May 1, 2012

jerih


Ini dia video tampil waktu kongres amalika kemarin. Iya, waktu maag saya kambuh agak-agak lebih nyeri dari biasanya dan saya jadi meringkuk di tempat tidur di kamar abe (baca: nahan sakit dengan muka masih belepotan make up). Iya, yang saya salah muntah di kamar mandi cowok sampe akhirnya disorakin begitu buka pintu. Memang rusuh.

Tapi inti postingan ini bukan itu. Yang mau saya bilang adalah, bahwa apa yang ada di video ini merupakan jerih dari apa yang kami usahakan. Cermin untuk melihat kembali seperti apa proses yang kami pilih.

Satu hal yang selalu saya dapatkan setiap kali penampilan-penampilan itu adalah kesadaran bahwa semuany memang setimpal. Kamu berlatih sekeras apa? maka segitu itu apresiasinya, bukan dari orang lain, tapi diri kamu sendiri. Apresiasi bukan sekedar soal riuh tepuk tangan yang kedengaran seperti bisikan takjub di telinga, tapi bagaimana kamu menilai performa itu, seberapa banyak kamu merasa senang di dalam barisan: menari. Seberapa puas kamu keluar dari arena sambil menahan pegal di kaki, rasa lelah dan baju yang tahu tahu sudah basah. Bagaimana kamu mengapresiasi 12 menit itu setelah persiapan kostum dan make up segala macam yang memakan waktu 1,5 jam.

Dan yang kali ini memang setimpal.
Enggak apa-apa, kadang-kadang manusia memang butuh yang seperti ini supaya bisa evaluasi.

Saleum :)

3 comments: