November 17, 2012

The Birthday Girl

ternyata ini ulangtahun saya yang ke-21. saya baru tau ini dari alifa
Pagi ini saya bangun pukul 9 lewat dengan mata bengkak namun perasaan yang ringan. Iseng-iseng membuka fesbuk di pagi buta ternyata berhadiah nangis kejer semaleman tepat di hadapan layar akibat membaca message yang mama kirimkan. Seumur-umur belum pernah saya nangis sesegukan begitu cuma karena kepingin pulang. Maka, jadilah.. hari itu saya baru bergerak tidur bertepatan dengan muadzin yang mengumandangkan adzan ngajak subuhan.

Dan seperti yang sudah saya bilang, pagi itu saya bangun dengan perasaan ringan. Lengkap dengan mata bengkak dan merah akibat mata yang kembali meradang. Sewaktu pulang dari mengamen saman saya memang agak membandel, ngebut membawa motor dan tidak menutup kaca helm.

Lalu satu-satunya hal yang ingin saya lakukan adalah berjalan-jalan. Kepinginnya sih, saya ke stasiun dan membeli tiket kereta jurusan manapun yang jadwal keberangkatannya paling dekat. Tapi sore ini masih harus latihan dan besok performe di GSP. Mustahil meninggalkan Jogja saat ini sementara Ica sedang dalam perjalanannya kembali dari Solo demi performe kali ini. Maka, akhirnya saya berjalan saja seperti biasa. Menyetop bis yang lewat paling pertama, lalu duduk di dekat jendela. Kemudian baru menyusun jadwal hari ini mau kemana. Tadinya saya memutuskan melarikan diri ke Solo. Kangen rasanya memanjakan kaki menelusuri sepanjang jalan Sriwedari, lalu mengintip sebentar ke toko buku Gramedia yang sangat berarsitektur Belanda. Makan eskrim dan serabi kemudian menyapa bapak-bapak di pos polisi, baru setelah itu menaiki damri untuk ke kebun binatang.

Tapi akhirnya, klasik seperti biasa, saya malah turun di daerah taman pintar. Berniat membeli eskrim langganan, tapi mungkin abang-abangnya sedang jum'atan. Karena lapar, akhirnya membeli es cendol saja, lalu melahapnya sambil mendengarkan ceramah jum'at dari mesjid di taman pintar. Pembicaraan tentang Gaza belakangan ini sedang hangat-hangatnya. Saya mendengarkannya sambil diam. Sambil juga berpikir-pikir, saya ngapain di sini dan mau ngapain sebenarnya hari ini. Kemudian saya ingat Noura dan kostum putih yang akan dipakai besok. Mumpung nggak ada kerjaan kenapa nggak ke rumahnya saja sekalian mencoba-coba trayek transjogja yang saya belum pernah. Setelah itu, saya bisa ke gembiraloka.

Maka, begitu saja, keputusan serta merta dibuat. Tapi entah kenapa tumpukan buku-buku di pertokoan shopping di hadapan saya begitu memikat. Lalu entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja saya sudah terdampar di salah satu toko. Begitu saja berjongkok dan dengan betah melucuti satu persatu tumpukan buku yang paling dekat dengan koridor tempat orang-orang lewat. Rupa-rupanya di sana saya telah begitu lama sampai akhirnya Noura mengsms menanyakan kak Melyn sudah sampai mana. Saya membalasnya sembari nyengir dan merasa bersalah. Untunglah, ternyata si Noura berniat ke taman pintar juga, maka janji pertemuan pun berubah. Saya menunggunya di sini saja.

