May 5, 2012

Tidak Sampai 3 Menit yang Terasa Abadi

Maka, segala hal tentang kamu adalah serba salah.

Seharusnya saya sadar sedari awal bahwa menemukan kamu setelah begitu lama sama saja seperti menyuntikan racun ke tubuh saya sendiri. Iya, setelah saya sembuh dan bersusah payah pulih.

Kamu tidak tahu seberapa banyak euforia ini meracuni. Bagi saya, apa yang terjadi tadi terlalu banyak. Terlampau lebih untuk saya tanggung. Tidak seperti yang awalnya saya rencanakan.
Ah, kamu tidak tahu.
Skenario saya di awal ialah hanya melihat kamu dari jauh, lantas menyapa sembari menjelaskan keberadaan saya di sana, lalu cepat-cepat menghilang. Sudah. Begitu saja. Sudah cukup. Iya, begitu saja bagi saya sudah cukup.

Tapi rupa-rupanya langkah yang kamu ambil tadi adalah segala sesuatu yang tidak saya antisipasi: tidak sampai 3 menit yang terasa abadi.

Seharusnya kamu tidak mendatangi saya begitu saja ketika diam-diam saya sedang sibuk menenangkan debar dan mengumpulkan keberanian untuk menyapa kamu. Menunggu momentum itu. Seharusnya kamu tidak datang dan tinggal. Tidak perlu mengobrol. Maka saya jadi tidak perlu melewatkan malam sembari keracunan kamu. Oleh 3 menit yang terasa abadi itu.

Pada peta benua asia besar yang menghias salah satu dinding, saya sadari bahwa rupa-rupanya perasaan saya tidak berubah. Segala apa yang terjadi kemarin, satu titik dimana kesedihan saya meleleh begitu rupa sampai-sampai membuat hangat airmata, rupa-rupanya cuma membuat saya sadar diri, sadar posisi, bahwa antara saya dan kamu tidak ada yang mungkin untuk diharapkan lagi. Sekaligus tamparan yang menyadarkan saya bahwa ternyata perasaan saya diam-diam sudah menjadi terlampau dalam. Respon saya itu yang membuktikan.

Lalu sekarang sudah lebih 2 bulan. Saya cuma butuh 3 hari untuk pulih dari rasa sedih melepaskan kamu, melepaskan harapan pada ekspektasi entah apa yang saya punya mengenai kita. Kita yang terasa putus asa karena dari semuanya yang terasa nyata memang cuma kamu dan aku saja.Tapi sekarang sudah 6 bulan tapi tahu-tahu saya sadari perasaan saya masih sama.

Saya masih kecanduan. Saya masih keracunan. Kamu.
Seperti kecanduan saya pada eskrim dan kopi. Meracuni. Membuat amandel saya bengkak dan sakit maag. 

Seorang teman saya tadi siang mengatakan saya terjebak gebetan. Membalas sms saya yang meledek ia terjebak mantan. Tapi kamu bukan gebetan, bukan teman yang dapat membuat saya merasa nyaman. Kamu adalah pusat debar. Lampu pijar yang akan selalu menyilaukan. Pasar malam yang mampu membuat saya senang kesetanan. Hanya mungkin saya abaikan kalau saya menutup mata. 


Dan saya hanya terjebak kamu.
Kamu.
Apapun posisi kamu.
Iya, apapun. karena saya sudah kehabisan cara meletakkan kamu.

1 comment: