June 1, 2012

Trip Tidung: Jembatan Cinta


Sudah lewat pukul 5, tapi baik aku, Kak Yusan maupun Zahra masih giat menggeliat di tempat tidur. Acara pagi ini adalah bersepeda yang akan dilanjutkan dengan ber-banana boat bersama. Semestinya kami sudah  harus rapi sejak sehabis subuh tadi, tapi sayangnya, entah karena sudah sehati atau apa, kami bertiga secara berjamaah sedang haram shalat. Maka beginilah, tanpa salah seorang yang bergerak memulai, tubuh kami akan tetap terikat pada bantal.

Sekitar pukul 6, akhirnya aku, Zahra dan Kak Yusan tergerak juga bersiap-siap keluar. Penginapan sudah sepi, orang-orang dalam rombongan kami sudah berangkat ke pantai sejak tadi. Langsung saja, aku, Kak Yusan dan Zahra ribut-rusuh berebut sepeda. Jalanan di pulau Tidung sepertinya memang di desain untuk sepeda dan becak, itu yang kukatakan dalam video yang kami buat selama perjalanan. 

jalan pulang
Rata-rata penginapan yang ada di pulau ini memang menyediakan sepeda untuk dipakai oleh para tamu mereka. Jadi wajar, kalau parkiran di pantai ya isinya sepeda semua. Kebanyakan sepeda yang disediakan memang sepeda-sepeda tua. Jenis sepeda yang sudah berkarat-karat besinya dan jari-jarinya berbunyi berisik. Sepedaku, tidak cuma berbunyi berisik ketika dikayuh, malahan lebih parah, dia gemeretakan setiap kali melewati jengglongan. Kesialan ini tentu saja tidak lepas dari jasa Zahra. Si nyai yang satu itu merengek padaku minta bertukar sepeda, punyanya terlalu rendah katanya. Maka ia pun mengajukan usul pemakaian sepeda sesuai tinggi badan. Iya, iya. Ini memang pelecehan.


SEPEDA : mari kita parkir di pantai :)
Begitu sampai di pantai, ternyata parkiran sudah ramai. Di jalan tadi kami bertemu beberapa anggota rombongan yang lebih memilih berjalan kaki. Hari masih pagi, kami bertiga segera mengayunkan langkah setelah menitipkan sepeda-sepeda ke Mas EO yang sedari tadi sibuk berdadah-dadah. Destinasi kami jelas: Jembatan Cinta.

Jembatan Cinta merupakan ikon yang sudah terkenal di Pulau Tidung. Search saja kata pulau tidung di Google, gambar-gambar yang keluar adalah gambar pantai berlaut biru dengan jembatan dari kayu. Entah dari mana ihwalnya jembatan ini disebut Jembatan Cinta, tapi menurut Nyai Ronggeng Zahra penamaan ini sangat erat hubungannya dengan filosofi pencarian jodoh.

jembatan cinta *klik untuk memperbesar gambar
"Memetakan kaki di papan-papan kayu ini  mesti hati-hati. Sama seperti pasangan hidup, kita juga harus pilih-pilih. Mesti diseleksi." -Zahra Aulianissa Agoes, 2012- 

Akhirnya kami bertiga memilih duduk-duduk berjemur saja di jembatan cinta. Mbak-mbak EO sudah entah berapa kali bolak-balik meminta kami ikut mengantri di tenda banana boat. Aku dan Zahra sudah bilang  takut kaki kami sakit, tapi mbak2 EO pantang menyerah memaksa kami dengan jurus separuh sales separuh calo. Tapi untungnya, aku dan Zahra lebih keras kepala dibanding dia, mbak2 EO pun meninggalkan kami dengan kesal. Sebodo Amatlah. Orang nggak mau malah dipaksa-paksa.

Kami toh, sudah cukup puas dengan seperti ini, menggelesor di tepi jembatan tepat di atas karang sambil makan selusin trenz gratisan dan sebiji lolipop yang diemut bergantian.



 


Maka, inilah dia yang kami lakukan di jembatan cinta: haha hihi, foto-foto dan menikmati pemandangan  sembari berdoa semoga tidak terjatuh masuk ke laut. Menontoni boat-boat mini berlalu lalang dan menyaksikan orang-orang yang jatuh terlempar dari balon pisang. Yihaa!

*klik untuk memperbesar gambar
*klik untuk memperbesar gambar


     
Matahari di atas kami semakin tinggi sehingga kami memutuskan bersiap-siap kembali. Tepat di bagian jembatan yang melengkung, orang-orang ramai berkumpul, itu semacam tempat meloncat ke laut milik umum. Aku memandangi orang-orang itu dengan pandangan iri, kalau saja sudah jago berenang dan punya nyali cukup besar, melompat dari situ pasti menyenangkan.

Sebelum pulang, kami memutuskan beristirahat sebentar di salah satu gazebo pinggir pantai. Di sini lebih sejuk karena lebih terlindungi dari terik matahari. Sepasang suami-istri muda membawa anak mereka berkenalan dengan air laut. Aku dan Zahra menyaksikan anak umur satu tahun mereka sambil jejeritan gemas, Kak Yusan mengambil gambar dari jarak dekat.

 



Akhirnya, perut lapar jugalah yang memaksa kami menguat-nguatkan tekad meninggalkan pantai lantas tergesa-gesa pulang ke penginapan. Sebelumnya, aku dan Zahra sudah sepakat dengan niat busuk meninggalkan sepeda yang kami bawa tadi pagi begitu saja, lalu pulang naik becak. Sebagian ini akibat rasa tidak sanggup lagi menanggung malu dari bunyi berisik sepeda setiap kali kukayuh, sebagian untuk menghemat waktu, dan sebagiannya lagi, well, untuk memberi pelajaran pada mbak EO yang menyebalkan itu. Iya, benar. Aku dan Zahra memang luar biasa kurang ajar. 


Jadi kami, mengambil langkah ringan menuju pulang dan mengabaikan mas-mas EO yang menatap kami bengong di parkiran: pura-pura tidak kenal.

1 comment: