January 5, 2014

Cinta Tersangkut Usia

Lembar malam baru saja turun.  Lampu bercabang tiga pada tiang lampu yang berjejer di depan gedung BNI baru saja dinyalakan, nyala birunya masih kelihatan samar. Aku melirik jam yang menempel di tangan seorang pemuda yang sedang berfoto dengan Anton . Ah, masih satu setengah jam lagi, kenapa waktu bisa-bisanya berjalan selambat ini?
“Ciyeee.. yang nungguin,” suara itu datang bersamaan dengan sebuah siku yang menyenggol lenganku. Sesosok perempuan, memakai baju putih, berambut hitam panjang yang kusut berantakan, dan make up ala kuntilanak telah duduk di sisi kiriku. Sepasang matanya yang dihiasi lingkaran hitam  mengedip jahil, bibir merah berantakannya nyengir.
Ah, selalu ada senyum yang terkembang begitu saja, setiap kali setan-setan ini menggodaku soal gadis itu. Namanya Dara, gadis manis asli Yogyakarta yang sekarang kelas 2 SMA. Seminggu dua kali ia bersama teman-teman sekolahnya melakukan street performance tari aceh di spot nongkrong paling top di kota ini. Di tempat ini juga lah selama beberapa bulan terakhir aku bersama beberapa rekanku melakukan street art performance sebagai manusia patung untuk tugas matakuliah pertunjukan seni jalanan. Kebetulan ini yang membuat kami akhirnya berkenalan.
 “Masih juga kau tunggu gadis penari itu, Dirga?” logat medan Anton membuat pertanyaannya sampai ke telingaku seperti orang marah-marah. Diraihnya sebatang rokok yang sedang dihisap Saras lewat sela kain putih yang meliliti tubuhnya dari kaki hingga kepala, lalu berusaha duduk dengan susah payah akibat kostum manusia ikan yang dipakainya.
Senyumku otomatis terkembang mendengar kata gadis penari yang sudah tentu merujuk pada Dara. Asap rokok yang dihisap Anton melayang di bawah lampu, mengingatkanku pada segenap rindu yang luruh pada gadis itu.
“Dua hari lalu gue nembak dia,” kataku pelan.
Saras dan Anton yang duduk di sebelahku tersentak bersamaan. Kening mereka berkerut-kerut tanda tidak percaya.
“Ah, yang betul kau, Dir?” seperti biasa, reaksi Anton lebih cepat dari Saras. Aku mengangguk cepat sambil menjawab iya.
“Dirga, lo lagi becanda? Dia kan masih anak kecil, ” kata Saras dengan wajah kuntilanak yang mengernyit. Suara paraunya bercampur dengan klakson kendaraan yang beradu di lampu merah dekat kami duduk melesehkan diri.
Aku menggeleng pelan. Anton di sebelahku tertawa-tawa senang sembari menggeleng-gelengkan kepala tidak habis heran.
Yang tidak Saras maupun Anton ketahui ialah bahwa sebenarnya aku sudah beberapa bulan dekat dengan Dara. Hari pertama kami bertukar nama aku langsung mengirim permintaan pertemanan di facebook dan memfollow twitter-nya. Bermula dari sering chat di facebook itulah kami lantas bertukar nomor handphone dan sering jalan bareng. Anton dan Saras bisa-bisa kena serangan jantung kalau tahu sudah sejauh apa aku melancarkan pendekatan pada Dara tanpa sepengetahuan mereka.
 “Gue bener-bener suka sama dia, Ras. Dengan kadar yang lo berdua nggak bakal nyangka. Gue sendiri juga nggak nyangka kalo ternyata bisa sesuka ini sama dia. Dia itu beda.”
Saras mendesah pelan, membuang mukanya ke arah jalan aspal.
“Terus gadis impian kau itu jawab apa boi? Diterimanya kau?” tanya Anton antusias. Rasa penasarannya belum hilang sama sekali.
Mendengar pertanyaannya itu giliran aku yang mendesah pelan kali ini. 

Pada hari saat aku menyatakan perasaanku pada Dara, gadis penari itu menjawab iya saat itu juga, di tempat yang sama, dengan jawaban yang diharapkan oleh semua bujang di dunia yang sedang menyatakan perasaan kepada gadis impian mereka.
Celakanya, yang tidak aku perkirakan adalah begitu aku pulang setelah mengantar Dara, Mama sudah duduk menungguku di ruang tamu. Matanya tajam mempertanyakan siapa gadis belia yang siang tadi berkunjung ke rumah kami. Lebih parah lagi, Mama bahkan menyebut Dara bocah.
“Please, Dirga kamu bilang ke Mama kalau bocah itu bukan pacar kamu. Kamu nggak mungkin kan suka sama anak sekecil itu. Yang bener aja, adik kamu Sheila bahkan masih lebih tua dari dia. Kamu  kalo pilih pacar yang bener dong Dirga. Masa anak kecil kayak gitu dipacarin,” rentetan kata-kata itu pedas, keluar dari mulut Mama dengan nada tidak terima.

Aku menghela nafas, tidak berdaya membalas kata-kata sengit dari mulut Mama. Membayangkan Dara yang kalau saja mendengar langsung semuanya sudah tentu akan terluka. Mama bahkan tidak memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskan, setelah memuntahkan semua kata-kata pedas itu, Mama melangkah menuju kamar meninggalkanku tergugu di ruang tamu dengan hati pilu.

No comments:

Post a Comment