May 18, 2012

Trip Tidung: PULAU!

PULAU: all is blue! not just blue but so blue =)
Kami sampai ketika hari sudah terlalu siang. Aku melempar tas Zahra dan Kak Yusan ke muka mereka begitu turun dari kapal sambil mengomel. Sial! Sial! Sial! kalau dalam serial How I Met Your Mother session 6, aku mungkin sudah disebut blitz. And Yes, I am Blitz!

Penginapan kami adalah petak kamar yang terdiri dari 2 ruang dan 1 kamar mandi. Setiap ruang memiliki satu tempat tidur besar kapasitas 3 orang yang tergeletak di lantai. Totalnya ada 4 kamar untuk perempuan, yang berarti apabila satu kamar berkapasitas total 6 orang, 4 kamar dapat menampung 24 orang ibu-ibu. Kamar-kamar tersebut berada di dalam satu gang sementara untuk laki-laki, kamar-kamar berada di gang seberang, hanya terpisah ruas jalan. Setiap kali jam makan, para bapak dan om-om akan datang ke tempat kami untuk makan bersama di teras.

Sebelumnya, sempat terjadi adegan rebut-rebutan kamar antara ibu-ibu dan para om guru. Mereka menolak pindah ke zona laki-laki dengan berbagai macam alasan yang mereka punya (dari yang udah pewe sampe lagi pake celana dalem). Aku tertawa-tawa saja menyaksikan keributan itu. Ketika akhirnya para om guru keluar karena tidak punya pilihan, aku ikut meneriakan woo keras-keras untuk menyemarakan suasana.

Setelah leyeh-leyeh sebentar sehabis makan (dan muntah), kami diminta bersiap-siap lagi. It's snorkling time!

Begitu aku, Zahra dan Yusan akhirnya keluar kamar juga, teras kami sudah huru hara. Puluhan orang yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, anak-anak sampai om-om sudah gaya dengan pelampung orens lengket di badan serta fin dan snarkle yang menggantung di tangan. Lalu di antara huru hara massal itu, sesosok anak perempuan yang sepertinya agak gila menciptakan huru hara lain.

Entah siapa namanya, tapi mari kita sebut saja dia APRMDMB alias Anak Perempuan Rusuh Minta Duit Maksa Banget.

Jadi ceritanya si APRMDMB ini merengek minta duit ke salah satu ibu guru, tapi enggak dikasih. Selain karena ditangannya udah ada duit 1 plastik yang banyak banget, APRMDMB juga minta duit dengan cara yang tidak menyenangkan. Tiba-tiba si APRMDMB malah nyelonong masuk ke kamar tanpa bilang-bilang (iyalah, namanya juga nyelonong) untungnya ada seorang ibu yang liat lalu menarik badannya dengan kasar. Mungkin karena merasa diperlakukan kasar, si APRMDMB mulai menjadi-jadi, dia enggak mau pergi meskipun para penduduk sekitar udah pada ribut ikut menasehati.

Sampai kemudian, jengjeng.. si APRMDMB ngeliat aku dan Zahra yang mungkin dikategorikannya sebagai target yang lemah. Dia pun mengekori kami berdua sambil terus-terusan minta uang. Kami pun mencari-cari Yusan, meminta perlindungan.

"Apa?" kata Yusan galak ke APRMDMB
"Minta uang" jawab si APRMDMB dengan suara serak kepingin nangis yang sama sekali nggak bikin iba.
"Nggak ada," balas Yusan sambil narik Zahra yang saat itu lagi narik tanganku.
"Minta uang" si APRMDMB mengekor.
"Enggak ada!" Yusan melotot galak.
"Minta uang." suara si APRMDMB ini kayak orang takut tapi malah nyaliku dan Zahra yang makin ciut.
"APAAN SI?! dibilang nggak ada. MINGGIR NGGAK?!" Yusan mulai ngebentak.
"Minta uang"

Akhirnya, karena terus menerus diikuti, pak satpam yang baik hati menahannya untuk kami. Aku, Zahra, Kak Yusan cepat-cepat berjalan menuju tempat parkiran kapal, meninggalkan suara ribut-ribut yang masih ramai di belakang.

Beberapa saat kemudian..

Belum jauh Kak Yusan, Zahra dan aku berjalan sambil nyanyi-nyanyi, sayup-sayup aku mendengar suara yang memanggil nama kami. Aku menengok ke belakang mengecek keadaan, lalu di sanalah ia.

Pertama kali menonton film Home Alone, kata yang kukutip adalah Freeze! Itu kata yang biasanya diucapkan polisi ketika akan menangkap penjahat. Dan apabila penjahat itu sudah terkepung dan tidak berdaya, kata Freeze adalah mantra. Waktu itu, kata Freeze menjadi mantra tanpa suara. Tiba-tiba saja aku seperti sudah disihir. Freeze!

APRMDMB berlari ke arah kami dengan kecepatan yang kelihatan mengerikan. Dia kelihatan sangat siap menerjang. Yang aku takutkan cuma bagaimana kalau-kalau anak ingusan itu punya batu yang siap dia lempar, lalu dengan batu itu dia menghancurkan kepala kami, dengan begitu kami pasti mati. Tapi rupa-rupanya sasaran APRMDMB adalah Kak Yusan. Dia menerjang Kak Yusan di dalam kecepatan. Tapi untunglah, maaf-maaf saja, Kak Yusan bukanlah lawan yang sepadan. Jurus Taekwondo-nya keluar. Wataaa!

Lalu begitulah, si APRMDMB pun tersuruk. Orang-orang yang tadinya berlarian mengejar APRMDMB terpana. Orang-orang di sekitar kami juga. Kami dimarahi karena berjalan melepaskan diri dari rombongan dan  kemudian di tempatkan tepat di tengah lingkaran. Macam anak presiden saja (iya, anak presiden yang dikawal oleh ibu-ibu berjaket orens dan membawa sepatu katak). Kata penduduk desa, anak kecil yang meminta-minta uang itu mabuk. Mabuk Lem!

***

Sesampainya di kapal, aku, Kak Yusan dan Zahra memilih duduk di pojok paling belakang. Kami bertiga tidak kebagian fin. Seorang ibu menjajikan sepatu kataknya untuk dipakai bergantian, kami iya-iya saja sambil mengangguk setuju. Kapal pun melaju.

di tengah jalan ada lumba-lumba :D
Sekitar 30 menit kemudian, kapal berhenti di tengah laut yang mungkin merupakan spot terbaik untuk snorkling. Para bapak dan om-om langsung meloncat satu per satu, sementara para ibu ragu-ragu. Aku, Yusan dan Zahra mengantri di belakang jendela. Yusan melompat paling pertama, aku mendorong Zahra dari belakang sehingga dia dapat terjun ke laut tanpa perlu mengumpulkan keberanian. Aku meminta seorang ibu melakukan hal yang sama =P . Akhirnya kami memutuskan tetap snorkling meski tidak pakai fin. Bodo amatlah. 
dan inilah hasilnya
Jangan ditanya seperti apa perihnya. Cuma beberapa menit setelah terjun dan kurasakan kakiku kepentok sesuatu. Yasudah, mari snorkling dengan kaki perih dan berdoa semoga darah tidak meracuni lumba-lumba.  Apalagi memancing kedatangan Mr. Shark. Oh, tidak!
Aku menganggap ini oleh-oleh dari terumbu karang kepulauan seribu. Karena penanganan yang tidak benar (seharusnya langsung di siram alkohol), lukanya menyebabkan gatal sampai berbulan-bulan dan membuatku mendapatkan panggilan si Kaki Alay. Sungguh panggilan baru yang sangat prestisius.

Di jalan menuju pulang, Kak Yusan mabuk laut dan akhirnya muntah-muntah. Aku dan Zahra mengabaikan mual lewat nyanyi-nyanyi dan curcol di bagian belakang kapal dengan volume suara mengalahkan keributan mesin kapal. Entah pukul berapa tapi sepertinya ombak sedang besar-besarnya. Om-om guru yang menjadi dedemenannya Zahra juga bahkan sampai muntah. Akhirnya, kapal kami menepi di pinggir pantai dekat jembatan cinta. Sebagian besar dari rombongan kami memilih turun di sini lalu lanjut ke penginapan dengan  menggunakan becak. Ayah Zahra dan beberapa bapak-bapak lainnya memilih tetap di kapal. Aku, Yusan dan Zahra sudah pasti memilih turun juga. Bahkan meskipun kami harus berjalan kaki 1kilometer lagi untuk sampai ke penginapan, itu masih lebih baik daripada menetap di kapal.

Perut kami mual dan tampang kami kacau. Butiran pasir menempel pada lukaku yang tergesek-gesek tali sendal. Zahra terjatuh dua kali jadi kami memapahnya. Kakinya terlalu lelah.
Kami berjalan pulang didampingi oleh dua orang teman ayah Zahra yang aku lupa namanya. Sementara aku dan Yusan berjalan sambil memapah Zahra, salah satu om yang gendut berbaik hati membawakan sendal kami bertiga.




Di sepanjang jalan ramai oleh orang-orang yang juga bergerak pulang. Sebentar-sebentar melipir ke pinggir, mempersilahkan lewat becak-becak berpenumpang. Lalu sepeda-sepeda tua. Aku mengikuti saja jalan berpaving block ini tanpa berpikir kemana ujungnya. Senja tidung yang indah turun pelan-pelan, membuat jalan pulang ke penginapan menjadi tidak membosankan.

Selamat (menjelang) Malam :)

*klik untuk memperbesar gambar

2 comments:

  1. kyaaa seru banget... seru seru ngakak bacanya... hahahaha

    ReplyDelete
  2. seru banget pengalamannya, eh yg seru itu cara nulis ceritanya hahaha... keren.

    ReplyDelete