May 18, 2012

SILENCED : dan jari tengah pun mengacung


iya, jari tengah, bukan ibu jari

Setelah sekitar nyaris setengah jam memikirkan kata apa yang tepat untuk membuka postingan ini, akhirnya kata yang kuputuskan untuk dipakai adalah "SUPERB!"yang mana untuk sekali ini, secara seenaknya kuputuskan merupakan akronim dari frasa superbangsat. Faktanya, inilah film dimana banyak sekali terdapat bangsat-bangsat memuakan di dalamnya. Jadi bagi Anda yang belum tahu bangsat itu seperti apa, sangat direkomendasikan menonton film ini.

Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul Dokani yang ditulis oleh Kong Ji-Young dan diterbitkan pada tahun 2009. Konon, ceritanya terinspirasi dari sebuah insiden nyata yang menimpa anak-anak bisu tuli di sebuah sekolah berkebutuhan khusus di daerah Gwangju, Korea Selatan.

Di bagian awal film, kita mungkin akan dibuat sedikit bosan dengan alurnya yang terkesan lambat. Cerita dimulai dengan kedatangan Kang In-Ho ke sebuah kota kecil bernama Mujin sebagai guru seni di sekolah berkebutuhan khusus bernama Jae-Ae. Sekolah ini merupakan sekolah binaan pemerintah yang didirikan untuk memberikan pendidikan dan rumah kepada anak-anak bisu-tuli yang miskin maupun yatim piatu. Dalam perjalanan ke sekolah, Kang In-Ho bertemu dengan Yoo Jin, perempuan kasar namun penyayang yang bekerja di Mujin Human Rights Centre. Mereka dua inilah salah dua orang dewasa yang tidak bangsat yang dapat kita temukan dalam film ini. Jangan berharap ada kisah percintaan di antara mereka, karena itu sia-sia. Silahkan juga mengantuk karena gambarnya yang bernuansa abu-abu dimana-mana karena selanjutnya, begitu sampai pada adegan Kang In-Ho menemukan Yoo-Ri duduk menggantung di ambang jendela, mata yang tadinya mengantuk akan melek semelek-meleknya. Kita akan lupa pada rasa ngantuk yang tadinya mendera. Lalu selanjutnya, (kalau bukan istighfar dan masya allah) yang keluar dari mulut kita adalah sumpah serapah. Aku sendiri memilih yang kedua.

Film ini mengaduk emosi. Sungguh!

Bayangkan saja anak bisu tuli yang dipukuli sampai berdarah-darah bahkan di hadapan para guru. Anak perempuan manis yang kepalanya ditenggelamkan di mesin cuci lalu rambutnya diguntingi. Lalu Yoo-Ri si bisu-tuli-terbelakang mental yang selama bertahun-tahun diperkosa berkali-kali di atas meja lalu diikat dengan lem, tangannya.

Cuma binatang kan yang bisa-bisanya melakukan itu?

Sewaktu Yoo Jin meminta pertanggung jawaban ke Dinas Pendidikan dan Balai Kota, keduanya lepas tangan begitu saja. Pihak Balai Kota mengatakan peristiwa tersebut merupakan tanggung jawab Dinas Pendidikan karena terjadi di lingkungan sekolah, sementara Dinas Pendidikan menolak dengan alasan peristiwa tersebut terjadi seusai jam sekolah dan Sekolah Ja-Ae berada dibawah pengawasan Balai Kota. Kepolisian? Jangan diharap, mereka menolak menangkap. Masalah sebenarnya ialah karena para petinggi di sekolah Ja-Ae ini merupakan orang-orang kuat, pejabat di mata masyarakat, sosok yang bahkan sampai mendapatkan piagam gubernur karena dianggap berjasa. Sementara Yeon Doo, Yoo Ri dan Min Soo bukan siapa-siapa, cuma anak-anak bisu-tuli-terbelakang mental yang bahkan tidak punya orang
tua untuk melindungi mereka.

Ketika akhirnya kebenaran tragis ini berhasil diangkat ke pengadilan. Kita akan menemukan berbagai usaha penyuapan yang memuakkan. Bagaimana Kang In-Ho yang saat itu memang sedang kesulitan keuangan disuap dengan uang dan jaminan-jaminan kehidupan yang menyenangkan. Di sinilah dilema itu jelas-jelas terasa. Rumah Kang In-Ho di Seoul sudah dijual demi membayar tuntutan 50 juta won supaya ia bisa mengajar (aneh memang, orang mau ngajar malah disuruh bayar). Anak perempuannya, Sol-Yi yang masih kecil dan sakit-sakitan tinggal bersama ibunya yang cerewet ampun-ampunan sementara saat itu di Mujin, Kang In-Ho sudah tidak punya rumah dan pekerjaan sehingga dia terpaksa tinggal di kantor Yoo Jin.

Ada satu kutipan yang menjadi favoritku, ketika akhirnya ibu Kang In-Ho datang ke Mujin dan memaksanya kembali ke Seoul demi anaknya. Si ibu mempertanyakan keputusan Kang In yang lebih memilih anak-anak bisu tuli dibanding bersama Sol-Yi, anaknya sendiri. Saat itu, sambil menggandeng Yeon Doo, Yoo Ri dan Min Soo, dengan penuh kepedihan Kang In-Ho mengatakan, aku ada di sana saat peristiwa itu terjadi. Tapi aku tidak berdaya. Kalau sekarang aku berhenti di tengah jalan. Aku tidak tahu dapat menjadi ayah yang baik untuk Sol-Yi.

Damn!






No comments:

Post a Comment