October 14, 2012

semacam lintas berita

Hari sabtu kemarin lewat dengan cepat.
Pagi-pagi aku bangun dengan gembira, memasak indomie rebus untuk sarapan yang aromanya bikin ngiler anak sekosan. Udah berapa bulan aku enggak lagi nulis surat. Surat terakhir dari Kak Nadia sejak 5 bulan lalu belum juga aku balas. Tapi sekarang aku mulai rajin baca buku, ke mana-mana, sekarang, aku terbiasa bawa-bawa buku bacaan. Aku baca buku sambil jalan, ketika nunggu orang bahkan juga dalam boncengan. Dan aku mulai berminat lagi pada daftar to-read di goodreads.

Kemarin aku janjian sama Kak Nadia untuk ke radiobuku bersama. Ada wacana untuk wawancara komunitas tari yang kuikuti untuk katalog seni. Belum kusampaikan pada teman-teman. Radiobuku ini juga bersebelahan letaknya dengan Perpustakaan Indonesia Buku. Dari 32,5 kilometer kubik luas kota Jogja, terdapat 207 perpustakaan di dalamnya. Ini kata Kak Nadia, itu, juga kalo aku nggak salah. Dan seperti perpustakaan kebanyakan, Perpustakaan Indonesia Buku juga rasanya seperti surga. Sepanjang siang sampai malam aku merusuh di sana. Sebentar-sebentar menengok Kak Nadia di ruang siaran, sebentar-sebentar ke perpustakaan, sebentar-sebentar duduk di luar, mengobrol dengan Mas Udin. Lalu merengek ke  Kak Nadia minta ditemani nonton orang bikin film di sebelah.

Seharian di radiobuku kemarin, bikin aku sadar bahwa ternyata aku udah cukup lama membiarkan diri suntuk dalam dunia yang terlalu ribut. Ketarik-arus.

Ada rombongan orang dari purwokerto yang saat itu lagi main ke Radiobuku, ialah Mas Gita dengan teman-temannya. Ada orang yang jauh-jauh datang ke tempat ini, aku pikir itu keren sekali.

9 Oktober kemarin hari surat menyurat internasional, udah lewat 4hari tapi aku memutuskan menjadikan itu momentum menulis surat lagi. Jadilah kemarin aku menulis surat untuk 2 orang sambil meminjam 2 perangko milik Kak Nadia. Yang satu kutulis di lembar kartu pos bergambar kereta api, satunya lagi masuk amplop putih.

3 hari setelah hari surat menyurat internasional, Tio dan Kak Adhi berulang tahun. Yang satu adalah adikku, yang kedua adalah orang yang sudah kuanggap kakakku. Tapi hari ini aku dapat sms dari mama bahwa nenek kampung binjai meninggal dunia :'(
Kalau setiap orang hanya punya 2 orang nenek dari ibu dan ayahnya, aku punya tiga. Nenek kampung binjai ini adalah ibu mertua dari kakak mama, atau tepatnya, kakak mama adalah istri kedua yang dinikahi oleh anak pertamanya. Iya, memang sejauh itu tali kekerabatan yang menghubungkanku dengan nenek itu. Tapi kata orang-orang, bahkan selama seminggu begitu aku keluar dari rahim mama, aku sudah dirawat di sana. Masa kecilku juga banyak kuhabiskan di sana.

Sejak kecil aku memang sudah dititip-inap di mana-mana karena mama harus membagi kepeduliannya pada pekerjaan dan tio yang saat itu sedang di kandungnya. Beberapa hari menginap di nenek kampung binjai, beberapa hari menginap di rumah uwak di Handayani, beberapa hari di rumah yang lain lagi. Hehe, ternyata aku memang udah nomaden sejak dari lahir. Tapi di antara rumah-rumah itu, Nenek kampung binjai lah yang paling kuingat. Dulu, di sana aku paling suka bernyanyi-nyanyi di hadapan kipas angin, terpingkal-pingkal mendengar suaraku sendiri yang seperti alien, lalu tanganku tersangkut baling-baling kipas karena penasaran. Saat umurku masih beberapa bulan, di sana aku juga pernah terguling-guling jatuh dari tangga karena terlampau binal.

Bahkan sekarang pun rasanya masih baru kemarin. Melyn kecil yang berlomba dengan Tio naik turun tangga, lalu suara nenek kampung binjai yang meneriakan "jangan lari larian" dari bawah.
:'(


Maka, semoga kamu baik-baik saja di alam yang baru, Nek.
Makasih banyak udah jagain saya jaman dulu yang seneng lari-larian itu.
seharusnya sekarang gantian saya yang jagain kamu, Nek :'( :'( :'(

No comments:

Post a Comment