June 10, 2013

Bi,

Hallo, Bi.
Udah lama rasanya nggak ngobrol sama kamu kayak gini. Kamu apakabar?

Hari-hari belakangan ini hidupku kusut, Bi. Ruwet, kusut, rusuh. Ada beberapa hal yang nggak pengen aku pikirin tapi tetap nyantol di kepala. Seandainya aja kita bisa memilih bagian-bagian mana yang layak bertahan di pikiran kita, ya? Jadi hidup bisa aman-aman saja.

Biasanya sih enggak gini. Kamu tau kan perasaan aku soal menerima curhatan-curhatan dari orang-orang. Aku senang dicurhatin orang-orang, Bi, cerita-cerita mereka bikin aku banyak belajar, bikin aku makin paham sekaligus semakin bingung soal ruwetnya hati manusia. Bikin aku belajar tentang hal-hal yang manusiawi dari seorang manusia. Dan sekusut-kusutnya curhatan mereka sebenernya enggak pernah bikin aku ikut-ikut kusut dan ruwet, kecuali yang satu ini.

Ah, aku mau curhat, Bi. Sebenernya aku mau diem-diem aja biar ayem, tapi ternyata kata-kata yang tertahan itu sebegitu itu mengganggunya. Aku pikir bahkan aku udah nggak punya kata-kata lagi untuk kasus yang satu ini, karena semua kata-kataku udah aku kasihin ke dia. Aku pikir bahkan aku udah enggak punya kata-kata lagi untuk diriku sendiri. Tapi ternyata, tidak memiliki kata-kata untuk diri kita itulah yang bikin kusut dan ruwet. Bingung? aku juga bingung. Haha..

Malah aku percaya bahwa aku bisa-bisa gila cuma karena soal ini.

Paragraf yang kali ini udah berulang kali aku tulis-hapus, Bi. Aku tulis lagi lalu aku hapus lagi. Gimana ya ngejelasinnya. Mau mulai dari mana ya curhatnya. Haha.. aku pernah bilang suatu kali sama Mas Wisnu, kadang-kadang orang tetep nggak bisa cerita segimanapun kepinginnya seseorang itu untuk curhat. Simpel, karena enggak tau harus mulai darimana. Nah, untuk itu perlu dipancing, Bi, biar apa-apa yang tertahan itu bisa keluar. Biar Lega. Tapi sejatinya kamu ini layar laptop yang dengan isengnya sering aku ajak ngobrol. Karena iseng dan butuh juga sih sebenernya. Menceracau. Random. Ya kayak gini. Tapi kamu tau betapa aku benar-benar butuh lega kan, Bi? Karena aku bisa-bisa gila.

Entah kenapa, somehow, nulis menceracau ngobrol sama kamu itu melegakan Bi. Melarikan jari di atas keyboard kamu itu semacam pembebasan. Kemudian, sampai akhirnya mengklik tab publish di dashboard blog ini, ibarat membuang muntahan ke tong sampah. Seperti memindahkan beban-beban di bahu dan kepala, membuangnya entah kemana.

Aku pikir, bisa jadi benar-benar bukan tanpa alasan aku menamai blog ini kantong plastik.