April 1, 2013

VAKANSI 231: Mama Penyu

....sambungan dari cerita vakansi 231

Kakiku berat. Di sini setiap langkah berarti membenamkan kaki ke dalam pasir untuk kemudian mengangkatnya lagi. Pasir pantai ini menghisap. Aku berjalan sendirian di antara orang banyak, tersuruk-suruk dalam gelap. Entah di mana batas pantai, petunjukku cuma suara ombak yang bergemuruh di sebelah kanan. Beratus-ratus meter jauhnya di depan, orang-orang berkumpul. Bukan mata yang mengatakannya, hanya pikiran yang entah berasal dari mana. Semua orang menuju satu arah, pada cahaya. Ada yang berdua atau bertiga. Berlima bahkan lebih banyak lagi, tapi aku sendiri. Satu per satu orang di sebelahku mendahului, cuma langit dan bintang-bintang di atas kepala yang tidak pernah pergi. Juga suara ombak.

Aku mempercepat langkah sebisanya. Nafas semakin pendek tapi tidak dengan jarak.

Ternyata kadang-kadang rasanya menyebalkan, berjalan ke suatu tujuan sendirian dalam kegelapan, dan akhirnya tidak tahu seberapa jauh. Lalu kehabisan tenaga, tapi tetap tidak bisa berhenti begitu saja. Maka yang menjadi penghiburan adalah langit mewah di atas kepala. Tidak apa-apa, kalau tidak gelap malah langit tidak akan jadi sebegini wah. Dengan serakan bintang-bintang dan lembar biru tuanya yang berkilauan.

Kami semua berangkat jam delapan malam dari cottage. Semua orang berjalan dalam satu rombongan, perempuan, laki-laki, anak-anak, remaja, sampai lansia. Kanan kiri kami hutan rimba, maka satu sama lain saling menjaga, jangan sampai ada yang tertinggal sendirian di belakang lalu hilang diterkam babi hutan. Jalanan gelap gulita, tapi senter-senter di tangan kami menyala. Aku berjalan tersandung-sandung akibat ngotot melangkah sambil tetap menengadah. Terlalu tidak rela menyia-nyiakan pemandangan langit malam yang entah mengapa begitu dermawan. Beberapa ratus meter dekat pantai, lampu-lampu senter dimatikan. Kami semua disuruh berjalan berjongkok ke dekat pintu gerbang. Di sana ada mercu suar dan bangunan putih yang sudah runtuh, lalu diam, menunggu.

Sekilas ini seperti perjalanan menelusup keluar perbatasan di daerah sedang perang, kan? Itu yang aku pikirkan saat kami di suruh diam menunggu dalam keadaan berjongkok di rerumputan. Gelap, dingin dan kami semua harus bicara berbisik-bisik agar tidak berisik. Pura-puranya agar tidak ketahuan oleh para prajurit penjaga pantai, menjaga agar tak seorang pun yang bisa melarikan diri dari pulau. Atau ini bisa juga seperti di buku lima sekawan dalam seri rawa rahasia, anggap saja ceritanya kami sedang memata-matai kaum kelana. :P

Setelah menunggu agak lama, akhirnya kami dipersilahkan juga keluar dari tempat persembunyian. Lampu senter tidak boleh dinyalakan, kami semua berbondong-bondong masuk ke pantai.

Ketika akhirnya aku sampai ternyata orang-orang sudah ramai. Aku tidak bisa memperkirakan seberapa jauhnya titik ini dengan tempat kami bersembunyi tadi, tapi rasa-rasanya aku sudah melangkah beribu-ribu. Belum pernah kurasakan melangkah bisa jadi begitu menyebalkan, ditambah lagi tidak ada orang-orang   yang kukenal. Baiklah, bisa diskip dulu keluh kesahnya. Sekarang dihadapanku ada seekor penyu dewasa yang sedang bertelur di dalam lubang. Orang-orang membentuk lingkaran. Sebelum berangkat tadi kami telah lebih dulu di briefing hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menonton penyu bertelur. Salah satunya adalah tidak boleh menyorotkan lampu dari depan muka penyu.

Sebenarnya saat sedang menontoni penyu satu bertelur, ada satu lagi penyu yang melakukan pendaratan. Tapi karena begitu tahu orang-orang langsung berbondong-bondong mengejar, penyu yang tadinya sudah kebelet melahirkan (telur) itu buru-buru balik badan.

Kasihan, udah pengen bertelur tapi enggak jadi :'(




Menyemangati. Go Mama Go Mama Go Mama! 

 


Bagiku, bagian paling mengharukan adalah ketika penyu selesai bertelur. Tenaga yang sudah habis terkuras untuk mengeluarkan ratusan telur itu masih harus dipakai untuk menutupi lubang sedalam setengah meter-an, supaya calon anak-anaknya aman. Tidak cuma itu, mama penyu juga membuat lubang jebakan beberapa meter dari lubang telur yang asli untuk mengecoh ular maupun binatang-penikmat-telur-penyu lain. Termasuk juga manusia.

Entah kenapa rasanya sia-sia. Apa yang dilakukan si mama penyu ini. Dia menutupi lubang mati-matian. Sampai kehabisan nafas bahkan. Padahal di kanan-kirinya sedang menunggu petugas-petugas konservasi yang nantinya akan mengamankan telur-telurnya. Aku bahkan masih ingat ritmenya, bergerak lima detik, diam 3 detik, mengambil nafas satu kali untuk kemudian bergerak menutupi lubang lagi, lalu 3 detik diam, begitu berulang-ulang. Rasa-rasanya aku kepingin peluk dia lalu bilang udah, kamu nggak perlu sebegitu itunya bersusah payah.

Di saat semua orang foto-foto dengan pamer-pamer gigi, tampangku malah stres begini.
Seandainya aja ada cara untuk njelasin ke mama penyu ini bahwa lubang yang setengah mati ia tutupi akan dibongkar lagi sama petugas konservasi. :'((
Bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena telur-telurnya aman :(
Puk puk penyu

Lihat, penyu sudah mau pulang pun masih aja dikejar-kejar.
Bahkan kata petugas ada yang pernah naik ke atas lalu menduduki mama penyu.
Kau kira penyu itu odong-odong kah? #ngamuk

Tiang ini dipakai untuk menandai lubang telur. Konon, setelah melahirkan, setiap penyu tidak cuma menutupi lubang telur mereka, tapi juga membuat lubang jebakan untuk mengecoh pemangsa telur seperti ular.
Benar saja, tiang penanda ini tegak beberapa meter dari titik terakhir yang ditinggalkan mama penyu. Ternyata itu lubang palsu.
Begitu mama penyu meninggalkan pantai, para petugas konservasi langsung menggali lagi lubang yang ditandai tiang. Dan inilah hasilnya,
176 telur dalam satu malam


Maka, selamat jalan mama penyu. Terima kasih untuk pelajaran berharga setelah perjalanan melangkah dengan susah payah. Semoga kamu selalu dijaga Tuhan dan hidupmu menyenangkan. Semoga telur-telur yang kamu lindungi dengan setengah mati itu bisa hidup dan bertahan lalu kembali untuk bertelur di pantai ini :'")

No comments:

Post a Comment