December 23, 2013

EPIC#1 bag.1

Sudah lebih dari seminggu anak laki-laki itu terperangkap di kota ini. Jakarta, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Matanya menatap putus asa pada sekeping dokumen hijau tua seukuran block note di tangannya. Benda itu adalah alasan kenapa ia belum juga bisa kembali berkumpul dengan teman-teman seperjuangannya. Misinya belum selesai.

Kloter terakhir dari rombongan pembuatan visa untuk keberangkatan tim tari mereka telah bertolak 3 hari lalu. Ia satu-satunya yang tertinggal. H min seminggu sebelum keberangkatan dan ia masih luntang luntung di kota ini. Ia mengkhawatirkan latihannya yang kurang. Apa jadinya jika ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia padahal nama Indonesia lah yang ingin ia perkenalkan pada dunia. Apa jadinya jika visa salah satu rekannya ini benar-benar tidak bisa keluar? Bagaimanapun juga tim mereka harus berangkat. 22 orang dan tak kurang.

Ia memandang paspor di tangannya yang semakin lama kelihatan semakin muram.

***

"Kamu ya!" selongsong jari telunjuk mengamuk tepat di depan hidung anak laki-laki itu. Pemiliknya ialah seorang bapak umur 40an yang selama seminggu ini begitu sering ia temui. Bahkan jauh lebih sering dari ibu-bapaknya sendiri.

"Kalau sampai ada apa-apa, saya yang dimarahin sama atasan saya. Saya yang tanggungjawab!" anak laki-laki berusaha tidak gentar dengan bentakan yang ia dengar. Berusaha tidak gemetar dengan badan pemiliknya yang kekar serta kumis yang kelihatan gahar. Seisi ruangan kini menatapnya antara kasihan dan ingin tahu. Anak laki-laki menahan malu.

"Pak, saya perlu bicara sama atasan Bapak. Kalau ada apa-apa saya bersedia tanggungjawab. 21 orang teman saya visanya semua udah keluar dan mereka juga nggak pake appointment online. Tapi kenapa yang satu ini nggak bisa dan uangnya malah dikembalikan, Pak?" jelas si anak laki-laki dengan hati-hati. Seluruh orang di ruangan itu hening, diam-diam sambilan menguping.

"Sudah saya bilang, visa teman-teman kamu yang kemarin itu kesalahan. Pokoknya saya nggak mau tahu, kamu pergi dari sini dan kembali kalau sudah ada bukti appointment!" nada bicara bapak paruh baya itu final. Tidak ada celah untuk diganggu-gugat. Kini seisi ruangan benar-benar menatap si anak laki-laki dengan mata penuh rasa iba. 

Dengan muka tertunduk lesu, anak laki-laki segera angkat kaki sebelum diseret petugas sekuriti. Seorang bapak berambut putih yang dikenalnya saat sholat dzuhur seminggu yang lalu menatapnya iba. Bapak berambut putih itu sebenarnya bekerja di kantor kedutaan ini juga tapi kekuatan yang dimilikinya tidak punya daya apa-apa. Bagaimanapun juga prosedur tetaplah prosedur.

Bapak berambut putih menepuk bahu anak laki-laki itu sebelum berlalu. Mengalirkan kesabaran yang tanpa kata dan kekuatan menghapus malu. Anak laki-laki menatap mata Bapak itu, lantas mengangguk dengan matanya yang lesu. Apa yang ingin disampaikan bapak itu jelas dapat ia baca, anggukannya adalah tanda ia sepakat punya pikiran yang sama.

"Sudah berbadan besar, rambut keriting sangar, tapi malah dibentak-bentak di hadapan banyak orang. Malang nian lah nasip kau, bujang!"



cerita EPIC#1 ini
dipersembahkan untuk Abe atas perjuangannya

No comments:

Post a Comment