February 28, 2014

Suatu Masa di Stasiun Pasar Senen

Saat ini lebaran dan saya sedang terdampar di salah satu peron stasiun pasar senen. Kereta yang membawa saya ke kota ini telah hilang sejak satu jam lalu. Meninggalkan saya duduk di lantai, menyelonjorkan kaki sembari menontoni orang-orang yang baru kembali dari shalat idul fitri. Di sebelah saya sebuah carrier 45 liter berdiri pongah, menemani saya yang sama sekali tidak rindu rumah.

Mungkin saya memang sudah jadi sebegitu durhaka karena satu-satunya perasaan yang tersisa di hati saya adalah gembira. Cenderung excited karena –entah ini bisa disebut- cita-cita melewati lebaran dengan cara tidak biasa yang saya idam-idamkan akhirnya tercapai juga.

Iya, suatu kali saya memang pernah bermimpi untuk melewatkan waktu lebaran di negeri yang jauh. Sendirian. Hanya untuk tahu apakah saat itu saya akan kesepian dan rindu ingin pulang. Apa iya saya akan rindu menyantap lontong medan dan opor ayam bersama-sama keluarga besar di kampung halaman. Merindukan sesi shalat bersama yang juga akan menjadi ajang reuni tak terencana dengan teman-teman semasa kecil. Tapi kenyataannya saya sama sekali tidak rindu rumah. Sama sekali tidak ingin pulang.

Kadang-kadang saya bertanya-tanya juga sudah sejahat apakah rumah kepada saya, sampai-sampai saya lebih memilih luntang-luntung di rumah orang lain pada hari lebaran begini ketimbang pulang dan berkumpul dengan keluarga sendiri. Pada titik saat sebagian besar umat manusia di negeri ini berbondong-bondong pulang ke rumah mereka, ke kampung halaman, ke akar dari mana mereka berasal.  Tapi saya malah lari dari rumah. Setengah mati menghindari rumah. Mengabaikan pilihan pulang yang Papa tawarkan dan malah memilih menghabiskan lebaran di rumah sahabat sekaligus teman satu kos saya di perantauan.

Bahkan kalaupun sahabat saya itu tidak menawarkan tinggal di rumahnya, saya sudah akan menggelandang menjelajahi Bali. Kemana pun asalkan tidak pulang.

Saya tahu bahwa hubungan macam apapun bertahan karena memaafkan. Saya juga enggak paham apa ini berarti saya sebegitu pendendam. Yang saya tahu, seperti halnya semua orang di muka bumi ini, saya cuma ingin pulang ke tempat saya bisa merasa nyaman. Ke tempat saya bisa merasa aman.
Karena bukankah sebenarnya itu lah yang disebut sebagai rumah? Tempat aman dimana kamu bisa merasa nyaman, terlindungi dan tidak takut pada apapun. Tempat dimana kamu tidak akan pernah merasa diadili dan bisa menjadi diri sendiri.

Masalahnya, rumah tempat saya pulang setiap kali lebaran bukanlah tempat yang bisa membuat saya merasa seperti itu. Meskipun saya tahu bahwa sejatinya tidak pernah ada rumah yang sempurna. Kadang-kadang atapnya bocor, pintunya rusak dan nyamuknya banyak. Begitu juga dengan keluarga, tidak ada keluarga yang tanpa cela. Saya tahu, saya paham. Saya cuma butuh waktu.

Bodohnya, justru ketika traveling lah  saya malah menemukan perasaan nyaman yang tidak saya temukan di rumah. Sendirian di tempat terasing mungkin tidak membuat saya merasa benar-benar aman, tapi setidaknya mampu membuat saya merasa tenang menjadi diri sendiri. Membuat saya tidak perlu takut diadili.

