May 13, 2012

bekas jejak



Seberapa dalam seseorang bisa meninggalkan bekas ke orang lain?

Saya enggak paham waktu menyaksikan sendiri reaksi seorang tetangga saya ketika tiba-tiba berhubungan kembali dengan salah satu mantannya. Salah satu mantannya yang paling berbekas sampai sekarang itu tiba-tiba mengajak ia ketemuan di saat ia jelas-jelas baru saja jadian dan baru berhasil memulai langkah untuk melupakan. Saya heran. Bagaimana bisa seseorang yang sudah jelas-jelas menyakiti dengan sebegitu brengseknya masih berkemampuan memberi efek sedemikian rupa. Tetangga saya itu histeris. Dengan cara yang membuat saya berpikir betapa ini tragis. Ironis.

Matanya berkaca-kaca, mulutnya tidak bisa berkata-kata. Speechless. Jadi karena waktu itu saya dan dia sedang berada di tempat umum, dia cuma bisa menjerit dengan mulut terkatup.

Tentang pertanyaan saya yang membuka tulisan ini. Tetangga saya itu juga tidak tahu. Cuma 3 bulan dan menurut saya lebih dari separuhnya adalah kesakitan. Sejak awal saya percaya bahwa pacaran itu sebagian besar egoisme, dan mereka menjalani hubungan yang (saya nilai) hampir seluruhnya egoisme. Tidak boleh ini tidak boleh itu, harus begini harus begitu dan kebanyakan semua itu dilakukan atas nama rasa sayang. Sekali lagi saya katakan, saya tidak paham.

Saya bingung pada kata sayang yang diumbar-umbar. Bagaimana cemburu itu sebenarnya bisa menyakiti tapi diatas dasarkan pada rasa sayang. Saya ingat suatu malam seseorang melempar kata-kata jahat kepada saya dibawah pengaruh rasa cemburunya, dan kata teman saya, cemburu itu ada karena sayang. Ini yang saya tidak dapat terima. Kenapa rasa sayang dibawa-bawa?

Yang saya tahu, baik untuk yang menyayangi ataupun yang disayangi rasa sayang tidak seharusnya menyakiti,

sebab rasa sayang yang bikin sakit itu bullshit.

No comments:

Post a Comment