February 1, 2014

Homesick


Saya nggak tahu apa yang membuat saya jadi kangen rumah tiba-tiba.
Jogja beberapa malam ini dingin dengan hawa dingin yang tidak saya suka. Dingin yang saya percaya mampu membuat sakit. Dingin yang membuat saya homesick. 

Aneh rasanya setiap malam pulang sendirian dengan kedinginan akibat menerabas rintik hujan, membuka gembok pintu pagar sendirian, memasukan motor Azka sendirian, mengunci gemboknya lagi juga sendiri. Padahal biasanya saya tidak perlu bergidik ngeri membuka kunci akibat jalan depan kosan yang sudah benar-benar sepi karena selalu ada motor Dara atau Mita yang mengantri di belakang.

Lalu naik ke lantai dua dan menemukan kosan yang semakin sepi. Melewati koridor gelap dengan kamar-kamar yang sebagian besar lampunya padam. Dingin dan kesepian. Apalagi sehabis sesi latihan maupun street performance yang ramai dan gembira, betapa aneh rasanya mengakhiri hari tanpa sapaan selamat malam pada Mita maupun Dara. Begitu saja, kegembiraan yang menyenangkan itu berlalu dan tiba-tiba saya disergap sepi yang mendadak. Ramai yang dihapus gelap, riuh yang ditelan senyap.

Saya jadi paham kenapa Tika kemarin bersikeras untuk segera pindah ke Mahendra Bayu. Setelah kerap mengeluh akibat kosannya saat ini yang seperti mati, yang senantiasa mencekam akibat selalu sepi. Karena memang hakikatnya seperti itu, pada dasarnya setiap orang selalu ingin pulang ke tempat yang bisa dianggapnya rumah, sementara rumah adalah tempat -yang terkadang bisa saja kamu anggap menyebalkan, tapi- kamu tidak akan pernah merasa sendirian.

Lantas diam-diam saya rindu rumah kayu itu. Rindu pada deretan gunung yang memanjang dari timur ke selatan di belakang rumah, pada garis pantai di hadapan beranda yang berkilauan setiap pagi dan dipeluk jingga sore hari. Saya rindu pada riuh ranting pohon mangga yang bergemeletakan menghantam atap rumah akibat ulah angin selatan bulan juli. 

Saya rindu rumah. Tempat yang selalu mampu membuat saya merasa aman, meski kadang-kadang menyebalkan. Yang memang pada kenyataannya tidak pernah bisa sempurna, tapi setidaknya, di rumah selalu ada selimut hangat setiap kali saya pulang kedinginan. Selalu ada orang-orang yang siap mengisi setiap kali hati saya merasa sepi. Saya rindu rumah, rindu pada jiwa-jiwa yang memberi makna pada kata rumah. Pada renyah tawa kami yang pecah di ruang tengah.


 1 Februari 11:57
foto di atas itu senja dari beranda rumah,
taken with camdig without filter.

No comments:

Post a Comment