June 29, 2012

rindu


Hai, Kak :)

Jadi ini sudah pukul 2 lewat 18 di dini pagi. Tapi saya masih belum mau tidur, belum juga sanggup untuk tidur. Rindu ini terlalu menusuk, Kak. Saya rindu Kakak.

Sudah berbulan-bulan kan?
Kakak apa kabar?
Hari ini ada banyak kangen yang dilayangkan pada saya, Kak. Seorang teman bahkan menelpon saya dua kali karena kangen hari ini. Saya iri pada orang-orang yang bisa merindukan dan menyampaikan rindu itu pada yang dirindukan. Saya pikir, tidak semua orang bisa seberuntung itu. Tidak semua orang bisa seberuntung mereka.

Lalu saya membacai lagi catatan-catatan rindu saya. Ternyata ada banyak, Kak. Dan tiba-tiba saja saya sadar bahwa selama ini saya selalu menahan rindu itu di dalam. Selama ini seperti itu. Iya, selalu seperti itu. Saya jadi tau betapa menyedihkannya saya dalam merindukan. Selama ini saya cuma mampu membuat catatan. Dan bahkan, ketika rindu itu akhirnya sampai pada titik yang paling parah seperti sekarang, saya belum juga punya kemampuan menyampaikan. Saya malah menulis surat. Surat ini, Kak, yang mungkin tidak akan pernah sampai pada Kakak.

Si Zahra tetangga saya itu pernah bilang bahwa seseorang bisa sakit saking merindukan. Saya hampir-hampir tidak percaya. Katanya juga, rindu itu melumpuhkan. Saat itu saya cuma menganggukan kepala, saat itu saya sedang lupa Kak, karena saking sudah lamanya. Tapi sekarang saya ingat, bahwa dulu saya juga sering lumpuh merindukan Kakak.

gambar yang sudah saya pakai berulangkali.
kuranglebih wajah saya tiap kali merindukan itu seperti ini: lumpuh di kasur sambil menimang-nimang hape.
saya jelas-jelas tidak punya keberanian menyampaikan kerinduan, jadi saya cuma diam sambil menunggu nama kakak muncul di layar.

Kita tidak dapat bertahan pada bertahan yang salah, sementara kita juga belum mampu melanjutan, maka saya simpulkan bahwa yang paling mungkin adalah sudah. Saya berusaha menerima itu meski kadang masih berpikir bahwa sudah itu tidak sama dengan berakhir. Tidak sama dengan usai. Tidak sama dengan selesai. Yang ada adalah saya yang berharap sudah itu spasi. Berharapa ada lanjutannya suatu saat nanti.
 Tapi lama-lama yang tersisa adalah saya yang berusaha menerima, dan tidak lagi berpikir apa-apa. Sama sekali. Benar, sama sekali. Dan tidak berpikir sama sekali berarti menyapu bersih. Tidak menulis. Tidak mengenang. Tidak membaca ulang. Tidak berharap. Tidak bermimpi. Tidak menyisipkan Kakak sama sekali. Then, is it works?

Of course!

Sampai kemudian rindu yang saya pendam berbulan-bulan itu muncul lagi, saya tahan hingga berhari-hari kemudian, setidaknya sampai pagi tadi, tapi malam ini ia pecah dalam bentuk ketidakberdayaan, dalam bentuk tangisan di hadapan Alifa. Tidak lama. Saya memang tidak perlu menjadi lemah terlalu lama. Seharusnya saya memang tidak perlu memutar ulang dialog-dialog masa lalu itu: sesi curhat dengan seorang tetangga yang mengandung banyak sekali nama kakak di sana. Seharusnya dari awal saya tidak membacai lagi catatan-catatan rindu itu, tidak iseng memutar lagu-lagu yang menjadi soundtrack setiap kali saya rindu, tidak kepo membuka timeline kakak dan mengutipi seberapa jauh waktu dan peristiwa merentang kata kita menjadi sekedar Kakak dan Saya. Seharusnya saya bisa menahan diri. Seharusnya saya masih bisa memegang kendali.

Tapi Kak, apa lagi yang memangnya bisa saya lakukan ketika rindu itu bahkan sudah sampai pada kerinduan merindukan?


Lucunya, saya bahkan tidak pernah tau apa sebelum ini "kita" itu sungguh-sungguh nyata atau ternyata selama ini cuma kesimpulan saya saja. "Kita" memang tidak pernah punya ketegasan, yang ada hanyalah sesederhana saya yang cuma memercayai apa yang saya rasa ada. Dan sama seperti ketidakmampuan saya dalam menyatakan, saya juga tidak punya kemampuan mempertanyakan.
Lantas, apa lagi yang bisa saya lakukan ketika rindu itu bahkan sudah sampai pada kerinduan merindukan?
pada pagi yang terlalu dini,
semoga Kakak di sana baik-baik saja dan bahagia
 ahiya Kak, sekarang saya mengetik di atas meja :)

1 comment:

  1. Ahahaha, Mel! Sama!

    Entah kenapa aku suka caramu menuliskan hal itu.
    Kenapa aku suka tulisan ini? Mungkin karena aku sedang atau pernah merasakan hal yang sama.

    Rindu merindukan. Namun sekarang sudah pada taraf benci merindukan, ingin lupa rasanya merindukan. Uwaaahhhh >_<

    ReplyDelete