November 30, 2012

Fullmoon Bike Trail


Then mission accomplished!

Bersepeda malam-malam menelusuri jalan-jalan sekitar Keraton merupakan salah satu hal tidak tertuliskan dalam daftar kegiatan yang harus kulakukan mumpung di jogja. Sama sakralnya dengan wajib mencoba angkutan umum di suatu tempat ketika mengelana. Sama sakralnya dengan impian naik balon terbang di Cappadocia. Maka begitulah, gerimis baru saja hilang ketika akhirnya aku memutuskan keluar. Iya, akhirnya aku memaksakan diri tetap pergi setelah menggalau cukup lama karena digoda dengan agenda menyalon dengan Zahra dan Alifa. Setelah nyaris seminggu ini terikat kontrak latian gilak karena jadwal perform 3 kali dalam hitungan 1 minggu,  kesempatan bisa melemaskan otot sembari creambath di salon tentu amat sangat menggiurkan dan susah ditolak kan?

Tapi  yang kulakukan kemudian malah mengayuh sepeda ke Pura Wisata, dengan membawa serta peta Jogja yang aku minta dari seorang karyawan magang di TIC malioboro. Begitu bersemangat karena akhirnya menemukan juga Jalan Ireda. Ini salah satu nama jalan yang telah sekian lama aku cari-cari, di jalan ini pernah berkolaborasi para seniman-seniman dari Apotik Komik dan seniman-seniman anggota CAMP (Clarion Alley Mural Project) yang berasal dari San Fransisco dalam proyek kegiatan yang mereka namakan Together/Sama-sama. Pertama kali aku tahu soal project Together/Sama-sama ini tak lain dari sebuah buku raksasa bergambar+Hard Cover pulak yang kutemukan diantara tumpukan buku-buku di Perpustakaan Indonesia Buku. Itulah, awal mula kelahiran obsesiku terhadap Jalan Ireda demi menyaksikan langsung mural buatan tangan Carolyn Castano dan Megan Wilson. Sayangnya, karena waktu yang sudah dekat Maghrib dan janji makan bersama dengan Kak Nadia, pada akhirnya membuatku menunda kunjungan ke Jalan Ireda.

Aku pun mulai sibuk mencari-cari belokan ke kanan menuju Jalan Mantrigawen Lor. Menurut Google Navigation yang aku mintai pertolongan, inilah rute yang bisa mengantarkanku secepatnya ke Perpustakaan Indonesia Buku, tempat aku dan Kak Nadia janjian bertemu. Pada akhirnya mengandalkan Google Navigation juga agar tidak nyasar kemana-kemana. Kalau begitu, apa gunanya tadi mbawa-mbawa peta kalo ujug-ujug pake Google Navigation juga???*dipitak sama pegawai magang TIC xp

jalan ireda yg legendaris di hati, gambar dari sini
Azan maghrib berkumandang ketika akhirnya aku sampai di Perpustakaan Indonesia Buku. Perpustakaan ini merupakan salah satu TBM (Taman Bacaan Masyarakat) dari sekitar 200 TBM untuk 32,5 km persegi luas kota Jogja. Di Perpustakaan Indonesia Buku ini, juga terdapat Radio Buku tempat Kak Nadia biasa mengudara dari hari Selasa sampai Sabtu setiap pukul 1 siang hingga jam 10 malam. Maka, di situlah aku menghabiskan malam. Duduk di angkringan menontoni siaran pertandingan Indonesia-Singapura bersama Mas Gus dan Kak Nadia yang sedang asik bercerita. Membaca-baca buku di perpustakaan, gelindingan di karpet, mengintip ke ruang siar lalu kembali gelindingan.
Yang seperti ini memang selalu menyenangkan. Kadang-kadang setiap orang kan butuh waktu dimana dia berada di tempat yang berbeda dari lingkungan hidupnya sehari-hari, bersama orang-orang baru yang belum terlalu banyak membuatnya makan hati.

Nyaris pukul setengah 11 malam, aku memutuskan pulang. Mengayuh sepeda sembari merasa seperti penguasa jalanan bersama Kak Nadia. Menelusuri jalanan sekitaran Keraton yang lengang. Melewati Taman Sari, melewati pasar tempat aku pernah memarkir sepeda dalam rangka "One Day Bike Trip: kunjungan museum-museum Jogja dan tempat-tempat wisata lainnya", juga bersama kak Nadia.

Menembus Jalan Malioboro, tikar-tikar para penjual gudeg mulai digelar. Muda-mudi berombongan yang kemungkinan besar turis lokal mulai bergegas pulang. Kereta-kereta kencana yang ditarik kuda sudah pulang ke kandang. Sepeda kami bersisian dengan mobil-mobil pick up dan gerobak pengangkut barang yang menyesaki Malioboro kala siang, baju-baju motif batik dan gelang-gelang etnik.

Langit di atas kepalaku cerah dan bulan sedang purnama. Aku mengayuh sepeda sembari nyengir menanggapi celetukan-celetukan para abang tukang parkir. Tertawa-tawa bersama Kak Nadia menertawai kebodohan kami yang mengapakah bisa begitu selo melewati rel kereta api padahal sirine sudah meraung-raung sejak tadi? Kami kira itu alarm palsu dan kalau saja pintu geser rel kereta kedua tidak kembali terbuka, kami tentu terjebak di tengah-tengahnya dan berakhir dengan terlindas kereta lewat macam di film Final Destination.

Ya, dan lalu begitulah, jalanan gelap tapi tiap tiang bercahaya, kulewati malam dengan kencan bersepeda di bawah purnama. Fullmoon Bike Trail, kalau kata Kak Nadia. :D

2 comments:

  1. jogja dan seisinya memang selalu menarik..pngen bgt menetap di kota itu..

    ReplyDelete
  2. hehe.. jogja kan kota berhati nyaman :D salam kenal :)

    ReplyDelete