Saya ingat masa-masa sekolah dulu, saya sering ingin lari dari rumah. Tetapi nyali saya saat itu masih terlalu kecut. Atau mungkin bisa juga berarti hati saya saat itu masih belum sesempit sekarang. Masih belum sepicik sekarang. Hati saya waktu itu masih bisa dengan mudah memaafkan. Karena memang dengan cara seperti itulah sebuah keluarga dapat bertahan; MEMAAFKAN.

Atau bisa jadi, ini malah apa yang disebut sebagai akumulasi ledakan dari apa yang telah terlalu lama dipendam tetapi tidak hilang. Seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa sampah yang disimpan pasti menebarkan bau, begitu juga kebusukan yang dipelihara pasti akan menyebar dan menjangkiti bagian sehat lainnya.

Maka mungkin itu lah yang terjadi pada hati saya.


“Mama malu, kamu nggak tahu apa yang orang-orang bilang tentang kamu,”
“Malu kenapa? Memangnya saya bikin apa?”
“Tapi orang-orang bicara buruk,”
“Terus saya mesti apa. Mama tahu saya nggak salah, ”
“Mama tahu, Mama percaya, tapi orang-orang...”
“Mama seharusnya membela saya kalau memang Mama tahu dan percaya,”
“Kamu nggak salah. Masalahnya adalah apa yang orang-orang pikirkan dan hal-hal buruk yang mereka bicarakan tentang kamu,”
“Terus saya mesti apa? Saya nggak bisa melakukan apapun kalau orang-orang memang mau berpikiran buruk. Saya nggak bisa memaksa orang-orang untuk tidak bicara buruk. Bahkan meskipun orang-orang itu keluarga kita sendiri,”
“........” Mama diam. Mungkinkah kata-kata keluarga kita sendiri yang saya semburkan dari seberang telepon turut memberi efek lesatan pedang seperti yang diberinya pada hati saya. Atau Mama hanya sekedar kehabisan kata-kata.
“Ma, bahkan meskipun darah yang mengaliri tubuh saya masih satu akar dengan mereka, Mama tahu saya tidak punya hak apa pun atas pikiran dan lidah mereka. Tapi saya tahu saya punya hak atas pikiran dan kepercayaan Mama. Dan karena memang saya cuma punya itu,”

Stasiun Pasar Senen mulai sepi perlahan-lahan sementara saya diam-diam menekan dada yang berkarat. Orang-orang berpakaian serba putih yang berjalan ramai dan bergembira di sisi rel kereta tadi telah kembali pulang ke rumahnya. Sementara saya tertinggal di sudut stasiun, masih mengutuki rumah yang mungkin siapa tahu merupakan bentuk lain dari hasrat ingin pulang.

Saya tidak tahu pasti, tapi yang jelas, memangnya saya bisa apa, kalau ternyata rumah lah yang malah terlalu sering memuntahkan komentar-komentar melelehkan kuping. Membuat saya merasa dikhianati oleh kental darah yang mengalir di antara kami. Membuat saya merasa satu-satunya kepercayaan yang saya miliki hilang tertelan oleh desas-desus yang hingar bingar.

Saya cuma tahu saya kepingin lari karena kenyataan saya memiliki keluarga ternyata malah membuat saya menjadi lebih kesepian dibanding sendirian. Jadi saya menolak pulang. Meskipun dengan begitu komentar-komentar akan menjadi semakin bising dan liar. Saya cuma butuh waktu agar hati saya sembuh dahulu karena saya juga tidak ingin terus menerus lari. Karena bagaimana pun juga saya cuma punya satu tempat kembali. 

Maka seorang teman terkasih mungkin akan bosan mengingatkan saya pulang suatu saat nanti. Pesan-pesan singkatnya yang hanya berisi sepatah kata pulang itu mungkin akan berhenti entah karena bosan atau malah kelelahan. Meski tidak pernah saya balas, tapi diam-diam saya selalu punya jawabannya.


Saya pasti pulang kok, tapi nanti.

No comments:

Post a Comment