October 28, 2012

Banci Tampil (katanya)



Maka sebutlah begitu: banci tampil.
Karena memang tidak ada siapapun yang tahu bahwa bagi kamu, panggung lebih dari sekedar panggung.

Panggung itu seperti kotak pengakuan dosa. Kotak pelampiasan amarah. Tempat apa yang selama ini tertahan bisa ditumpah. Iya, seperti sasak tinju yang tersedia untuk dipukuli. Seperti setumpuk barang-barang berharga yang boleh dibanting. Sekaligus juga seperti boneka beruang besar untuk dipeluki.

Maka, pada panggung itulah kemarahan-kemarahan yang menumpuk itu akhirnya keluar. Pada panggung itulah, teriakan-teriakan yang tertahan itu akhirnya lepas berhamburan.
Kamu bisa senyum, selebar-lebar senyum. Setulus-tulusnya atau sepalsu-palsunya. Kamu juga boleh tertawa-tawa, entah menertawai dirimu atau orang-orang dihadapanmu. Kamu boleh lepas, selepas-lepasnya bebas. Kamu menggebrak. Sampai kakimu sakit, otot-otot beku dan tulang-tulang linu. Sampai baju kamu basah keringatan.


Pada panggung yang panas dan silau membutakan itu, sebenarnya kamu meneriakan protes, Mel. Dengan bahasa yang tidak ada siapapun yang paham.

karena kamu tahu, sebanyak apapun kamu melakukan salah.
di panggung kamu  bisa menutupinya dengan tertawa
dan tetap tidak ada seorang pun yang mencurigai bahwa kamu palsu
sepenuh-penuhnya palsu

No comments:

Post a Comment