January 7, 2014

WIB, WITA, WIT dan WIM.

gambar dari sini
Saya tetiba ingat pada artikel menulis yang pernah saya baca. Bercerita tentang waktu ideal menulis (WIM) setiap orang. Ada yang prima menulis kala pagi-pagi buta sambil memandangi embun yang masih tersisa di kaca, dengan teman secangkir kopi mengepul asap di samping meja. Ada juga yang jam prima menulisnya dimulai bersamaan dengan turun lembar malam, ketika kamar-kamar mulai padam nyalanya dan orang-orang bergegas menarik selimut.

Tapi ada juga yang seperti seorang kenalan dari sastra Indonesia yang diceritakan Tika, tak lain merupakan juga salah satu cucu dari salah seorang sastrawan kenamaan Indonesia. Teman yang satu ini mengaku inspirasi justru banyak muncul ketika ia duduk berdiam sendirian di Bangku Cokelat, sebuah spot di FIB yang baru bisa sepi hanya jika jam menunjuk pukul sepuluh malam dan satpam-satpam kampus menggelandang mahasiswa-mahasiswa hengkang. Umumnya orang biasa -tak terkecuali saya- membutuhkan tempat sepi untuk menggali-gali inspirasi, tapi ia menikmati menulis di tengah riuh yang memekakakan telinga, di antara lalu lalang orang yang merisaukan mata.

Ya intinya semua orang punya jam menulis prima mereka sendiri-sendiri. Saya sendiri lebih suka menulis malam hari. Pagi buta membuat saya mengantuk dan selalu kelaparan, sementara ramai dan bising tidak pernah gagal membuat konsentrasi saya hilang, jadi saya lebih suka malam. Dengan air putih dan bukannya kopi.

Di film Stardust katanya bintang-bintang selalu melihat tindak-tanduk manusia. Mereka tidur di siang hari tapi bangun dan bersiap-siap bersinar begitu matahari terbenam. Dan mereka paling senang menontoni kita, segala polah manusia dari atas sana, menonton diam-diam saja sambil berkelap-kelip dengan tentram. Jadi menulis malam hari membuat saya merasa ditemani. Bintang-bintang memperhatikan saya sementara jari-jari saya mendongengi mereka tentang kisah-kisah anak manusia.


Tapi kembali lagi kepada artikel menulis yang saya baca.
Ketika kamu tidak memiliki waktu-waktu ideal itu. Maka menulis saja, 
menulislah dengan keras kepala.
Yang terpenting adalah naskahmu selesai,
maka bintang-bintang jadi punya satu kisah lagi untuk didongengkan.

1 comment:

  1. WIM ku sih terkadang selesai subuh, walau agak ngantuk tapi nulisnya ngalir terus hehe

    ReplyDelete