January 8, 2013

Ketika Kamu Bolos Kelas Terjemah dan Kabur ke Solo


Maka inilah dia, ketika suatu pagi kamu memutuskan untuk tidak masuk kelas terjemah lalu kabur ke Solo. Ketika bahkan kamu sudah sampai di kampus tapi hati kamu menolak masuk. Kamu ingin kabur dari penat dan segala hal yang terasa pepat. Ada banyak sampah-sampah di kepala yang ingin kamu buang tapi kamu tidak tahu caranya. Sampai yang akhirnya bisa kamu lakukan adalah memikirkan kekosongan. Lalu satu-satunya yang kamu tahu cuma sesederhana kamu butuh jeda.



Dan Solo masih sama seperti terakhir kali kamu mengingatnya. Selalu ramah dan terasa lapang. Inilah tempat terdekat ketika kamu ingin lari dan tidak mau dikenali. Di sini kamu bisa dengan mudah merasa senang bahkan hanya dengan makan serabi dan mengobrol dengan bapak-bapak polisi.


Lalu selanjutnya kamu nyaris akan selalu berlari ke jalanan ini. Hati kamu selalu tertarik ke sini. Kamu juga tidak tahu apa yang membuat kamu begitu saja jatuh cinta di kali pertama kamu berada di sana. Katakan saja love at the first sight, tidak butuh banyak alasan untuk jatuh cinta pada pandangan pertama, kan? Maka, di sinilah, kamu bisa duduk-duduk menikmati hari sambil makan es krim rasa kelapa harga tiga ribuan hingga bergelas-gelas, di kelilingi tembok putih-tembok putih tua yang sangat khas.






Di jalan ini ada salah satu pasar barang antik paling populer di Jawa Tengah, namanya Pasar Windujenar. Tapi kamu selalu lebih senang memanggilnya dengan namanya yang dulu  meski sangat jarang penduduk sekitar yang mengenali nama itu, Triwindu. Di sini kamu selalu merasa tertarik ke masa lalu, logam-logam uang jaman dahulu, barang-barang dari keramik dan tembaga, sendok-sendok bersejarah juga gramofon tua. 

Kamu selalu berlindung di sini setiap kali matahari di jalanan mulai terasa terlalu membakar. Kamu akan berjalan-jalan sebentar, membiarkan benda-benda lama menghisap gusar yang tidak mau hilang. Lalu kamu serta-merta merasa tenang. Kemudian kamu akan berjalan ke bagian belakang pasar, melewati kios-kios toko yang menjejerkan perhiasan-perhiasan rambut para putri dan permaisuri, menuju sebuah mushola di lantai 3 dari sebuah bangunan yang seperti sekolah. Selalu menyenangkan rasanya berlama-lama di sana. Dinding-dinding dingin yang terasa sejuk di kulit, juga lantai keramik putih. Kadang-kadang akan ada satu-dua murid TPA yang saling mengejar, dan kamu akan menontoni mereka sambil bersandar.


Lalu apa yang terjadi selanjutnya adalah ide yang muncul akibat tidak menyiapkan rencana. Seorang bapak Damri berkumis yang gendut dan ramah merekomendasikan tempat ini untuk dikunjungi: kebun binatang. 

Taman Satwa Taru Jurug merupakan sebuah lahan seluas 14 hektar yang dibangun pada tahun 1878. Letaknya ada di bagian timur kota solo, tepatnya di jalan Ir. Sutami, bertepian dengan sungai Bengawan Solo. Tempat ini dapat dicapai dengan berbagai macam angkutan kota (kurang lebih sekitar 30 menit dari Terminal Tirtonadi, Solo), selain itu alternatif angkutan bus Solo-Surabaya ataupun Solo-Tawangmangu juga dapat menjadi pilihan untuk mencapai Taman Satwa Taru Jurug.

Tempat ini penuh dengan pohon-pohon besar yang rindang. Kamu bisa berjalan dengan tenang di bawah bayang-bayang batang dan dedaunan. Ada telaga buatan dimana orang-orang ramai memancing dan berperahu. Angsa-angsa yang berkeliaran di jalan, juga monyet-monyet di taman. 



 


Sampai kemudian, kamu menemukan hari telah jauh melewati siang dan kamu harus pulang. Sesi kabur hari ini selesai. 



p.s : terimakasih untuk Yusan dan  Zahra  yang entah bagaimana caranya bisa menjawab iya pada ajakan gila yg tiba-tiba. Lalu kita bertemu di shelter depan Kopma :)

1 comment:

  1. bolos kelas dan kabur ke Solo?? :O :O
    gilaaaakk!!! tapi keren!! :O

    ReplyDelete