March 30, 2013

VAKANSI 231: Meru Betiri



Sore itu akhirnya kami sampai juga di Sukamade setelah perjalanan panjang mengendarai truk selama 1.5 jam yang bahkan rasanya seperti berjam-jam. Jarak antara Sarongan dan Sukamade sebenarnya hanya 18 kilometer dekatnya. Kalau saja jalanan yang menghubungkan kedua tempat ini mulus beraspal, mungkin hanya perlu waktu setengah jam. Tapi silahkan coba, jalanan berbatu-batu terjal dan tajam membuat hal tersebut tidak memungkinkan. Selama perjalanan saya dibuat terkagum-kagum dengan pohon-pohon raksasa yang tumbuh di sela jurang-jurang tanpa pagar. Belum lagi monyet-monyet yang berumah tangga di atasnya, siap-siap saja merasakan sensasi air najis jatuh dari langit. Kebetulah, saya dan beberapa teman sedang sial 2-3 kali kena dikencingi monyet-monyet kurang ajar.

Vakansi ke Sukamade sebenarnya sudah jadi agenda utama kami, tim KKN 231 UGM, begitu mendapat kabar ditempatkan di desa Sarongan. Sukamade sendiri merupakan sebuah desa dimana terdapat hutan lindung alam yang juga berhubungan dengan penangkaran penyu. Pengelolaan tempat ini dipawangi oleh pihak Taman Nasional Meru Betiri. Berbagai macam aktifitas dapat dilakukan di tempat ini mulai dari jelajah hutan, pengamatan satwa dan tumbuhan liar, selancar angin, dan yang paling wow adalah melihat atraksi penyu bertelur.

Akses menuju tempat ini masih sangat sulit dan tidak nyaman. Jangan pikir ada mobil-mobil sejenis avanza atau xenia yang mendapukan diri sebagai travel jadi-jadian demi mengantarkan kita ke tempat destinasi wisata seperti di teluk kiluan atau bira. Apalagi begitu melintasi desa Rajegwesi, jalur yang sudah sulit menjadi semakin sulit (ditambah sempit). Tidak hanya batu-batu besar tajam yang potensial membocorkan ban, tapi juga tanah liat licin yang bisa-bisa menggelincirkan kita masuk ke jurang. Medan yang berbukit-bukit menuntut jenis kendaraan yang sesuai. Percayalah, kami bahkan sampai harus melintasi sungai :D

bukan hoax kan kalau saya bilang kami sampai harus melintasi sungai :)


Maka, dengan medan jalanan seperti yang sudah saya deskripsikan, dapat disimpulkan bahwa jenis kendaraan yang sesuai meski sebenarnya tidak ideal adalah mobil truk :P. Mobil truk mobil truk ini tersedia  secara berkala setiap harinya, karena sebenarnya merupakan moda pengangkut barang-barang kebutuhan penduduk Sukamade dari pasar yang ada di desa KKN kami, Sarongan. Jadi dapat diurutkan rutenya  kira-kira begini, pertama-tama dari Banyuwangi, naiklah bis ke Pesanggaran, atau kalau tidak ada bisa juga turun di Jajag untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Pesanggaran atau langsung ke Sarongan dengan bis kecil yang tersedia. Jarak antara Banyuwangi ke Pesanggaran sekitar 60km jauhnya, sedangkan dari Pesanggaran ke Sarongan jaraknya sekitar 20km. Nah, barulah begitu sampai Sarongan (tepatnya di Simpang Pasar) kita bisa menumpang truk-truk pengangkut barang untuk mencapai desa Sukamade.

