January 29, 2014

The Pianist


Saya baru selesai nonton filmnya Roman Polanski yang satu ini. Film yang tadinya saya kira bergenre horror tentang setan penunggu piano akibat cover filmnya yang lain yang dengan horornya memajang barisan tuts piano bersama tangan panjang menyeramkan melayang-layang. Belakangan, saat saya sedang ramai-ramainya riset tentang Nazi dan WWII, saya baru tahu kalau film ini bercerita tentang yahudi polandia yang berhasil melarikan diri dari ghetto warsawa. Saya udah pernah bilang kan kalau belakangan saya memang sedang keranjingan hal-hal berbau Polandia khususnya Warsawa. Selain The Pianist, saya juga seluncuran mencari download-an filem The Courageous Heart of Irena Sendler yang sumpala susah banget dicarinya, dan beberapa hari lalu saya juga baru selesai nonton The Diary of Anne Frank versi The Whole Story yang diambil dari buku biografinya Anne Frank: The Biography oleh  Melissa Müller. Iya, setelah filem The Book Thief yang juga based on the novel by Markus Zusak yang saya tonton beberapa minggu sebelumnya.

Saya cuma sedang tergila-gila.

Bahkan meskipun saya percaya betapa cerita-cerita holocaust itu sesungguhnya dibesar-besarkan dan jumlah korbannya tidak sebanyak yang diberitakan.

Saya cuma sangat keranjingan pada filem-filem berbau perang dunia kedua itu lantas tersedak sendiri oleh kesadaran betapa ego manusia mampu menciptakan kerusakan yang sedemikian hebatnya. Kemudian menyaksikan luka yang bertebaran seperti debu-debu itu, seluar-biasa apa perjuangan mereka untuk bertahan hidup menjalani masa-masa sulit itu, entah kenapa saya merasa lebih bersyukur pada hidup yang saya jalani sekarang. Betapa pun sulitnya, betapa pun kerasnya.

Bahkan di saat-saat sulit semasa perang itu pun masih ada orang-orang yang rela membantu dengan taruhan keselamatannya sendiri di antara orang-orang yang hatinya menjadi keras akibat peperangan. Menemukan bahwa masih ada cinta kasih di sela-sela dunia yang berlumur benci, saya jadi selalu yakin bahwa bagaimana pun juga hal-hal baik tidak akan pernah terhapus di dunia ini, setidak-tidaknya di hati kita sendiri.


quick posting disela waktu menunggu reda hujan
bersiap untuk datang latihan.

No comments:

Post a Comment