February 1, 2013

Allah Ada

Jadi akhirnya, setelah menulis dengan brutal pada post sebelumnya, saya meninggalkan laptop dan meringkuk putus asa. Sedikit-sedikit memikirkan kemungkinan bagaimana jika airmata saya terlanjur membatu akibat tertahan terlalu lama?

Saya ingat suatu malam di kamar Zahra, sehabis tidak sengaja menyaksikannya membanting pintu garasi dengan marah, ketika kebetulan saya sedang berada di bawah dengan Angga. Saya buru-buru ke supermarket dulu sebelum akhirnya masuk ke kamarnya sambil membawa es krim dalam kantong plastik hitam. Saya bahkan masih ingat jelas kata-kata apa yang saat itu saya bilang, "daripada lo nangis meluk bantal mending lo nangis meluk gue", iya, saya bilang gitu sambil pegang bahunya lalu tiba-tiba tangannya sudah memeluk saya.

Kemudian menangis, begitu keras sampe bahu saya ikut juga bergetaran. Tangan kanan saya di antara rambutnya dan tangan kiri saya mengelus punggungnya. "Nggak papa, nangis aja. Udah, nggak papa. Nggak papa kok, nggak papa," bibir saya diam tapi hati saya merapal kata nggak papa berulang-ulang. Saya yakin itu sampai.

Bisa menangis lepas dengan bahu dan tangan yang menyangga dan memeluk kita. Maka, nikmat menangis mana yang kamu dustakan?

Kembali ke malam ini, kembali pada saya yang merana dan meringkuk di kasur. Berusaha nangis tapi enggak bisa karena ketidakberadaan bahu yang tidak saya punya. Lalu tiba-tiba saya ingat dan sadar betapa diri saya begitu bodoh. Saya lupa masih punya Allah. Saya selalu punya Allah. 

Malam itu saya membiarkan Zahra menangis panjang sampai akhirnya dia menganggukan kepala setelah beberapa kali mulut saya merapalkan 'sudah' dengan intonasi bertanya. Lalu saya menyalakan lampu dan bilang 'kamu jangan pernah lagi nangis untuk cowok itu', kemudian saya membuka kantong plastik hitam yang saya bawa dan kami makan eskrim bersama. Sudah agak mencair, tapi setidaknya manis. 

Jadi malam ini akhirnya saya bisa menangis panjang. Mata saya memejam, dan membayangkan Allah memeluk saya sekujur badan, kepala saya di bahunya, bibir saya diam, tapi hati saya berkali-kali bilang, Allah saya lagi sedih.

Lalu entah gimana caranya saya merasa tangan Allah mengelus-elus kepala saya. Dia bilang, "tidak apa-apa".

:)


setelah menghabiskan Lays rasa rumput laut dan
tiba-tiba saja saya merasa tidak akan menangis lagi untuk cowok itu,
ataupun cowok yg itu. :P




Tapi hikmah terpenting dari menangis kali ini adalah
Kamu, Mel, teruslah selalu berusaha ada untuk patah hati patah hati orang lain
jangan pernah takut tidak ada siapa-siapa saat patah hatimu tiba
karena sudah pasti Allah yang akan membalasnya
karena sudah pasti Allah yang akan selalu ada

Maka Nikmat Menangis Manakah yang Kamu Dustakan, Sayang?
:* 

No comments:

Post a Comment