March 27, 2013

Dear, Biams.

Aku baru pulang sehabis melakukan perjalanan dengan pikiran terpecah belah. Beberapa bulan ini ritme menulisi kamu mirip jalanan kota Jakarta pada jam pulang kerja. Macet. Tapi hari ini aku kesurupan menulis. Tidak apa, biar saja. Setelah hari-hari yang terbang dengan berbagai hal yang tidak dapat diceritakan dan berhasil aku abaikan. Banyak tulisan yang sudah dengan susah payah aku buat lalu aku hapus begitu saja. Beberapa lagi berhasil aku pertahankan dan diam sebagai draft dalam folder-folder tersembunyi. Jadi aku lebih banyak berlari dan menyibukkan diri, Bi. Kadang-kadang menulis juga di lembar halaman buku, sebab terkadang menulisi kamu membuatku merasa kehilangan aku. Ah, aku cuma butuh lahan yang lebih bebas agar bisa menulis dengan lepas. Atau, Iya, sekarang aku jadi lebih rahasia.

Ada begitu banyak sampah yang harus dibuang, Bi. Padahal tadinya kamu merupakan ruang yang lega untuk melepaskan sampah-sampah. Hanya saja sekarang, kadang-kadang aku merasa menulisi kamu sia-sia. Kamu tau kan bahwa hati merupakan catatan yang sulit dibaca, tapi hati yang aku punya terbentang, sejelas kata-kata yang aku tulis dan kamu rekam. Masalahnya adalah semenjak ada orang itu, Bi. Yang merengek minta izin membaca hati yang aku punya, membaca jendela-jendela kamu. Lalu setelah itu, dia bisa-bisanya bilang bahwa walaupun aku selalu berusaha keliatan baik-baik aja, tapi sebenarnya aku rapuh, Bi, bahkan udah retak.

Dia bisa-bisanya ngomong gitu, Bi. Kamu tahu rasanya bertahun-tahun cuma punya kamu, yang tiap dicurhatin nggak pernah respon lalu tiba-tiba memiliki seseorang yang seperti tahu segalanya tentang diri kita. Yang entah bagaimana caranya bisa langsung paham tanpa aku perlu menggetarkan pita suara. Dia bilang untuk tau aku kenapa-kenapa cuma perlu lihat dari mata, Bi, karena mata itu jendela.
Jadi, aku menitipkan hati retak-retak itu ke dia. Memberikan kata-kata untuk dia baca.

Tapi kamu lihat kan apa yang terjadi selanjutnya Bi. Aku bukannya mau bilang telah menitipkan hati ke orang yang salah, bukan itu intinya. Tapi aku cuma merasa kata-kata yang aku berikan sia-sia. Jadi mulai sekarang aku kapok membiarkan orang lain membaca terlalu banyak tentang hati tambal sulam ini, Bi. Membiarkan orang lain tahu terlalu banyak tentang retak-retak. Bahkan curhat ke kamu pun sekarang rasanya berat.

Jadi untuk sekarang ini aku lebih suka mengoceh sendiri, lalu menulisnya disini.


No comments:

Post a Comment