October 25, 2012

tawar


Maka, inilah terang dan bingar. Riuh dan ramai. Dan semuanya gara-gara Sukab yang bodoh, tolol menyebalkan juga tidak pakai otak.

Aku memutar kursi merah muda yang kududuki, di pandanganku rak rak berputaran, minuman-minuman kemasan, berbungkus-bungkus rokok, orang-orang dengan seragam, orang-orang tanpa seragam, orang-orang berkulit sawo matang hingga cokelat pekat, orang-orang berambut keriting dan yang tidak berambut keriting, yang memakai topi maupun tanpa topi. Lalu lampu-lampu.

Berganti-gantian, orang masuk dan keluar. Memilih roti-roti, lantas membeli kopi. Tapi banyak  juga yang dengan cepat langsung mengantri di kasir untuk membayar rokok serta bir. Sementara aku masih saja diam dalam kursi yang berputar: menyeruput kopi yang panasnya mulai pudar. Menghitung kendaraan yang lewat di jalan kaliurang, check in foursquare dengan wifi gratisan, lantas meng- flight mode hape. Menatap kasihan pada lelaki paruh baya yang teler di dekat parkiran motor sambil mengunyah astor. Jari-jariku rasanya beku.

Dinginnya malam ini bikin ngilu, dingin yang sama yang dulu pernah menjadi candu. Ini sudah lewat tengah malam, seharusnya aku melangkahkan kaki untuk pulang. Tapi yang namanya pulang itu kan adalah perjalanan kembali menuju kenyamanan setelah penat yang hingar bingar. Namun  tentang apa yang disebut  orang-orang dengan rumah merupakan sesuatu yang serasanya saat ini aku enggak punya. Jadi aku melangkah saja. Sembari sibuk sendiri dengan kekosongan yang mengisi kepala.

Orang-orang tentu menatap aneh pada anak perempuan yang berjalan kaki sendirian sambil membentur-benturkan permen cupacups mengikuti irama saman. Lampu-lampu berlesatan di jalan kaliurang. Malam yang pekat kadang-kadang memang bisa menakutkan, tapi memangnya apalagi yang layak kutakuti sementara keberadaanku sendiri sudah cukup mampu membuat ngeri. Dikira orang stres masih lumayan, paling sering malah dikira setan sama tukang sate gerobak dorongan. Toh tidak mengapa, karena memang hanya orang-orang tertentu yang tahu betapa semesta bisa jadi sebening ini di dini hari.

Bagaimana dingin yang pilu bisa berefek seperti candu.

Langit di atas kepalaku warnanya merah dan hening ini membuat betah. Menenangkan adalah ketika akhirnya menemukan jeda setelah suara-suara yang terasa sangat ribut di telinga, bahkan bisingnya menembus sampai  kepala. Hingga kemudian, suara paling ribut dan bising yang dapat kutemukan adalah suara kakiku yang bergesekkan dengan sendal setiap kali berjalan, suara alat masak dari gerobak penjual nasi goreng, dan suara terbahak muda-muda yang mungkin sedang mabuk di kegelapan gang.

Nyaris pukul 3
Sebelum bikin mi rebus telur untuk sahur puasa arafah.

No comments:

Post a Comment