January 24, 2013

Leaving.

Ada saat-saat yang saya selalu suka, di waktu-waktu senggang ketika kami berkumpul di suatu kamar, sekali-sekali sembari makan begitu tukang delivery datang mengantarkan makanan. Lalu ada random talks, curhat, ngetawain orang, galau tugas, galau skripsi, ngetawain diri sendiri. Ngetawain hidup yang kadang-kadang aneh, lalu obrolan panjang mencari penjelasan dari apa yang kami nggak pernah bisa paham. Kenapa orang menikah bisa cerai? Kenapa orang yang tadinya saling sayang, pacar-pacaran, bisa jadi manusia brengsek untuk satu sama lain? Kenapa Alifa nggak gemuk gemuk? Kapan Fanny bisa lebih kurus lagi? Kenapa Melyn nggak move on move on? Hahaha.. #okeskip

Yang jelas, saat-saat seperti itu selalu menyenangkan. Dan Mahendra Bayu mulai sepi perlahan-lahan.

Saya baru saja pulang sehabis mengantar Mita ke stasiun. Mahendra Bayu semakin sepi dan akan benar-benar sepi begitu Ellen pergi ke rumah eyangnya hari Sabtu nanti.
Setelah Alifa yang pulang paling pertama, disusul Fanny Ariesta. Lalu Bamby yang tiba-tiba sudah hilang karena pulang tanpa pamitan, kemudian Azka, dan dilanjutkan dengan Dame. Kemudian ada Zahra yang berangkat pulang kemarin sore. Dari 18 kamar di lantai atas, jumlah penghuni yang tersisa ada 5, dan akan berkurang lagi dalam 2 hari.

Pagi ini saya membaca 13 posts berlabel mahendra bayu lantas merasa rindu. Takjub sendiri mengulang memori ketika Fanny ulang tahun. Seperti baru kemarin tapi sebenarnya waktu itu sungguh-sungguh melesat. Dan yang tersisa sekarang adalah pikiran-pikiran bagaimana secepatnya bisa pendadaran, lalu kembali pulang.

Tapi ke mana saya akan pulang ketika rumah saya adalah kalian?

Iya, tiba-tiba saja saya merasa takut.

Seumur hidup, saya selalu jadi orang yang meninggalkan. Saya adalah orang yang pergi. Setidaknya begitulah selama ini. Dari satu kota ke kota lainnya. Dari satu pertemanan ke pertemanan lainnya. Dari satu rumah ke rumah yang lain. Yang pertama adalah yang terberat tapi lama-lama saya terbiasa juga. Saya belajar jurusnya. Hidup ini labirin kan? Jadi jalan yang kita lewati akan kita lewati lagi lain kali. Setiap situasi akan kita hadapi lagi suatu saat nanti. Kita belajar cara menghadapinya agar dapat melewati situasi yang sama di masa yang berbeda.

Maka, begitulah. Berkali-kali menjadi orang yang pergi lama-lama membuat saya ahli. Saya sudah hapal rasa sakitnya. Saya juga jadi hapal cara mengabaikannya. Dalam hubungan pun juga seperti itu, lebih baik menjadi orang yang pergi karena begitu saya sudah ahli.

Lantas kenapa tiba-tiba saya merasa takut? Bukankah setiap meninggalkan rumah saya akan selalu menemukan rumah yang baru?

Barangkali ini karena Mahendra Bayu terlalu nyaman,
atau mungkin karena kesadaran bahwa sekali ini saya yang akan jadi orang yang ditinggalkan. 


Sesuatu seperti ini disebut dengan Karma.
Kadang-kadang Tuhan memang seromantis itu untuk membuat  kita paham tentang perasaan orang  -orang yang kita perlakukan.
Yasudah, tidak apa-apa, terima dan nyanyi leaving on a jet plane saja.

3 comments:

  1. kadang benar bahwa kita tidak boleh kelewat nyaman dengan sesuatu yang sepertinya bakal ada dikehidupan kita dalam jangka waktu yang kelewat jelas

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Saya mengalami hal yang sama seperti yang sedang kamu alami, serantau-rantaunya anak rantau tetap akhirnya menemukan rumah tempat ia tidak mau merantau lagi, sayangnya beberapa perantau menemukan rumah dimana banyak perantau yang pasti juga akan pergih.

    Buat saya kos-kosan adalah kamar da jogja ini adalah rumah. Sayang sekali tempat yang dianggap rumah ini cepat atau lambat harus dimaknai lagi sebagai tempat singgah.

    ReplyDelete