June 6, 2013

H-1

Saya gemetaran memikirkan esok. Pakaian-pakaian masih berantakan. Banyak nyamuk terbang-terbang. Apa rasanya besok? Bangun pagi-pagi pukul delapan lalu mbayar tiket bang Oli. Sekalian meng-check-in  masal tiket  rekan-rekan. Saya belum mandi dari pagi dan hari ini di kampus seharian, pantas dikerubungi nyamuk. Ada begitu banyak hal yang belum dipersiapkan. Tadi Neng Ana telpon dan saya bilang saya takut. Memikirkan besok bikin saya takut.

***

Ini repost dari tulisan yang baru saya temukan di tumpukan draft. Saya buat pada malam sebelum berangkat. Menemukan perasaan takut pada hari setelah semuanya fiks tentu saja merupakan hal yang tidak terduga. Setelah apa yang dengan jatuh bangun kami perjuangkan dalam 6 bulan belakangan. Maka, setelah pontang-panting mengumpulkan dua ratus juta lebih dalam 6 hari untuk 22 kursi yang harus kami lunasi, perasaan yang saya temukan adalah takut. Terlalu sibuk mengumpulkan uang membuat kami kekurangan waktu untuk latihan. Apa jadinya kami nanti di sana? Apa benar akan baik-baik saja? Saya takut kami tidak bisa memberikan penampilan terbaik. Takut membawa nama Indonesia. Takut merepresentasikan Indonesia dengan buruk padahal yang saya mau adalah sebaiknya. Takut hilang nyasar akibat tidak tahu jalan di kampung orang. Takut orang Belgia ternyata rasis-rasis dan tidak ramah. Takut dingin juga.

Saya juga gemetaran memikirkan apa rasanya, ketika nanti, pada akhirnya, menuliskan touch down, Belgia.  Potongan kata terakhir untuk melengkapi kata-kata pendahulu. Semacam meletakkan potongan terakhir pada permainan puzzle yang sudah sangat lama dirakit. Membuat lengkap.


1 comment:

  1. aku juga punya tuh 'penyakit' pobia macem tu.
    kalo mau ada event apa2 tuh suka takut kalo ini ketinggalan, itu ketinggalan, ntar jadi berantakan, dsb dsb

    ReplyDelete