Siang itu perasaan saya ringan. Hal-hal yang mengganggu pikiran dapat saya abaikan dengan gampang. It's my day, jadi hari ini saya yang jadi bossnya, jadi jangan harap ada seorangpun yang bisa merusak hari ini dengan seenak-perutnya. Hari ini saya yang mengatur sendiri mood saya. Pokoknya satu hari ini saya cuman bolehnya merasa senang saja =D

Hasil berjam-jam di shopping, saya berhasil membawa pulang 6 buah buku dengan harga sangat miring. Haha.. tapi tetap saja kalau mama tahu saya menghabiskan 140ribu hanya untuk membeli buku, beliau pasti marah-marah. Mama selalu berpikiran, bahwa anak perempuan seharusnya lebih banyak membeli baju dibandingkan membeli buku. Tapi kan bukan Melyn namanya kalo nggak ngeyel, anggap saja keenam biji buku ini papa yang membelikan sebagai kado ulangtahun spesial untuk anaknya yang tersayang. Kado ulang tahun itu kan harus yang bisa membuat yg berulangtahun senang =P

Kemudian, apalagi yang dilakukan gadis yang berulang tahun hari ini selain membaca salah satu buku yang baru dibelinya sembari menontoni anak-anak bermain air dan menyeruput es teh rasa merkisa? Siang itu mendung tapi gerimis belum juga turun, lalu mendadak saya kepingin nonton di planetarium. Sisa seat tinggal 2 ketika saya membeli tiket untuk pertunjukan yang akan diputar 10 menit lagi. Jadilah, saya berjalan tergesa sambil menahan nyeri di pergelangan kaki. Luka di kaki saya itu memiliki sifat sedikit mirip dengan hantu, kadang-kadang sembuh tapi kadang-kadang kambuh. Tadinya saya menitip doa pada seseorang, tapi ternyata boro-boro, jangankan bersedia dititipi doa, menanyakan saya minta didoakan apa saja dia tidak sudi. Padahal saya cuma kepingin didoakan bisa lebih pintar dan tidak penyakitan. :/

Tapi yasudah, saya berjalan sendirian dan terpincang-pincang, tapi yang terpenting hati saya tidak kesepian. Pertunjukkan di planetarium tadi indah. Sore itu saya dihadiahi menontoni langit Jogja tanggal 16 November pada pukul 7 malam nanti (yang sebenarnya selalu sama dan tidak berubah setiap harinya), yang spesial adalah langit Jogja kali ini tanpa polusi. Maka, baru di sana itu saya berhasil mendapati lagi langit mewah yang cuma bisa saya lihat di tempat KKN. Dengan kilau cahaya terang-benderang dan tebaran rasi bintang. Dengan Mars di sebelah barat dan Uranus, Jupiter yang baru menggantung di atas kepala ketika malam beranjak tua. Lalu hujan meteor :))


Pertunjukkan selesai dalam 30 menit kemudian lampu-lampu dinyalakan. Saya menyaksikan pasangan-pasangan keluar sambil berpegangan tangan. Itulah yang biasanya para lover lakukan, kan? Mereka pergi bertamasya dan nonton hujan meteor bersama. Saya melirik kursi kosong di sebelah saya yang tetap kosong dari awal hingga akhir pertunjukkan itu, sebelum akhirnya memutuskan tak acuh. Yang namanya manusia bisa-bisa mati kalau terlalu lama hidup dalam ekspektasi. Maka, saya bangkit dengan rasa tidak peduli. Di luar hujan besar, jadi saya punya waktu yang cukup untuk membuat beberapa catatan. Di kanan-kiri saya duduk pasangan-pasangan. Tapi saya toh sudah terlanjur nyaman dengan sendirian. :)

And this is my day.

Pukul setengah 4 sore saya memutuskan pulang. Saya harus latihan. Jalanan lembab dan becek tapi sebuah sapaan dari bapak tukang parkir yang tidak saya kenal dengan suksesnya membuat hati saya bertambah nyaman. Betapa baiknya Allah sampai-sampai mengutus orang yang tidak saya kenal untuk menghadiahi saya senyuman. :))

Lalu saya pulang menaiki bis jalur 2, kembali duduk di dekat jendela, lalu menghabiskan sepanjang perjalanan dengan membaca. Di luar, langit hitam dan kelihatan penuh, gerimis kembali turun satu-satu. Tiba-tiba saya ingat perkataan Hanip 2 malam lalu. "Apapun itu, yakinkan bahwa keputusan kamu benar. Bahwa kamu memang benar."

Saya melangkah di jalan aspal yang kelihatan licin dengan perasaan ringan. Finally, it's over, and I'm over you, boy. Dengan cara sesimpel-simpelnya cara.

No comments:

Post a Comment