September 30, 2013

lepas

pict
Saya cuma berusaha menghadapi patah hati yang diam-diam ini dengan tabah. Saya bahkan tidak meluangkan waktu untuk merasakannya. Bisa jadi saya kehilangan sedikit sisi romantis patah hati ala saya yang dulu-dulu itu, menggandrungi dingin menggigit tulang dalam berjalan-jalan dibawah bulan, atau duduk diam di lapangan dekat kosan sambil pura-pura sedang dihibur oleh langit cerah musim kemarau. Saya mungkin sudah mati rasa.

Atau juga barangkali saya sebenarnya tidak terlalu menginginkan kamu sehingga saya jadi sebegini mudah melepaskan kamu. Oh, saya sesungguhnya tidak memiliki apa-apa dari kamu jadi seharusnya tidak ada apapun untuk dilepas, kan? Tapi setidaknya saya pernah mengharapkan kamu. Well, walaupun itu sedikit. Walaupun itu diam-diam. Dan saya pernah setidaknya punya kenangan tentang kita. Walaupun itu memang cuma sedikit. Walaupun memang tidak seberapa.

Sejujurnya saya lebih suka semuanya jelas sehingga saya tau kapan harus benar-benar melepas. Sejujurnya juga patah hati ini bukan yang pertama kali tapi saya masih memutuskan bertahan sampai saat ini. Cuma lambat laun situasi ini jadi benar-benar pathetic dan saya bahkan tidak lagi punya kemampuan mengubahnya jadi sedikit agak hopeless romantic. Jadi akhirnya saya memutuskan melepas.

Saya percaya kita akan menjadi nyata kalau Tuhan menginginkan kita untuk nyata. Saya percaya harapan saya bisa menjadi benar hanya kalau Tuhan menginginkan itu untuk benar. Saya percaya bahwa sejauh apapun jengkal di antara kedua pasang kaki kita di muka bumi, seberbeda apapun dunia yang kita masing-masing hadapi, selalu akan ada jalan kalau Tuhan memang menginginkan itu, bahwa tidak perduli apapun, takdir kita pasti akan bertemu.

Tapi sekarang saya memutuskan tidak lagi bertahan pada perasaan sebelah tangan terhadap kamu, memutuskan harapan saya kepada kamu.

No comments:

Post a Comment