June 19, 2012

kontemplasi

Tapi saya tidak perlu merasa harus membalas.
just keep calm and nice :)

Saya juga enggak tahu sejak kapan saya menjadi sebegini pendendam. Yang saya tahu, saya yang sudah cukup berpengalaman diperlakukan orang-orang dengan buruk, belum pernah sampai pada titik hati yang sedemikian busuk. Semestinya saya tidak membenci karena jelas-jelas membenci itu tidak baik.Saya seharusnya tidak boleh marah karena ini adalah hal yang saya sudah terbiasa. Yang seperti ini sudah berkali-kali saya alami, saya mestinya sudah ahli. Saya toh selalu mampu menutup telinga, selalu bisa berpura-pura semua baik-baik saja. Maka seharusnya saya bisa tahan, seharusnya saya sudah kebal.

Tapi yang tidak saya kira adalah luka itu justru ada karena mereka yang istimewa. Andai saja bagi saya mereka bukan apa-apa.

Lalu kemudian, ini jadi seperti kemarahan setiap kali mengepak koper sebelum kembali pulang ke perantauan. Ketika papa tiba-tiba datang dan mengacaukan semua barang yang sudah saya tata. Saya paling benci dirusuhi di saat terakhir. Kenapa tidak dari awal saja papa turun tangan mengepakkan koper untuk saya bawa pulang? Sama seperti sekarang.


Kenapa mereka tiba-tiba datang setelah membiarkan saya -setelah sekian lama- melawan dan bertahan sendirian? Kenapa mereka justru datang di saat-saat terakhir? Ketika saya sudah terlanjur terbiasa dengan kesepian?


Ketika saya sudah terlanjur baik-baik saja dengan diabaikan.

2 comments: