June 29, 2012

Jangan Takut

Ada banyak hal yang belakangan membuat aku setengah mati ketakutan. Sebagian bisa aku pahami alasannya, sisanya entah kenapa dan setelah aku pikir-pikir lagi sumber ketakutanku itu ternyata cuma satu : waktu.

Aku ketakutan pada waktu. Waktu yang sedang berjalan sekarang rasa-rasanya terlalu cepat melesat menuju masa depan. Aku jadi ketakutan pada masa depan. Hari jum'at ini akan bergulir ke hari sabtu, lalu seterusnya hari minggu, lalu senin kemudian selasa, begitu seterusnya. Sebentar lagi tanggal 29 akan menjadi tanggal 30, lalu bulan juli, dan ini membuatku ketakutan setengah mati.

Rasa-rasanya ada banyak hal yang belum aku kerjakan, ada banyak pilihan yang membuat aku setengah mati ketakutan, ada banyak surat yang belum aku balas, ada banyak janji yang mesti ditepati, ada perpisahan-perpisahan di masa depan yang sebenarnya kepingin aku hindari.
Tapi waktu sepertinya tidak kenal ampun.

KKN tinggal hitungan hari dan itu bikin aku ketakutan setengah mati. Iya, diam-diam aku ketakutan juga. Ada banyak keperluan yang belum aku buat list-nya. Aku sudah memutuskan membawa carrier dibanding koper, tapi sebenarnya itu juga bikin aku ketakutan. Bagaimana kalau ternyata membawa koper jauh lebih memudahkan dalam segala hal? Aku juga memutuskan untuk tidak pulang ke Medan. Iya, aku bukannya lupa liburan kali ini bertepatan dengan lebaran, hanya saja masalahnya, aku enggak mau pulang. Untuk banyak alasan. Titik. Dan walaupun sepertinya aku kelihatan yakin di luar, sebenarnya aku setengah mati ketakutan di dalam. Barangkali memang enggak banyak yang tahu bahwa nada final dalam suaraku itu palsu. Bahwa sebenarnya aku masih ragu-ragu. Cuma perlu satu orang yang melempar argumentasi dan itu sudah pasti akan membuat nada finalku runtuh dari atas sampai bawah. Bahwa sebenarnya aku ketakutan juga.

Bagaimana kalau lebaran nanti aku kesepian?
Bagaimana kalau nanti aku menyesal?

Bagaimana kalau  memutuskan tidak pulang ternyata adalah langkah yang salah?

Beberapa hari lalu Kak Nadia bilang dia sudah menemukan seseorang yang berani menghadap ayah-ibunya. Aku senang. Sama ketika Bang Hilmy cerita bahwa dia telah menemukan seseorang yang dicarinya dan berharap bisa menikah akhir tahun ini. Aku juga senang. Mereka berdua itu kakak-kakakku dan sedang  dalam masa berbahagia-berbahagia-nya. Tapi aku takut.

Bagaimana kalau setelah menikah Bang Hilmy jadi beda? Bagaimana kalau hubungan kami jadi seperti hubungan Angga dengan sahabatnya? Bagaimana kalau nanti Bang Hilmy jadi terlalu sibuk dan merecokinya tiba-tiba menjadi sesuatu yang tidak baik-baik saja? Yang seperti itu mungkin saja kan? Orang-orang bisa berubah. Dan kemudian, bagaimana jika seumur hidup aku tidak menemukan laki-laki yang berani menghadap ayah-ibuku? Bagaimana kalau aku ternyata tidak seberuntung itu?

Lalu hari jum'at ini juga sama menakutkan. 5 program individu untuk rapat KKN nanti siang, aku belum tahu apa yang nanti mau aku kerjakan. Bagaimana kalau di tempat KKN nanti aku jadi orang yang tidak berguna? Useless?
Dan latihan terakhir dengan Saki hari ini yang akan pulang ke Jepang tanggal 1 Juli nanti. Kenapa perpisahan itu selalu bikin takut? Kata orang, goodbyes make u think of what u had, what u lost and what u took for granted. Tapi tetap saja aku takut.

cause everything gonna be alright *muter lagu sweetbox*

Kalau sudah begini, seharusnya ada seseorang yang bisa mengelus kepalaku dan membacakan kata-kata Ustadz Salim A. Fillah yang selalu mampu menenangkan jiwa itu; Jangan Takut. 
karena kekhawatiran tidak menjadikan bahayanya membesar. hanya jiwamu yang mengerdil.

benar, hanya jiwamu yang  mengerdil, mel

3 comments:

  1. hm.
    abang cari istri bukan cuma buat abang sendiri, tapi juga bisa jadi kakak buatmu.

    lebaran di rumah abang aja, atau rini.

    ReplyDelete