May 18, 2012

Trip Tidung : Kepulauan Seribu dan Muara Angke

Pagi-pagi kami sudah siap sedia di meja makan. Menghadapi menu sarapan sehat yang biasa, selada, timun-tomat, buah (kali ini alpukat) dan lauk rebusan. Cuma Yusan di antara kami yang makan nasi, baju kaos biru muda bergambar pantai dan pohon kelapa di dalam lingkaran sudah rapih kami pakai, di bawahnya ada tulisan "Trip to Tidung Island". Ini dia, akhirnya :D

Pukul setengah 7 pagi kami bergerak dari Slipi menuju daerah Pulo Mas, lumayan jauh ternyata, kami sampai sekitar 30menit kemudian bertepatan dengan bus kuning yang juga baru tiba. Itu bus yang nantinya akan mengangkut kami.

Sambil menunggu jam keberangkatan Aku, Zahra dan Kak Yusan memutuskan duduk-duduk di depan teras semacam front office door sekolah itu, say hello pada para guru lain yang merupakan teman kerja Ayahnya Zahra, mengguntingi koyo dengan berbagai bentuk (dari bentuk kotak, donat sampe lope-lope) untuk dipakai Kak Yusan yang saat itu sedang masuk angin lalu memperkenalkan Kak Yusan sebagai orang Korea keturunan Sunda yang sedang kuliah di Jogja. Demi Tuhan itu cuma bercanda, tapi enggak tahu kenapa semua orang percaya.

Si Zahra mulai sibuk mencari-cari guru muda ganteng badan kekar dada bidang incerannya sejak lama untuk ditunjukkan padaku. Iya, memang sesat anak itu! Akhirnya daripada bertambah sesat, kami bertiga memutuskan langsung naik ke bus, memilih tempat duduk untuk 3 orang: aku di dekat kaca, zahra di tengah, lalu Kak Yusan di ujung. 2 orang EO membagi-bagikan snack dan air minum, lalu ada kue sus gratisan dari salah seorang ibu-ibu. Di tempat duduk belakang kami ada Kak Tia, Ria dan Lia, 3 orang bersaudara yang ibunya merupakan guru di tempat Ayah Zahra bekerja. Mereka cantik-cantik :))

Sekitar pukul 8 lewat, bus mulai bergerak.

Sebelumnya memang tidak ada bayangan bus ini akan membawa kami kemana. Aku bahkan tidak tahu letak Pulau Tidung di dalam peta. Rupanya, kami dibawa ke Muara Angke, salah satu pelabuhan yang menyediakan kapal untuk mengangkut penumpang ke pulau-pulau di kepulauan seribu. Kapal-kapal yang ada di Muara Angke adalah kapal-kapal kayu milik masyarakat pulau yang biasanya melayani rute ke Pulau Tidung Besar, Pulau Panggang, Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa dengan jadwal rutin setiap harinya. Kepulauan Seribu memang terdiri dari 11 pulau kecil berpenghuni dan beberapa pulau lain yang khusus dijadikan tempat wisata macam Pulau Bidadari, Pulau Onrust, Pulau Kotok Besar, Pulau Puteri, Pulau Matahari, Pulau Sepa dan sebagainya.

Sebenarnya, selain dari Muara Angke, akses ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu juga bisa di tempuh lewat pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Pelabuhan Tanjung Pasir dan Pelabuhan Marina. Hanya saja kapal-kapal yang ada di tiap pelabuhan cuma melayani rute pulau-pulau tertentu.

Rombongan kami tiba di Muara Angke sekitar pukul 9. EO bilang bahwa kami harus menunggu sampai kapal datang. Yasudah, karena kamera itu pedang dan waktu adalah sesuatu yang harus dibunuh, maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan ialah foto-foto.


om-om guru! (harusnya para bapak guru) narsis bentar sambil nunggu kapal.
yang lagi nunjuk pake topi abu-abu itu dedemenannya zahra si anak sesat :P
bus kuning
at Muara Angke: beton-beton dan perahu kayu

Muara Angke sendiri juga merupakan salah satu tempat penjualan ikan laut segar yang ada di Jakarta. Dari Pelabuhan ini, ada 5 kapal yang melayani rute ke Pulau Tidung setiap harinya. Tapi sialnya, karena memang bertepatan dengan tanggal merah, jumlah turis yang berniat wisata ke pulau-pulau di kepulauan seribu juga minta ampun banyaknya. Seharusnya ini bukan masalah mengingat trip rombongan kami yang di organized oleh sebuah tour travel. Tadinya kupikir, rombongan kami sudah disewakan kapal atau bagaimana sehingga tidak perlu khawatir akan terpisah. Masalahnya adalah agak-agaknya tour travel yang jadi EO trip rombongan kami agak-agak sakit jiwa. Jadilah, kami akhirnya harus ikut menunggu kapal dan berebut masuk desak-desakan.Kalo macam begini sih, di-EO-in pun jadi ngga berasa efeknya.

Akhirnya setelah luntang lantung sampai kering (badan yg tadinya basah keringetan jadi kering lagi, heh!), kami dinaikan sebuah kapal jurusan pulau lain. Jumlah turis yang ada saat itu memang membengkak, jadilah kayak-kayaknya tour travel yang kami pakai memutuskan menyewa sebuah kapal jurusan pulau lain untuk membawa kami ke pulau Tidung. Aneh memang, seharusnya udah dari kapan kalau memang mau sewa kapal, mungkin emang EO-nya yang belum profesional (alumnus kelas tour guiding protes =P).




LUSUH


 


Setelah ada kata sepakat antara EO dan pemilik kapal, kami semua digelandang masuk. Tunggu ditunggu, ternyata kapal tempat kami bersesak-sesak bagai ikan asin sedang kehabisan bensin. Akhirnya beberapa bapak guru dan ibu guru beranjak keluar satu per satu. Tebak untuk apa? Beli bakso!

PASANGAN DI ATAS KAPAL
mas sama mbak ini beda rombongan, mereka mesra kayak pengantin baru.
Karena bensin yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang (mungkin belinya di mekkah), akhirnya pihak EO meminta kami keluar lagi, "kita pake kapal yang lain aja. kapal yang ini nggak tahu kapan dateng bensinnya" itu kata salah satu dari mereka. Iya, memang rusuh!

Akhirnya, kami pun kembali terkatung-katung di emper pelabuhan. Mulai sebal pada EO yang tidak profesional. Aku dan Zahra memilih nyanyi-nyanyi daripada makan hati. Matahari terik di atas, sebagian dari diriku masih penasaran pada kepualau seribu, sebagian lagi ingat kosan: ingin pulang.

*akhirnya meneruskan tulisan tidung ini setelah terlalu lama berlari kesana kemari. atau kalau kata kak nadia, terlalu lama tertelan hiruk pikuk dunia. Selamat kembali menulis, Mel! :)

No comments:

Post a Comment