apa yang aneh dari baik dan tetap baik pada seseorang? Saya yakin semua orang dianugerahi sifat baik pada dasarnya dan punya kemampuan untuk jadi baik pada siapa saja. Lagipula, saya sudah merasa cukup pada rasa sayangnya yang mau-maunya mengajari saya basket, mau-maunya mengganti motor dan membonceng saya basah-basahan. Tidak perlu diucapkan.

Akhir dari kisah persahabatan yang manis ini ialah lost contact untuk yang kedua kali.

Barangkali sama dengan kisah adek angkatan saya ini. Saya heran, kenapa menolak harus selalu berarti kita kehilangan seseorang. Tapi yah, itu namanya pilihan. Dan saya juga harus menghargai pilihan orang-orang yang memutuskan menghilang itu. Mungkin bagi mereka menjauh merupakan cara paling tidak sakit untuk merespon penolakan. Yang mereka tidak tahu ialah bahwa bagi orang yang menolak dan ditinggalkan itu, segala sesuatunya juga sama sakit.

"A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other.. maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever..."
-500 days of summer-

Bahkan kalaupun harus begitu, entah keduanya maupun salah satu, entah di waktu yang salah ataupun terlalu terlambat, keduanya masih bisa tetap berteman, kan? atau mungkin cuma masalah waktu?

2 comments:

  1. Gua sangat suka satu hal di blog ini... Sebuah kalimat pamungkas di akhir setiap postingan:

    Dimuntahin Melyn ke Kantong Plastik (idenya superb)

    ReplyDelete
  2. emang dulu pernah sekolah di Banjarmasin kah???

    sekolah dmn emang ny??

    ReplyDelete