May 7, 2012

Lampu & Kamu

from random search via uncle google

Menemukan alasan kenapa aku menyukai lampu-lampu seperti menemukan alasan kenapa aku menyukai kamu. Atau mungkin tinggal di balik. Ada banyak pilihan pernyataan yang mungkin dapat dijadikan alasan, tapi toh aku jelas-jelas tahu bahwa alasan-alasan itu memiliki lubang, pernyataan yang memiliki celah untuk dicecar, untuk dipertanyakan.

Tentang kamu yang baik.
Ah, di dunia ini jelas-jelas ada banyak orang baik, yang lebih baik dari kamu pun juga ada, yang manis melebihi cokelat, yang seperti dinding, hangat seperti selimut, nyaman serupa rumah. Dan bukankah sudah pernah kubilang bahwa kamu bukan tempat yang nyaman, kamu itu pusat debar, kemilau yang membikin silau. Membutakan. Maka, ini dia lubangnya.

Sama seperti alasan indah untuk bintang dan lampu-lampu itu.
Ada banyak hal indah berserak di atas bumi.
Ada banyak yang lebih rupawan dibanding kamu.
Apalagi?

Kamu mempesona? Sebegitu menariknya?
Baiklah, tapi ini subjektif kan? Tidak rasional. Mana bisa dijadikan alasan.

Maka, selanjutnya aku memilih menjelaskannya dengan cara yang dipakai kak ninda saja. Bagaimana kalau alasan dari semuanya hanya sesimple aku yang jatuh cinta, dan ya, lalu jatuhnya ke kamu.
Iya, sesederhana itu. Sama halnya dengan aku yang begitu menggemari lampu-lampu: bintang-bintang yang berserakan di atas bumi.

Atau mungkin, alasannya hanya tepat mati sama seperti bintang dan lampu-lampu yang aku gemari:
karena kamu berkilau,

dan tidak terjangkau.

malam ini hujan dan aku menontoni lampu-lampu rumah dari lantai 5 gedung pascasarjana
menurutku, lampu dan hujan itu berpasangan
jadi bagaimana kalau kamu jadi lampunya dan aku hujannya?*kedip2 menjijikan

2 comments:

  1. sok tau banget sih si abang yg satu ini. bukan ardi bang. ahh.. kita kemaren belom sempet cerita2. abang sih, cerita mbak itu mulu :P

    ReplyDelete