Motor trek (inget loh motor trek, bukan motor bebek) sih bisa juga dipakai sebagai alternatif. Tapi itu pun pengendaranya harus sudah mencapai taraf kesaktian para penduduk :P Selain motor trek dan mobil truk, sebenarnya ada lagi alternatif lain untuk mencapai desa Sukamade yaitu dengan mengambil paket wisata berjip ria yang disediakan di agen-agen wisata yang ada di Banyuwangi. Kalau pakai paket jip ini sih nyaman, tidak perlu merasakan sensasi terlempar-lempar dengan barang-barang di bak belakang tiap melintasi batuan kasar, tidak perlu takut ketumpahan berkah kencing monyet yang jatuh dari angkasa juga. Tapi, yang biasa jip trip ini ya wisatawan-wisatawan dari luar dengan high budget karena harga paketnya pasti mahal.

Saya sama temen-temen KKN naik truk juga, tapi ini disponsori sama Pak Lurah dan Sekretaris Desa.
Karena cuma 1 truk dan orangnya banyak, semuanya mesti berdiri dan ikhlas muka kena tampar daun-daunan dari tumbuhan yang ada di pinggir jalan. Bahkan ada teman yang kepalanya kepentok batang pohon beberapa kali. Selain itu tangan juga merah-merah karena mesti pegangan sama tali yang dipasang horizontal biar nggak ada yang terlempar ke luar.  Seharusnya sih merana, tapi mungkin karena sebegitunya mendamba liburan setelah pusing ngerjain laporan, semua itu jadi fun :''')))
Nggak cuma monyet dan elang, waktu lagi jalan-jalan mblusukan hutan, saya dan teman-teman pernah papasan sama anak macan. Seriusan loh ini, true story.
Langsung aja waktu itu, kita serentak balik badan pelan-pelan. Itulah kenapa kalau mau jalan-jalan kita mesti banget ditemenin sama bapak penjaga.

Ketemu bule-bule ini di tengah jalan, mereka bawa pulang banyak buah-buahan kayak orang abis panen kecil-kecilan.

saya nggak tau ini kotoran siapa apa.
saya nemu ini di jalan yang kanan kirinya hutan rimba, bentuknya kayak ular kobra.
Selain sebagai taman nasional, Sukamade juga menjadi pusat penangkaran penyu. Hal ini dikarenakan pantai Sukamade dikarunia tekstur pasir yang disukai oleh penyu-penyu dewasa untuk bertelur di pantainya, informasi ini didapat hasil dari wawancara mas-mas penjaga.  Oleh karena itu, dibangunlah beberapa fasilitas sederhana untuk pengembangbiakan penyu agar tidak punah. Beberapa jenis penyu yang ditangkarkan di tempat ini antara lain penyu belimbing, penyu sisik, penyu hijau, dan penyu lekang. Petugas di penangkaran menjelaskan bahwa jenis penyu yang paling banyak ditangkarkan di sana adalah jenis penyu hijau, sementara yang paling langka adalah penyu belimbing.


yang ini penyu hijau

Selama berada di sana, kami tinggal di cottage-cottage ini. Satu rumah berisi 4 kamar yang tidak terlalu besar. 1 kamar dibanderol harga 100ribu (jadi harganya per kamar bukan per rumah) tapi bebas diisi berapapun jumlah orang. Kami dapat 2 kamar gratis dengan kamar mandi yang harus dipakai berbagi dengan 2 kamar lain
Di Sukamade juga belum masuk listrik dan sinyal, listrik cuma mengalir kalau malam itu pun dari tenaga matahari yang ditampung di panel surya. :)


Lalu inilah dia pantai Sukamade. Pukul 5 sore kami mendatangi pantai ini beramai-ramai di saat orang-orang malah bersiap-siap pulang. Rupa-rupanya di pantai ini ada larangan untuk tidak berada di pantai pada saat matahari terbenam. Pantai yang ada manusianya membuat penyu yang tadinya ingin bertelur di pantai merasa tidak aman. Sore itu mendung jadi matahari tidak keliahatan, maka kami memutuskan berjalan-jalan saja sambil membuat foto-foto konyol untuk dikenang, lalu pulang pada pukul enam :)



-to be continued ah, biar kayak sinetron Indonesia-

No comments:

Post a Comment