January 28, 2014

ceracau

Iya saya tahu saya udah lama nggak nulis-nulis di jendela ini. Tiba-tiba udah akhir januari dan deadline novel saya jadi molor lagi. Sebenarnya saya juga enggak lagi sibuk-sibuk amat, tapi entah kenapa rasanya sedang kehilangan minat. Saya tahu di saat seperti ini yang seharusnya saya lakukan hanyalah sesederhana menulis dengan keras kepala. Tapi ya begitu..

Aih, sebenernya saya bukannya mau berkeluh kesah tentang naskah-terabaikan yang tidak selesai tepat sesuai jadwal. Barusan saya cuma abis pulang ngepo twitternya teman abang saya yang sudah saya putuskan untuk tidak lagi menggebetnya itu. Hais, istilahnya bikin ngilu, gebetan. Saya heran, banyak hal yang terjadi pada hari-hari belakangan ini dari cerita epik sesi pemotretan kover novel lini baru bentang sampai fenomena gempa yang lagi ramai tapi yang menggerakkan saya membuka jendela dan menceracau di sini malah lagi-lagi soal itu. Kisah sedih tentang perasaan yang tidak diperjuangkan itu, yang layu karena putus asa itu.

Lalu sekarang saya cuma merasa sedikit kesepian. Biasanya saya langsung streaming Running Man setiap kali merasa sedih dan kesepian, atau nonton apa kek yang bisa bikin saya lupa lalu ketawa-ketawa, tapi sekarang saya lebih memilih menulis di halaman jendela, mungkin setelah ini saya tetap akan streaming Running Man tapi sebelum itu saya ingin dihibur kata-kata terlebih dahulu. Menghadapi kesedihan saya yang mau tidak mau harus saya akui muncul akibat ceracau kebahagiaan dia.

Saya sama sekali tidak menyesali keputusan saya membuka-buka halaman twitter abang-abang itu, karena setidaknya inilah cara yang bisa saya pilih untuk menangani rasa penasaran saya -kalau tidak bisa disebut kangen-. Bahkan meskipun saya tahu ini pengecut. Saya turut senang sekarang dia bahagia, ikut bersyukur atas hal-hal hebat yang direncanakannya. Saya cuma sedikit kesepian.

Lantas apa yang lebih menyedihkan dari seorang pengecut yang kesepian?

Kalau sudah begini paling-paling saya akan menggandeng lengan boneka beruang 1,1 meter  yang ada di kamar, menyandarkan kepala pada daun telinganya yang sebesar telapak tangan.
Berharap rasa kesepian saya lekas redam.

-

No comments:

Post a Comment