July 13, 2013

Sendang Ngembel, Kuburan dan Hal-hal random lainnya.



"Mending kamu langsung nyebur aja, terus tangkepin ikannya,"
"Susah, mbaakk"

"Di sini bisa berenang nggak sih?"
"Bisa, kok"
"Kamu nggak berenang?"
"Udah tadi,"
"Oh, dalem nggak?"
"Enggak,"
"Seberapa?"
"Segini," *nunjuk leher*
"Itu namanya dalem, Odong."

Jadi hari sabtu di minggu yang lalu itu tiba-tiba Azhar minta ditemani ke Sendang Ngembel. Sendang Ngembel? mendengar sebutannya saja seumur hidup belum pernah, dari namanya saja sudah kedengaran seram. Aku pikir tadinya Azhar mengajak ke sana untuk menemui dukun biar skripsinya lancar atau malah biar segera dapat pacar, haha.. berbagai spekulasi bertebaran antara aku, Zahra dan Alifa.

"Jangan-jangan lo mau ditembak, Mel di sana," Alifa berspekulasi. Aku mengernyitkan dahi, "Iya kali aku ditembak pake senapan beneran terus dilelepin ke air kolam,"

Akhirnya, atas dasar saudara Azhar yang baru saja berulangtahun dua hari sebelumnya, aku mengiyakan juga ajakannya meski yang bersangkutan setiap kali ditanya mau ngapain disana malah sok-sok rahasia. Setengah 12 siang aku dijemput Azhar dan kami pun berangkat. Apa banget emang main berdua doang sama si Azhar, tapi berhubung Alifa jadi penerima tamu di Purna Budaya dan Zahra malah pergi sama Abang Bije otomatis ajakan Azhar yang aneh dan misterius itu sebenarnya memberikan solusi daripada cengo di kosan. Kurang lebih satu jam perjalanan kami memperbincangkan tentang topik-topik terkini di Mahendra Bayu.

Di semester-semester pertengahan dulu, Azhar mungkin satu-satunya makhluk berjakun yang mau-maunya ikut kami main kemana-mana dan tidak merasa kapok. Di saat laki-laki lain biasanya merasa cukup dan akan melayangkan no thanks untuk ajakan kedua, Azhar tetap setia.

Padahal ya kalo main kami suka rusuh dan bikin malu, padahal Azhar biasanya suka disuruh jadi tukang poto, padahal dulu waktu ulang tahun Fanny, Azhar terpaksa lari, tawaf kompleks untuk menyelamatkan diri dari tetangga depan kosan yang murka akibat kami mengganggu ketertiban umum, lari tawaf komplek sambil bawa kue sampe jaketnya disemutin, haha...dan karena sering main itulah, akhirnya secara tidak resmi Azhar terdaulat sebagai juru kunci segala kebusukan kami. Jangan pernah bermimpi bisa punya gebetan dari kalangan teman-teman Azhar, malah kalau bisa segenap pacar maupun calon pacar mari bawa jauh-jauh dari Azhar, bagaimana caranya mereka tidak boleh saling kenal. Azhar mengarsip lengkap segala kehinaan kami, Fannya yg A, Zahra yg B, Alifa yg AB, Azka yg O, Onye yg X, Melyn yg double O.

Begitu juga dengan kutukan-kutukan yang senantiasa kami panjatkan beramai-ramai untuk para mantan, segalanya tersimpan rapi di telinga Azhar. Oh, tapi jangan bayangkan Azhar itu laki-laki separuh yang sedikit-sedikit suka ngondek karena sering bergaul dengan cewek-cewek menye ya, Azhar itu anak Antropologii.. eh apa arkeologi yak? haha.. badannya tinggi besar, rambut keriting gondrong terus kumis dan jenggotan, cuma beda dikit sama buto ijo. Hahak,

jangan bayangkan juga Azhar itu tipe cowok ganjen jd seneng main sama cewek.
Azhar itu pendiem yang banget-banget sampe2 bisa2 dikira nggak bisa ngomong,
bisanya cuma nyengir sama ketawa-ketawa doang.

Well, sekian soal Azhar. Balik soal Sendang Ngembel (baca huruf e-nya kayak bilang beli sama elang), usut diusut ternyata Sendang Ngembel adalah nama kolam buatan di Bantul yang dipakai untuk irigasi pertanian. Sekilas tempatnya memang agak klenik tapi sebenernya cuma tempat buat mancing, berenang sama naroh sajen doang :P

Waktu aku dan Azhar sampai, kebetulan ada dua bocah laki-laki yang lagi mancing di sana, namanya Aji sama something siapa gitu aku lupa, haha.. dan begitu sampai disana terkuaklah maksut Azhar sebenarnya yang ternyata mau hunting foto. Jadi beginilah si Azhar ini saudara-saudara, kesibukannya kalo nggak bolak-balik ketemu dosen pembimbing skripsi ya main ke tempat-tempat klenik sambil nenteng kamera. Mungkin Azhar mengajakku karena mau hunting foto ini juga, mengingat anak Mahendra Bayu yang tersohor soal kebringasan mereka dalam menjadi objek foto di setiap kesempatan. Padahal yang namanya Melyn cuma banci kamera kalo bareng anak Mahendra Bayu aja kan ya, kalo sendirian mah kalem =D #pencitraandulu.


Setelah Azhar mengaku puas mengambil foto-foto kami memutuskan pulang. Padahal belum ada satu manusia pun yang berhasil aku bujuk untuk menceburkan diri ke dalam kolam. Tidak Aji dan temannya yang sedang memancing di pinggir sendang padahal sudah kurayu dengan permen lolipop milkita. Tidak juga Azhar.

Di jalan pulang, Azhar membelokkan motornya memasuki sebuah kompleks pemakaman yang terkenal di daerah tersebut. Orang-orang menyebutnya makam sewu alias makam seribu. Di kompleks pemakaman ini terdapat makam ulama-ulama dan pejuang kemerdekaan yang ramai diziarahi oleh masyarakat sekitar pada hari-hari tertentu. Sejatinya niat Azhar berbelok ke kompleks makam ini adalah hendak menumpang kencing, namun karena rasa penasaran kami ternyata berjodoh akhirnya kami memutuskan untuk naik ke bukit yang terletak di sebelah kiri belakang mesjid. Makam sewu.






 

Ternyata di atas bukit isinya makam! *DIGEBOKIN* wkwkw.. Kompleks pemakaman sepi karena menurut penuturan salah satu warga yang sebelumnya kamu jumpai karena nyasar, baru satu hari yang lalu dihelat ziarah besar-besaran ke makam sewu.
Azhar naik sampai ke paling atas bukit sementara aku terheran-heran menakjubi pohon di tengah-tengah makam yang bagaimana caranya kah bisa tumbuh begitu besar? Padahal ranting-rantingnya seperti mati. Padahal daun-daunnya tidak ada lagi.


Jadi itulah hari yang random bersama saudara Azhar Rachman. Pelajaran hari sabtu ini adalah berhati-hati kalau diajak Azhar pergi lagi karena kemungkinan tempat-tempat klenik macam beginilah yang akan kamu datangi. =P

Salam dukun ceria ;)

2 comments:

  1. kayanya postingan ini terinspirasi dari ramainya berita eyang subur ya? :D

    ReplyDelete
  2. foto-fotonya lumayan. Tempatnya juga cukup keliatan klenik, tapi gak gloomy ya :D
    semog besok-bessok Azhar ngajakinnya ke restoran mahal :D

    ReplyDelete