February 1, 2013

Patah 2 Kali

Yang namanya hati seharusnya nggak bisa patah 2 kali kan ya? 
Setidak-tidaknya, tidak di satu hari yang sama.

Sebenernya saya juga nggak tau mau nulis apa. Saya cuma tahu hidup saya hari ini kacau. Pikiran saya kacau. Mood saya juga kacau.
Saya ikut merumuskan orang-orang yang terpaksa ditinggal dalam keberangkatan ke Belgia, hati saya patah. Saya ingin semuanya ikut, tanpa satupun yang tertinggal. Tapi memang selalu ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Betapapun inginnya kita. Kadang-kadang hidup terlalu kejam sehingga manusia tidak bisa menjadi se-ambisius yang ia inginkan. Tapi setidak-tidaknya itu baru sekali patah hati. Yasudah, enggak apa-apa, yang namanya patah hati toh semua orang juga pasti pernah. Buat apa dibuat besar. Tapi rupa-rupanya menemukan daftar nama-nama orang yang terpaksa ditinggal itu untuk terakhir kalinya berubah merupakan kejutan yang tidak disangka-sangka. Memangnya siapa yang akan menyangka? dan kejutannya adalah, tidak ada nama mbak isti dan neng ana di sana. Mereka tidak ikut pergi. Keringat mereka selama ini tertinggal dan menguap di sini.
Hati saya lebih patah lagi. Patah dua kali :'(

Kemudian hal-hal lain pun berdatangan. Saya benci menuliskannya, jadi tidak akan saya lakukan. Menuliskannya membuat saya sakit. Sama sakitnya seperti saat mendengarnya maupun membacanya. Maka yasudah.

Saya percaya hidup itu tidak adil meskipun Tuhan Maha Adil. Maka terima saja. Hidup memang sudah tidak adil dari asalnya.

Jadi mungkin saya cuma butuh dihibur.
Tapi setelah hati-hati patah yang saya hibur, saya tidak tahu harus berlari ke hati patah-tapi-sudah-sembuh-sepertinya yang mana. Saya tidak yakin apa perlu saya berlari ke mereka. Oh saya perlu, tapi bagaimana caranya saya berlari ke mereka? BAGAIMANA CARANYA SAYA BERLARI KE MEREKA?

Ah, saya jadi tahu kenapa selama ini saya selalu berusaha ada di sisi teman-teman yang sedang patah hati. Bahwa saya sejatinya iri. Mereka yang patah hati dan tidak sendiri itu, diam-diam saya kepingin juga bisa seperti itu. Merasa patah hati, lalu berlari ke suatu tempat. Berlindung dalam pelukan yang hangat, membiarkan airmata saya jatuh diserap bahu yang serasa seperti rumah. Kemudian setelah itu, setelah tumpahan kata-kata dan tangis yang entah sebentar atau lama, saya akan merasa baik-baik saja.

Tapi sayangnya, dan fatalnya, saya tidak bisa.

Entah mungkin karena sudah terlanjur lama, yang jelas selama ini saya cuma punya bantal dan cermin, cermin dan bantal. Lalu paling-paling kertas dan pena. Iya, maka ke sana lah muara patah hati saya. Dan yang terakhir doa. Selama ini cukup seperti itu, cukup untuk membuat saya reda kemudian tidur dengan perasaan lega. Tapi bantal, cermin, kertas dan pena cumalah obat untuk satu kali patah hati. Jadi kali ini saya membutuhkan lebih karena hati saya patah dua kali.

Dan sesesat-sesatnya pelarian, paling-paling saya cuma akan berakhir pada kopi dan eskrim. Dan memang saat ini saya butuh eskrim. Ah, bukan! yang saya butuhkan cuma menangis puas sambil mengutuk panjang lebar. Tapi airmata saya tidak mau keluar. Ia tertahan.

Ini semua pasti karena bahu yang tidak ada. Iya, mari salahkan bahu yang tidak ada.
sebab karena tidak ada bahu yang bisa menyerapnya, ia tertahan pada mata.

3 comments:

  1. bahu teman sepertinya cukup baik ko.. :)...

    ReplyDelete
  2. kenapa mbak ana sama mbak isti gabisa ikut mbak? perjuangan mereka lebih dari yang lain. adakah jalan hidup lain yang lebih mereka pilih?

    ReplyDelete
  3. dan menjadi orang yang ditinggal itu rasanya sakit banget.

    Dulu ane pernah mengalami pas kelas 2 SMA, saat penentuan nama-nama yang akan berangkat ke jakarta untuk kejurnas Hockey mewakili jawa tengah. setelah training center hampir 3 bulan. Namaku gak tercantum ke daftar pemain yang diberangkatkan, yang dipilih dr anak kelas dua hanya dua orang dengan alasan "mereka dipilih agar ada regenerasi di tahun depan, dan agar mereka tetap bertahan di tim hockey". Pasca pulang dari jakarta, mereka berdua keluar dari tim dengan alasan akademik.. #duaarrr.... rasanya seperti ditonjok dua kali.

    sakitnya itu gak bisa digambarkan, mau marah marahnya sama temennya sendiri, jadi gak enak... akhirnya mendongkol sendiri.. #grrr...

    tapi rencana Allah itu biasanya manis diakhir, lupakan semuanya, dan berlagak seperti biasa, meski diawalnya sulit.. klo bahasanya raditya dika "Ya Udaah". Ketika di kampus kesempatan yg hilang di SMA, berujung manis di tim Hockey UGM yng membawaku ke jakarta dengan kafilah UGM..

    kalau jadi neng Ana pasti gw udah nyakar-nyakar tembok kampus sampe jebol....

    ReplyDelete