February 4, 2013

Saat Temanmu Patah Hati, Lalu Kamu Ajak Galau Main di Pantai

Katanya, segala sesuatu yang hidup itu memiliki partikel-partikel yang saling mentransfer satu sama lain. Giving and taking


Maka itu lah yang kulakukan begitu menerima sms Kak Nadia. Malam sudah nyaris pukul setengah 11 dan di luar baru saja hujan deras. Menyenangkan rasanya menghirup udara luar setelah seharian bertapa di kamar. Hujan masih belum selesai, malioboro lengang. Lagu We are young-recover Alex Goot yang kuputar di kamar seharian tadi kunyanyikan sekeras-kerasnya. Membelah jalanan. Tidak ada yang mendengar dan itu rasanya menyenangkan. Jalan raya serasanya cuma kamu yang punya. Memangnya siapa yang mau repot-repot keluar pada malam hujan sebegini larut? Tentu saja orang-orang lebih memilih menghangatkan diri di dalam selimut.

Kemudian apa?
Aku menjemput Kak Nadia dan kami memutuskan pergi ke Kedai Kopi. Memesan kopi paling kuat yang tertera di menu, menyeruputnya tanpa gula. Aku menyumpah serapah, tapi kata Kak Nadia itu menyadarkannya bahwa masih ada yang lebih pahit dari cinta. Meskipun menurutku gak ada yang mengalahkan pahitnya cinta. #Eaaa...

Pukul setengah 3 dini hari dan kami sudah siap-siap akan diusir oleh pegawai Kedai Kopi. Tapi Kak Nadia bilang ia tidak mau pulang, jadi aku ajak saja main ke pantai. :))

Di Pantai, gelap dan menakutkan. Ombak menghantam pantai dengan suara besar menyeramkan, sesekali di langit ada kilat yang melesat. Lalu bulan kemerahan yang bersiap tenggelam di sebelah barat.


Tapi kemudian terang muncul  pelan-pelan. Pantai yang sepi perlahan-lahan ramai. Kereta-kereta yang ditarik kuda, juga ATV-ATV yang boleh disewa. Langit yang hitam menjadi biru. Dua orang anak lelaki dengan ugal-ugalan memacu ATV lalu terjungkal di aliran sungai dekat pantai. Dalan keadaan terbalik, mesin ATV mereka meraung tidak mau berhenti, wajah mereka pucat pasi.

Anak laki-laki memang selalu seperti itu, berlagak berani dan merasa mampu melakukan apa saja padahal sebenarnya masih belum apa-apa. Padahal kalau kalah berkelahi masih menangis dan mengadu ke ibunya.


Begitu terang, Kak Nadia memutuskan berlari pagi sementara aku duduk di pantai dengan pikiran yang tidak bisa diam. Sampai akhirnya jam menunjukkan nyaris pukul setengah 8, barulah kami memutuskan pulang.

Pagi itu cuaca luar biasa indah. Awan  yang  begitu putih mengapung di langit yang begitu biru.
Matahari cerah menyinari bumi. Menghangatkan pipi, menghangatkan hati.


Lalu di jalan pulang, kepalaku memutar ulang kata-kata Kak Nadia yang ia lontar pasca tangisnya.
Di antara ribuan kata dalam obrolan panjang kami yang mengular kemana-mana.

1 comment: