May 13, 2012

Roti Bakar seberang Gading Mas

Menurutku bi, salah satu hal paling menyenangkan di dunia ini adalah makan roti bakar di pinggir jalan Kaliurang. Iya, roti bakar panas-panas yang mangkal di seberang gading mas.

Dulu, pada masa-masa awal semester satu, aku selalu memesan roti bakar keju-keju, itu favoritku. Bapak penjualnya bahkan sampai sudah hapal, aku dan seorang tetangga yang selalu berdua kemana-mana itu akan menunggui roti bakar kami dengan wajah memelas, lalu si Bapak akan tanpa sungkan menghadiahi kami parutan keju melimpah ruah dan kami akan tanpa malu-malu menerima sekantong roti bakar itu dengan wajah sumringah. Lantas pulang ke kosan, memakannya dengan tamak, setengah berkompetisi dalam hal berebut potongan roti dengan keju paling banyak. Dan rasanya enak.

Dulu mengingat ini sakit bi, maka aku berhenti datang dan membeli roti bakar. Sebagian karena aku tidak punya jawaban setiap kali si bapak bertanya "teman kamu mana?". Memangnya aku mau jawab apa? Waktu itu aku cuma cengengesan bi, meringis. Lama-lama aku capek meringis. Dan terus menerus ditanyai dengan pertanyaan yang sama tanpa bisa menjawab itu rasanya.. tidak enak. Tapi ada masa-masa tertentu aku nekat membeli roti bakar sendirian. Sendirian pula melahapnya di kosan. Rasanya keju-keju campur airmata. Roti bakar ini juga lebih cepat dingin dari biasanya.

Tapi yang namanya waktu bi, bisa merubah manusia. Keadaan berubah, manusia berubah, apa yang tadinya luka bisa sembuh juga lama-lama.

Sekarang roti bakar favoritku rasa cokelat-keju. Tidak perlu menunggu sampai di kosan dan menahan air liur menetes-netes di jalan, sekarang aku lebih suka makan langsung di tempatnya. Sembari mengagumi lampu-lampu kenderaan yang menyorot silau sekaligus indah. Lalu berharap ada satu saja bintang yang kelihatan di langit malam yang penuh awan hitam. Kalau cuaca cerah, bahkan lebih spektakuler. Bayangkan saja kamu makan roti bakar dikelilingi cahaya, bahkan juga di atas kepala. Lalu bayangkan juga ada seorang teman di sebelahmu, lawan bercerita ini itu, atau ralat: telinga yang mampu mendengar semua kecerewetanmu tanpa mengeluh. Rotinya memang jadi dingin karena kamu tidak berebutan memakannya cepat-cepat. Tapi hati kamu hangat.


p.s: dan aku berharap kita tetap bisa seperti ini, hei teman makan roti bakar yang menyenangkan. duduk mengagumi lampu bersama sambil bercerita: menunggu roti bakar kita. terima kasih untuk tidak menghiraukan sms "udah mau pulang"-ku tadi malam dan tetap datang. Ayo malam ini kita ngeroti bakar lagi :')

1 comment:

  1. teman yang baik...
    ternyata nama kantong plastik itu sangat filosofis...
    dia rela menemani, rela mewadahi, meski kadang.. ketika isi itu telah pergi, dia tetap setia...
    sungguh beruntung teman makan roti itu,
    tapi benar juga waktu telah mengubah segalanya...
    tempe aja, itu dari kedelai yang difermentasi beberapa hari... hingga berubah jadi tempe...

    indah, semoga cerita hidup ini berakhir indah *baca: khusnul khotimah. amin

    ReplyDelete